Apakah Al-Qur’an Tidak Menganjurkan Laki-laki Sebagai Pemimpin (02)?

Posted on

Ayat 34 An-nisa‘, menjadi penting, karena ia menjadi medan perebutan tafsir antara satu mufassir dengan mufassir lainnya. Saya tidak menyebutnya antara konservatisme dengan modernisme. Memang kalau menggunakan metode Usul Fiqih, maka penafsiran terhadap ayat ini bisa memenuhi beberapa lembar, dikarenakan beragam sudut pandang akibat kekayaan bahasa yang dikandungnya.

1. Ada yang memusatkan pada kata “ar-rijalu”. Dalam usul fiqih “ar-rijalu” adalah lafad “amm”. Menurut syafi’iyyah ” semua lafad al-amm al-mahsus pasti ada pengeculiannya- maa min ammin illa wa qad khushisha” . Sehingga dapat disimpulkan tidak semua laki-laki menjadi pemimpin, ada juga perempuan yang bisa menjadi pemimpin.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

2. Ada juga yang menfokuskan pada kata “ar-rijal” tapi bukaan dari aspek “lafad amm-nya” melainkan dari “definisi”-nya. Apa makna Rijal?, kenapa tidak menggunaka “ad-dzukur”? apa beda adz-dzukur dengan ar-rijal. Maka muncullah kesimpulan bahwa ar-Rijal adalah jenis kelamin sosiologis, sedang adz-dzukur jenis kelamin biologis. Tidak semua adz-dzukur dalam konteks sosial adalah ar-Rijal. Rijal adalah seseorang yang memiliki sifat Rujulah dan Rujuliyah (kelelakian). Tafsir semacam ini mislanya kita temukan dalam al-bahrul al-muhid: 


البحر المحيط في التفسير (3/ 622)
قِيلَ: الْمُرَادُ بِالرِّجَالِ هُنَا مَنْ فِيهِمْ صَدَامَةٌ وَحَزْمٌ، لَا مُطْلَقُ مَنْ لَهُ لِحْيَةٌ. فَكَمْ مِنْ ذِي لِحْيَةٍ لَا يَكُونُ لَهُ نَفْعٌ وَلَا ضُرٌّ وَلَا حُرَمٌ، وَلِذَلِكَ يُقَالُ: رَجُلٌ بَيِّنُ الرُّجُولِيَّةِ وَالرُّجُولَةِ. وَلِذَلِكَ ادَّعَى بَعْضُ الْمُفَسِّرِينَ أَنَّ فِي الْكَلَامِ حَذْفًا تَقْدِيرُهُ: الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ إِنْ كَانُوا رِجَال

dikatakan, yang dimaksud ar-rijal dalam ayat ini adalah orang yang memiliki daya tahan dan kemampuan inovasi, bukan asal orang yang memiliki jenggot. Banyak orang yang memiliki jenggot, tetapi tidak ada gunanya, tidak punya kemampuan inovaasi yang teguh….sebab itu sebagian mufassir menyaatakan, dalam ayat ini ada yang dibuang, jika dinyatakan berbunyi “laki-laki menjadi ‘pemimpin’ perempuan jika ia benar-benar laaki-laki”.

3. Ada juga yang memusatkan pada huruf jar “ba” dalam lafad bi maa anfaquu. Huruf “ba” dalam usul fiqih memiliki banyak makna, antara lain “li as-sabab”. ini berarti , laki-laki menjadi pemimpin, sebab ia memberi nafkah dan memiliki kelebihan pengetahuan. laki-laki jadi pemimpin bukan karena jenis kelamin laki-laki, tetapi karena dua alasan diatas. Maka jika sebaliknya, maka berlaku sebaliknya.

Imam Nakha’i, Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo.