pemimpin

Apakah Al-Qur’an Tidak Menganjurkan Laki-laki Sebagai Pemimpin (01)?

Posted on

Di Indonesia laki-laki menikmati sebagai pemimpin dan pemegang kekuasaan peran publik. Posisi ini sulit digeser karena dibentengi oleh budaya dan doktrin-doktrin Agama. itulah yaang disebut budaya patriarkhi yang didefinisikan ”

sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti”.

Budaya patriarkhi telah hidup sejak sejarah kemanusiaan itu sendiri. Dan berlangsung terus menerus bertumpang tindih dengan perebutan kekuasaan dan dominasi.

Budaya Patriarkhi juga melewati masyarakat Arab jahiliyyah yang ditandai otoritas laki-laki atas “nafakah” dan ” pengetahuan” . Fakta inilah yang di “informasikan-khabarkan” oleh al-Qur’an “Ar-rijalu qawwamuna ala an-nisa’….” laki-laki adalah qawwam perempuan, karena ia memberikan nafkah dan karena kelebihan yg dikarunikan Allah.
Jadi ayat ini, menurut ilmu gramatika adalah kalam “khabar” -informatif, bukan kalam “insya’”-perintah atau anjuran. Ayat ini sedang menginformasikan fakta sosial sistem keluarga yang terjadi ketika itu.

Bagaimana kalau fakta sosial berubah? Misalnya, Dimana Perempuan menjadi pencari Nafkah, atau Allah mengkaruniakan kelebihan pada perempuan. Masihkah laki-laki memiliki hak “QIWAMAH”?

Jawaban pertayaan ini bisa berbeda beda, tergantung perspektif penjawabnya. namun jawaban apapun penting dihormati, karena al-Qur’an memang membuka ruang “banyak makna”.

Imam Nakha’i, Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo.