Berdiam di Rumah dan Menjauhi Kerumunan Massa Itu Sesuai Tuntunan Islam

Berdiam di Rumah dan Menjauhi Kerumunan Massa Itu Sesuai Tuntunan Islam

Posted on

Stay At Home dalam Perspektif Islam

Ketika Covid-19 sudah menjadi pandemi global, para ahli medis merumuskan berbagai strategi untuk pencegahan menyebarnya virus tersebut, mulai dengan cara social distance (menjaga jarak dengan orang lain), menjauhi kerumunan masa, home at stay (tinggal di rumah), sampai lockdown (mengunci akses antar tempat atau daerah).

Tapi masih banyak masyarakat yang belum sadar tentang pentingnya ikut andil dalam melakukan pencegahan penyebaran Covid-19 dengan strategi-strategi tersebut. Sebagian meremehkan dan menganggapnya sepele, entah karena kurangnya informasi atau karena tidak mau tahu.

Padahal dalam Islam cukup banyak petunjuk tentang apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi wabah penyakit.

A. Stay At Home (Tinggal di Rumah)

عَنْ عَائِشَةَ ، رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، عَنِ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، وَأَنَّ اللهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ (وَفِي رِوَايَةِ أَحْمَدَ : فِي بَيْتِهِ ) صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ. (رواه البخاري في صحيحه : 3474(4/ 213) و أحمد مسنده : (26139) 26668- (6/ 251) والبيهقي في الأسماء والصفات : 303 (1/ 376)

Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah penyakit tha’un, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkabarkan kepadaku; Sesungguhnya wabah penyakit tha’un itu adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tetapi Allah juga menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin (yang bersabar menghadapinya).

Maka tidak ada seorang hamba ketika terjadi wabah penyakit tha’un tetap tinggal di negerinya (dalam riwayat Ahmad tertulis : “di rumahnya”) dengan sabar, mengharap pahala dari Allah (atas kesabarannya) dan mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan, melainkan ia akan memperoleh pahala seperti orang yang syahid. (HR. al-Bukhari dalam Shahihnya : 3474(4/ 213), Ahmad dalam Musnadnya : (26139) 26668- (6/ 251) dan al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wash Shifat : 303 (1/ 376))

Terkait hadits ini Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan :

مَفْهُومُ هَذَا الْحَدِيْثِ كَمَا اقْتَضَى مَنْطُوقُهُ أَنَّ مَنِ اتَّصَفَ بِالصِّفَاتِ الْمَذْكُوْرَةِ يَحْصُلُ لَهُ أَجْرُ الشَّهِيْدِ وَإِنْ لَمْ يَمُتْ بِالطَّاعُونِ. (فتح الباري – ابن حجر (10/ 194)

Kesimpulan hadits ini sebagaimana teks haditsnya bahwasanya barang siapa yang bersifatkan dengan sifat-sifat yang tersebut dalam hadits ini, maka ia akan mendapatkan pahala syahid, meski ia tidak mati karena wabah tha’un. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari (10/ 194))

Meski hadits ini berisi tentang wabah penyakit tha’un, tapi isinya dapat diambil pelajaran dalam menghadapi Covid-19.

Oleh karena itu, stay at home atau tinggal di rumah adalah salah satu langkah yang tepat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Di samping itu, juga mendapat pahala dari Allah jika dilakukan dengan sabar.

Al-Hafidz Ibnul Baththal mengutip pendapat al-Imam ath-Thabari ketika menjelaskan tentang hadits kesyahidan orang yang mati karena wabah tha’un, beliau mengatakan :

فِيْهِ الدَّلاَلَةُ عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْءِ تَوَقِّىَ الْمَكَارِهَ قَبْلَ وُقُوعِهَا وَتَجَنُّبَّ اْلأَشْيَاءَ الْمُخَوِّفَةَ قَبْلَ هُجُومِهَا ، وَأَنَّ عَلَيْهِ الصَّبْرَ وَتَرْكَ الْجَزْعَ بَعْدَ نُزُولِهَا ، وَذَلِكَ أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ نَهَى مَنْ لَمْ يَكُنْ فِى أَرْضِ الْوَبَاءِ عَنْ دُخُولِهَا إِذَا وَقَعَ فِيْهَا ، وَنَهَى مَنْ هُوَ فِيْهَا عَنِ الْخُرُوجِ مِنْهَا بَعْدَ وُقُوعِهِ فِيْهَا فِرَارًا مِنْهُ ، فَكَذَلِكَ الْوَاجِبُ أَنْ يَكُونَ حُكْمُ كُلِّ مُتَّقٍ مِنَ الْأٌمُورِ سَبِيْلَهُ فِى ذَلِكَ سَبِيْلَ الطَّاعُونِ. (شرح صحيح البخارى ـ لابن بطال (9/ 423)

Dalam hadits ini ada dalil tentang kewajiban seseorang menjaga diri dari perkara-perkara buruk sebelum terjadinya, menjauhi hal-hal yang dikuatirkan sebelum menyerangnya, bersabar dan tidak mengeluh setelah tertimpanya. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang yang tidak berada di dalam daerah wabah penyakit untuk memasuki daerah terjadinya wabah penyakit, dan melarang orang yang sudah berada di dalam daerah wabah penyakit untuk keluar dari daerah tersebut. Demikian pula wajib, hukumnya setiap orang yang kuatir kepada sesuatu untuk menempuh jalan dalam menghadapinya sebagaimana jalan yang ditempuh ketika menghadapi wabah penyakit tha’un. (Ibnul Baththal, Syarh Shahih al-Bukhari, (9/ 423)

B. Menjauhi Kerumunan Massa Al-Imam al-Auza’i, pakar hadits dari kalangan tabi’in mengatakan:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الزِّنَادِيِّ ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ ، قَالَ : ” الْعَافِيَةُ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ : تِسْعَةُ أَجْزَاءٍ مِنْهَا صَمْتٌ ، وَجُزْءٌ مِنْهَا اعْتِزَالُكَ عَنِ النَّاسِ ” (رواه ابن أبي الدنيا في العزلة 37)

Dari Abu Ayyub az-Zinadi, dari al-Auza’i ia berkata : Kesehatan itu memerlukan sepuluh hal, di antaranya adalah diam dan menjauhkan diri dari manusia. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam kitab Az-Zuhd : 37)

Pesan al-Imam al-Auza’i ini sangat relevan dengan kondisi saat ini bahwa menghindari kerumunan massa adalah salah satu langkah pencegahan penyebaran Covid-19.

Bahkan Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengisahkan tentang dampak buruk berkumpulnya banyak manusia dalam satu tempat ketika sedang terjadi wabah penyakit meski untuk tujuan berdoa bersama, beliau mengatakan :

Baca Juga >  Komandan Banser Sleman dan Kisah Disertasi Istrinya di UGM

فَلَيْسَ الدُّعَاءُ بِرَفْعِ الْبَلاَءِ مَمْنُوعًا وَ لاَ مُصَادِمًا لِلْمَقْدُورِ مِنْ حَيْثُ هُوَ هُوَ أَصْلًا. وَ أَمَّا الْاِجْتِمَاعُ لَهُ، كَمَا فِي اْلاِسْتِسْقَاءِ، فَبِدْعَةٌ حَدَثَتْ فِي الطَّاعُونِ الْكَبِيْرِ سَنَةَ تِسْعٍ وَأَرْبَعِيْنَ وَ سَبْعِ مِائَةٍ بِدِمَشْقَ. فَقَرَأْتُ فِي ” جُزْءِ ” الْمَنْبِجِيِّ ، بَعْدَ إِنْكَارِهِ عَلَى مَنْ جَمَعَ النَّاسَ فِي مَوْضِعٍ ، فَصَارُوا يَدْعُونَ وَ يَصْرُخُونَ صُرَاخًا عَالِيًا ، وَذَلِكَ فِي سَنَةِ أَرْبَعٍ وَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِ مِائَةٍ ، لَماَّ وَقَعَ الطَّاعُونُ بِدِمَشْقَ. فَذَكَرَ أَنَّ ذَلِكَ حَدَثَ سَنَةَ تِسْعٍ وَ أَرْبَعِيْنَ وَ خَرَجَ النَّاسُ إِلَى الصَّحْرَاءِ، وَ مُعْظَمُ أَكَابِرِ الْبَلَدِ، فَدَعَوْا وَاسْتَغَاثُوا، فَعَظُمَ الطَّاعُونُ بَعْدَ ذَلِكَ وَكَثُرَ وَكَانَ قَبْلَ دُعَائِهِمْ أَخَفَّ. (بذل الماعون في فضل الطاعون لابن حجرالعسقلاني (ص: 328 )

“Berdoa agar terhindar dari wabah penyakit itu tidak dilarang sama sekali dan tidak pula bertentangan dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, akan tetapi berkumpul untuk melakukan doa bersama sebagaimana yang dilakukan -dalam shalat Istisqa’- saat dilanda penyakit wabah Tha’un besar-besaran pada tahun 749 H di Damaskus-Syria itu adalah perbuatan bid’ah. Aku telah membaca dalam Juz al-Manbiji setelah penolakan beliau terhadap pengumpulan orang dalam satu tempat. Beliau berkata: “Mereka berkumpul dan berteriak seraya berdoa dengan suara yang tinggi, hal itu terjadi pada tahun 764 H saat wabah tha’un terjadi di Damaskus. Beliau menuturkan, itu terjadi pada tahun 749 H, semua orang keluar ke tanah lapang beserta pembesar-pembesar negeri, kemudian mereka berdoa bersama-sama dan beristighatsah. Setelah itu wabah tha’un semakin membesar dan semakin banyak penularannya, padahal sebelum mereka menggelar doa bersama wabah itu masih ringan.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Badzlul Ma’un Fi Fadhlith Tha’un, hal.328)

Selanjutnya Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengisahkan :

وَوَقَعَ هَذَا فِي زَمَانِنَا حِيْنَ وَقَعَ الطَّاعُونُ بِالْقَاهِرَةِ فيِ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْآخِرِ سَنَةَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَثَمَانِمِائَةٍ، فَكَانَ عَدَدُ مَنْ يَمُوتُ بِهَا دُونَ اْلأَرْبَعِيْنَ، فَخَرَجُوا عَلَى الصَّحْرَاءِ، فِي الرَّابِعِ مِنْ جُمَادَى اْلأُولَى، بَعْدَ أَنْ نُودِيَ فِيْهِمْ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ -كَمَا فِي اْلإِسْتِسْقَاءِ-، وَاجْتَمَعُوا وَدَعَوْا، وَأَقَامُوا سَاعَةً، ثُمَّ رَجَعُوا. فَمَا انْسَلَخَ الشَّهْرُ حَتَّى صَارَ عَدَدُ مَنْ يَمُوتُ فِي كُلِّ يَوْمٍ بِالْقَاهِرَةِ فَوْقَ الْأَلْفِ، ثُمَّ تَزَايَدَ. (بذل الماعون في فضل الطاعون لابن حجر العسقلاني (ص: 329))

Telah terjadi di zaman kita, ketika pertama kali terjadi wabah tha’un di Kairo, Mesir pada 28 Rabi’ul Akhir 833 H, ketika itu orang yang meninggal yang disebabkan oleh wabah tah’un tidak sampai 40 orang. Kemudian orang-orang keluar dan berkumpul ke tanah lapang pada 4 Jumadal ‘Ula setelah dianjurkan terlebih dahulu berpuasa 3 hari sebagaimana yang dilakukan pada shalat Istisqa’, lalu mereka berkumpul, berdoa dan melaksanakan shalat selama 1 jam, kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing. Tidak sampai sebulan berlalu, jumlah orang yang meninggal di Kairo setiap hari mencapai lebih dari seribu orang kemudian semakin bertambah.(Ibnu Hajar al-Asqalani, Badzlul Ma’un Fi Fadhlith Tha’un, hal.328)

Tidak diragukan lagi bahwa meluasnya wabah penyakit seperti dalam kisah yang dipaparkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani di atas adalah disebabkan oleh berbaurnya orang yang sakit karena wabah dengan orang yang masih sehat.

Dari kisah ini dapat diambil pelajaran bahwa ketika sedang terjadi wabah penyakit hendaklah menjauhi berkerumunnya banyak manusia dalam satu tempat.

=======================

Catatan tentang nisbat al-Manbiji
Asy-Syaikh Abul Hasan Ali bin Abul Karam Muhammad bin Muhammad asy-Syaibani al-Jazari menjelaskan :

الْمَنْبِجِيُّ بِفَتْحِ الْمِيْمِ وَسُكُونِ النُّوْنِ وَكَسْرِ الْبَاءِ الْمُوَحَّدَةِ وَبَعْدَهَا جِيْمٌ، هَذِهِ النِّسْبَةُ إِلَى مَنْبِج وَهِيَ إِحْدَى مُدُنِ الشَّامِ وَبَنَاهَا كِسْرَى لَمَّا غَلَبَ عَلَى الشَّامِ وَسَمَّاهَا مَنْبِهْ فَعُرِّبَتْ وَقِيْلَ مَنْبِجْ نَسَبَ إِلَيْهَا كَثِيْرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ. (اللباب في تهذيب الأنساب لأبي الحسن علي بن أبي الكرم محمد بن محمد الشيباني الجزري (3/ 259)

Al-Manbiji itu pembacaanya dengan difathah mimnya, disukun nunnya, dikasrah ba’nya dan setelahnya huruf jim. Kata al-Manbiji ini adalah nisbat kepada kota Manbij, yaitu salah satu kota di Syam yang didirikan oleh Kisra setelah berhasil dikuasainya, lalu ia namai dengan “Manbih” kemudian diarabkan, dan menurut salah satu pendapat ia namai dengan “Manbij”. Banyak Ulama yang bernisbat kepada kota Manbij ini. (Kota Manbij ini tepatnya terletak di timur laut Aleppo di Syria utara, 30 kilometer barat Sungai Efrat). (Abul Hasan Ali bin Abul Karam Muhammad bin Muhammad asy-Syaibani al-Jazari, al-Lubab Fi Tahdzibil Ansab, (3/ 259)
=======================
Semoga Allah segera mengangkat wabah penyakit ini dan memberikan keselamatan kepada kita, anak-anak kita, keluarga kita dan saudara-saudara kita di dunia dan akhirat. Amin.

تحصنا بذي العزة والجبروت واعتصمنا برب الملك و الملكوت وتوكلنا على الحي الذي لايموت اللهم اصرف عنا وعن أهلنا وأولادنا ووالدينا وأصهارنا وإخواننا ومشايخنا و أصحابنا وتلاميذنا وأحبابنا هذا الوباء بلطفك يا لطيف، إنك على كل شيء قدير.

Penulis: Kyai Dafid Fuadi, Ketua Aswaja NU Center PCNU Kab. Kediri dan Tim Peneliti Aswaja NU Center PWNU Jatim.