Pesantren

Yuk, Tengok Geliat Pon. Pes. Al Mahabbah di Piyungan, Bantul

 foto 1

Kiai Machfudzin, Pengasuh Pon. Pes Al Mahabbah

Membangun pondok pesantren bukan perkara yang mudah. Membangun pondok pesantren tidak sekedar membangun bangunan pondok, tetapi juga membangun mental, ahlak, budi pekerti dan membangun kesiapan diri. Semangat itulah yang dibangun Pondok Pesantren Al-Mahabbah yang terletak di Dusun Kembangsari, Srimartani, Piyungan Bantul. Menurut penuturan Kiai Machfudzin, nama Al Mahabbah hanya bersifat sementara. Nama itu sebenarnya nama sebuah TPA yang sudah terlebih dahulu berdiri.

“Kedepan, ketika semua sudah mapan, baru sowan ke mbah kyai meminta masukan nama pondok yang tepat. Sementara, masih menggunakan nama TPA, Al Mahabbah,” tutur kiai jebolan Pesantren API Tegalrejo tersebut

Ketika ditemui Bangkit di kediaman, Kiai Machfudzin menceritakan sejarah awal mula pondok ini berdiri. Setelah lulus dari Pondok Pesantren Api Tegalrejo Magelang, ada seorang yang datang kepadanya ingin menimba ilmu dan mondok di tempatnya. Waktu itu, dengan halus Kiai Mahcfud menolak dengan alasan belum mampu dan belum siap. Pernah juga suatu kali datang santri dari Jepara dua orang dan dari Wates dua orang. Lagi-lagi Kiai Mahcfud menolak dengan alasan yang sama.

Tahun 2013, datang lagi seorang santri dari Brebes yang terus memaksa agar diijikan untuk mengaji dan mondok di tempat Kiai Machfud. Berkat desakan dari anak muda tersebut, Kiai Machfud lalu teringat pesan kyainya dulu. “Jika besok di rumah ada yang minta ngaji, walaupun satu dua, dua, tiga, meskipun hanya alif, ba’, ta’, ajarilah,” ungkap Kiai Machfud menirukan pesan kyainya dulu saat masih mondok.

Santri yang baru satu itu kemudian diijinkan tinggal di rumah Kiai Machfud yang sederhana yang berdiri di atas tanah wakaf yang juga digunakan sebagai tempat Mujahadah. “Sudah delapan tahunan, di Kembangsari ada malam kamis legi terdapat Mujahadah. Jumlah jamaah yang hadir mencapai 2.000 sampai 2.500 jamaah,” tegas Kiai Machfud

Dengan tekad ingin mengembangkan pondok pesantren, Kiai Machfud kemudian membeli sebidang tanah. Tanah itu dibeli dari hasil menjual tanah warisan dari keluarga Kiai Machfud. Kiai Machfud menuturkan bahwa tanah yang dibelinya tersebut difungsikan untuk dua hal, yaitu diperuntukan untuk pondok dan mujahadah malam Kamis.

Setelah tanah terbeli, dan pembangunan pondok dilakukan secara perlahan santri-santri mulai berdatangan. Hampir sebagian besar hasil penjualan tanah warisan Kiai Machfud dialokasikan untuk pembangunan pondok. “Mencoba belajar ikhlas dan belajar sabar mbak. Santri yang mondok di sini adalah anak orang lain, yang diamanahkan kepada saya. Jika saya mementingkan pesantren, saya yakin Allah akan mementingkan saya juga. Sebaliknya, jika mendahulukan rumah saya, itu berarti keimanan saya dipertanyakan,” kata Kiai Machfud.

Kiai Machfud menuturkan bahwa dirinya awalnya tidak pernah berfikir apalagi berangan-angan memiliki pondok pesantren. Hingga saat ini, beliau tidak pernah juga mengajukan proposal bantuan dan sejenisnya. Sedari awal ia sudah memegang prinsip pantang meminta proposal. Hal itu bukannya halal, haram atau tidak dibolehkan. Baginya, meminta bantuan dan akhirnya diberi itu memiliki tanggung jawab dan amanah yang sangat besar. Beban inilah yang mendorong Machfud tidak meminta-meminta pada manusia.

Sebelum mendirikan pesantren, Kiai Machfud yang kini sering diundang untuk mengisi ceramah di berbagai tempat ini rajin berkelana dan berziarah ke makam-makam para wali. Ia memiliki prinsip bahwa pangkat dan derajat itu hanya sampiran.

“Santri itu titipan, pondok itu juga titipan, label masyarakat itu juga titipan. Sisanya, takdir dan ketentuan serahkan pada Allah. Orang yang kaya itu bukan yang bondo donyo, tetapi yang memiliki keyakinan yang kuat. keyakinan terwujud atas dasar ilmu,” papar Kiai Machfud.

Saat ini, pondok yang diasuh langsung oleh Kiai Machfud memiliki 50 santri. Santri-santri tersebut berasal dari dari berbagai daerah. Sistem yang digunakan pada pesantren ini mengacu ke kurikulum Pondok API tegalrejo, Magelang.

“Rata-rata santri yang mondok masih pelajar, SMP dan SMA/SMK. Bagi santri yang masih sekolah disalurkan ke sekolah di bawah naungan NU yang ada di Srimartani,” jelas Kiai Machfud.  (Elisa)