saya pernah ekstrim

Saya Pernah Ekstrim, Untung Tak Seekstrim Itu (02)

Posted on

Delapan, aaya yang pada dasarnya mudah mengagumi dan mencintai orang baik ini, tahun 2007 mulai mengenal sosok yang sangat mengagumkan. Momen mudik keluarga besar ke tanah leluhur saya, kota Solo-Jawa Tengah waktu itu. Kisah pendek tentang betapa perhatiannya walikota mereka kepada wong cilik seperti sang penutur, penjual nasi liwet kakilima yang sedang kami belanjakan dagangannya.

Tahun 2012 sang walikota yang sangat saya kagumi karena kinerjanya di Solo dan keluhuran budi pekertinya itu, maju sebagai cagub di DKI Jakarta. Tentunya saya sangat mendukung beliau. Tapi anehnya partai kecintaan saya justru berseberangan sekali dengan jagoan saya ini. Kalau di putaran pertama, saya bisa memahami, karena partai kecintaan saya ini punya jagoan sendiri, yang ternyata kalah telak. Tapi kenapa di putaran kedua malah mendukung lawan dari jagoan saya ini? Padahal di putaran pertama, partai ini jelas-jelas menunjukkan anti kepada petahana.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Disitu saya limbung. ‘Untung’ ustadzah saya menjelaskan, tidak mengusung jagoan saya karena wakilnya non Islam, dikuatirkan jagoan saya tak bisa melanjutkan jabatannya, berarti yg menggantikan nanti orang ‘kafir’
Okeee…saya manggut-manggut, tapi tetap mendukung jagoan saya. Dan alhamdulilah, atas ijin Allah, jagoan saya yang diusung oleh koalisi rakyat, karena hanya 2 partai yang mengusung, menang melawan petahana yang diusung koalisi partai

Tahun 2014 saya masih mencoblos partai nganu. Sang Gubernur DKI yang sangat saya kagumi menjadi salah satu capres. Saat masa Pilpres 2014 itulah, saya kaget bukan kepalang menyaksikan kelakuan para kader dan simpatisan partai kecintaan saya itu yang selama ini saya kenal sangat santun, tiba-tiba brutal berkampanye hitam, atau minimal nyinyir tentang orang yang saya kagumi karena kinerja dan budi pekertinya sejak masih menjadi Walikota Solo itu.

Baca Juga >  Kyai Tanpa Pesantren, Laku Sufi dalam Sebuah Karya Fiksi

Singkat kata, atas ijin Allah, jagoan saya terpilih menjadi Presiden RI. Lalu apakah kenyinyiran para kader dan simpatisan partai nganu berhenti? Seharusnya iya, karena muslim yang baik wajib beriman kepada takdir Allah, dan Allah mentakdirkan jagoan saya menjadi umaro di Indonesia. Dan muslim yang baik diwajibkan juga menghormati ulil amri.

Tapi yang terjadi malah jauh panggang dari api. Partai nganu, kader dan simpatisannya, bukan sekedar nyinyir dan menebarkan kebencian kepada Presiden kecintaan saya, tapi terus menyebar fitnah tentang beliau dan berbagai kebijakan beliau sampai hari ini. Naudzubillahimindzalik.

Selamat tinggal partai nganu. Alhamdulillah melalui Jokowi, Allah melimpahkan hidayah kepada saya, menyelamatkan saya dari sikap ekstrim.

Sebagai mantan simpatisanmu, wahai partai nganu, saya hanya bisa berdoa, semoga Allah melimpahkan hidayah kepada kita semua, memberi petunjuk jalan yang lurus, yang menjadi pegangan dalam langkah kita menjadi ‘agen’ Allah dalam menebar rahmat di muka bumi, sebagaimana hakikat Islam diturunkan.

Tapi kalau kamu tetap memilih untuk menjadi seperti sekarang, doaku semoga Allah segera ‘menenggelamkanmu’ seperti layaknya Firaun ditenggelamkan.

15 Mei 2018.

Penulis: Satyowati Pancasiwi