Arafah, Cermin Padang Mahsyar di Hari Kiamat

Posted on

Oleh: KH Husein Muhammad, Arjawinangun Cirebon

Wukuf di Arafah. Di tempat ini para jemaah haji, dari berbagai pelosok dunia dengan berbagai bahasa, suku, jenis kelamin, warna kulit, tradisi, aliran keagamaan Islam, kebangsaan, jabatan, pangkat, strata social, kaya-miskin dan lain-lain hadir dengan satu warna pakaian; putih, dan potongannya pun sama.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Bagi laki-laki satu helai kain dibelitkan di bagian bawah ketiak dan sehelai lainnya diletakkan di atas pundak. Mereka berdiri di bawah terik matahari yang amat terik bersama-sama menghadap Allah sebagai Penguasa alam semesta Satu-satunya. Kedudukan mereka di hadapan Allah adalah sama.

Simbol-simbol primordial yang dibangga-banggakan dan yang sering menjadi alasan kesombongan dan keangkuhan diri di situ hilang lenyap. Tak ada yang lebih ungggul dan terhormat atas yang lain di hadapan Tuhan. Orang yang paling dimuliakan dan dihargai Allah adalah orang yang paling taqwa, orang yang paling ikhlas mengesakan Allah dan paling banyak amal baiknya, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Arafah juga merupakan gambaran di dunia bagaimana kelak di hari kiamat semua manusia akan dikumpulkan dan menunggu keputusan Allah akan nasib sesudahnya, apakah akan dimasukkan ke dalam surga atau ke neraka. Sama seperti di tempat ini, semua manusia di padang Mahshyar (tempat manusia dikumpulkan) kelak, dalam keadaan tanpa membawa apa-apa dan hanya akan membawa iman dan amalnya masing-masing sekaligus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya selama hidup di dunia, di hadapan Allah swt.

Di sana, tidak ada lagi harta, kekuasaan, kekerabatan, pertemanan dan keluarga yang bisa menolong atau membantunya. Yang bisa membantu dirinya adalah ketulusan hatinya dalam mempercayai Tuhan dan pengabdian kepada-Nya. Allah berfirman :

يَوْمَ لاَ يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونٌ . اِلَّا مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ. وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِين. وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ.

“Hari di mana harta dan anak-anak tak akan berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Dan di hari itu didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertaqwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka kepada orang- orang yang sesat.” (Q.S.al-Syu’ara,[26]: 88-89).

Baca Juga >  10 Hal yang Membatalkan Puasa

Ayat lain menyatakan :

فَإِذَا جَآءَتِ الصَّآخَّةُ. يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ. وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ. وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ. لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Dan bila sangkakala ditiupkan keras-keras
Hari ketika manusia meninggalkan dari saudaranya,
dari ibu dan bapaknya,
dari istri dan anak-anaknya
Setiap orang pada hari itu
Sibuk mengurus dirinya sendiri.