Bangkrut Yang Sesungguhnya

Bangkrut Yang Sesungguhnya

Posted on

Tiga bulan sudah kita hidup dalam suasana batin khawatir akan terjangkit virus corona. Keadan itu memaksa kita harus banyak berada di rumah. Belajar di rumah, bekerja dari rumah bahkan juga beribadah di rumah. Adanya pandemi covid-19 ini, yang paling terasa dampaknya bagi masyarakat adalah sektor ekonomi. Terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Dampak perekonomian bagi kelompok ini sangat besar. Ekonomi mereka yang setiap harinya hanya ditopang oleh pendapatan pada hari itu juga. Pemasukan menjadi sangat rentan karena ketika mereka tidak bekerja, maka pendapatan mereka juga tidak ada.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Bisa kita bayangkan kalau pegawai informal, pedagang kecil-kecilan, dan orang yang kerjanya serabutan, tentu mereka sangat rentan dengan kemiskinan. Satu hari saja mereka tidak bekerja, maka tidak ada yang dapat dimakan untuk hari itu dan esoknya.

Contoh saudara-saudara kita yang kerja di transportasi online, pendapatan mereka turun drastis karena tidak ada yang mengorder. Begitu juga sektor pariwisata. Jutaan orang yang hidupnya tergantung sektor pariwisata menjadi pengangguran. Jutaan pengelola dan pegawai destinasi parisiwasata kehilangan pekerjaan.

Demikian halnya, sekolah dan kampus yang sudah tutup kurang lebih tiga bulan. Hal ini sangat berdampak negatif bagi semua orang yang hidupnya sangat tergantung pada sekolah dan kampus. Ratusan ribu orang yang berdagang di sekolah dan kampus tidak bekerja.

Demikian juga aktivitas di pondok-pondok pesantren juga diliburkan. Berapa ribu orang yang terlibat di pesantren menjadi tidak berpenghasilan. Seluruh penjual makanan di pesantren tidak bekerja. Seluruh pegawai laundry tidak bekerja. Masyarakat di sekitar pesantren tidak mendapatkan lagi imbas rejeki pesantren.

Keadaan itu telah menjadikan jutaan orang mengalami kebangkrutan. Mayoritas masyarakat bawah, merasakan hidup yang berat, karena mengalami pailit atau kerugian.

Lalu dalam pandangan Agama, siapa yang sesungguhnya bangkrut atau pailit itu?

Baca Juga >  Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan: Mbah Maimoen, Selamat Jalan Kiai Perdamaian

Empat belas abad yang lalu, dalam hadis riwayat Imam Muslim, dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah kalian siapakah orang yang pailit atau bangkrut itu. Para sahabatpun menjawab; orang yang bangkrut adalah orang sudah tidak punya uang (dirham) dan tidak punya harta (mata’). Ternyata Rasul tidak membenarkan jawaban para sahabat itu.

Beliaupun kemudian bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah, orang yang kelak datang pada Hari Kiamat dengan membawa banyak pahala shalat, puasa, zakat, dan haji. Tapi di sisi lain, ia juga membawa beberapa dosa: mencaci maki orang, mengfitnah orang, memakan harta orang (secara bathil), menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Ia kemudian diadili dengan cara membagi-bagikan pahalanya kepada orang yang pernah dizaliminya.

Ketika telah habis pahalanya, sementara masih ada orang yang menuntutnya, padahal pahala sudah habis, maka dosa-dosa orang yang menuntutnya tadi diberikan kepada orang yang tadi punya banyak pahala. Pahalanya sudah habis malah ditambah dosa. Akhirnya, orang itupun dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR Muslim).

Itulah bangkrut sesungguhnya dalam pandangan Agama. Kalau orang bangkrut karena Corona, dia masih bisa pinjam uang kepada teman, famili atau tetangga. Tapi orang yang bangkrut di akhirat, dengan habis dan ludesnya pahala, tidak bisa pinjam atau minta pahala kepada siapapun.

Pelajaran penting dari pesan Nabi di atas agar tidak bangkrut, kita harus baik secara vertikal (hablun minallah), juga baik secara horisontal (hablun minannas). Orang harus taat secara ritual, juga harus salih secara sosial. Semoga.

Penulis: KH Edi Musoffa, wakil Katib Syuriah PWNU DIY.