anies baswedan
Tokoh

Surat Cinta Untuk Pak Anies Baswedan

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Salam hormat.

Semoga Pak Anies sekeluarga senantiasa dalam keadaan sehat, sukses dan bahagia selalu, amin. Pak Anies yang saya hormati, saya mengucapkan selamat atas dilantiknya bapak sebagai Gubernur DKI Jakarta beberapa pekan lalu. Semoga menjadi pemimpin yang menjaga amanah dan mencintai rakyatnya. Bapak Anis, saya menulis surat ini karena rasa cinta saya kepada bangsa Indonesia. Karena cinta saya kepada persatuan dan kesatuan bangsa.

Pak, saya salah satu penggemar bapak. Bagaimana tidak, saya menekuni dunia pendidikan dan bapak bagi saya adalah tokoh pendidikan. Saya jadi ingat ketika ada gerakan “Indonesia Mengajar” ingin sekali mengikuti program itu. Saya membayangkan betapa hidup saya akan bermakna ketika saya bisa memberi kebahagiaan kepada anak-anak Indonesia di pelosok-pelosok daerah yang minim akses pendidikan. Sungguh, gerakan yang Bapak inisiatifkan itu Keren! Saya pun tidak heran kalau Bapak saat itu terpilih jadi menteri pendidikan dan kebudayaan. Menjadi menteri pendidikan adalah salah satu impian saya Pak, minimal menteri pendidikan di keluarga saya sendiri, hehe…

Namun, ketika ada perhelatan Pilkada DKI Jakarta suasana hati saya tiba-tiba berubah. Mungkin saya salah satu orang yang sedih ketika bapak memilih jalur politik. Memang tidak ada salahnya kita mengabdi pada negeri melalui jalur apapun, bisa pendidikan, bisa pula politik. Tapi entah Pak, saat itu saya sedih.

Hiruk pikuk Pilkada Jakarta menguras banyak energi dari berbagai pihak, bahkan warga di luar DKI. Pak Anis, perdebatan melelahkan itu sampai hinggap di grup Whatsapp keluarga dan komunitas saya. Mereka saling mempertahankan argumennya, hingga terkadang lupa bahwa mereka sedang berbicara dengan sahabat atau keluarganya sendiri. Pak Lek saya bilang A, Pak De saya bilang B, sepupuh saya bilang A, sepupuh yang lain bilang B. Ada apakah ini? Yang satu menyalahkan yang satu membenarkan, yang satu membenci yang lain mencaci. Sungguh, saya sedih melihat fenomena ini.

Kemudian, hari terus berlalu hingga bapak terpilih menjadi Gubernur dan dilantik pada tanggal 16 Oktober 2017 lalu. Saya menghela nafas lega, saya berpikir sudah usailah perdebatan yang bisa memecah belah bangsa. Namun, nafas lega saya seakan tersendat ketika mendengar sambutan pertama bapak sebagai Gubernur DKI. Ada sebuah kata yang mengganjal saat itu, ya kata “Pribumi”. Awalnya saya anggap lalu, tetapi dalam hati ada kekhawatiran tersirat. Ternyata benar pak, kekhawatiran saya terbukti. Kembali masyarakat mendebatkan kata “Pribumi” yang bapak sampaikan kepada warga DKI dan seluruh Masyarakat Indonesia yang mendengarnya melalui tayangan live, seperti saya ini.

Perdebatanpun mulai besar ketika banyak media yang membubuhi dengan percikan-percikan lainnya. Ada yang membela Bapak, adapula yang menyayangkan kalimat Bapak. Memang saya pernah membaca bahwa:  Semua pejabat negara dan kita warga bangsa, hindari pakai istilah “pribumi”. Hal ini tertuang dalam UU No 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis. Kemudian hal ini juga diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah “Prbumi” dan “Nonpribumi” dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyelenggaraan Pemerintahan.

Mereka itu Satu “Ummah”

Pak, saya jadi teringat sejarah Nabi Muhammad SAW ketika membangun Madinah. Saat itu puluhan tahun terjadi pertentangan sengit yang tak kunjung usai antara Bani Aus dan Bani Khazraj di Yatsrib atau yang sekarang kita kenal dengan Madinah. Kemudian atas permintaan sesepuh Yatsrib, Rasulullah dan umat muslim lain hijrah menuju Yatsrib, berharap Rasul akan mampu menyelesaikan perselisihan tersebut. Rasulullah melihat kota ini dihuni oleh masyarakat multi etnis, suku yang beragam dan memiliki keyakinan agama yang beragam pula. Rasul menyadari, tanpa adanya acuan bersama yang mengatur masyarakat yang majmuk ini, maka konflik antar golongan bisa terjadi dan pada suatu saat akan mengancam persatuan dan kesatuan kota Madinah. Kemudian dibuatlah acuan yang bernama Piagam Madinah.

Dalam piagam madinah tersebut bukan hanya kaum Anshor yang di sini adalah pribumi asli kota Yatsrib, dan Muhajirin yang non-pribumi dalam hal ini adalah Rosulullah dan umat muslim dari Makkah, akan tetapi orang-orang yahudi seperti Bani Qoinuna, Bani Nadhir dan Bani Quraizhah juga mereka pemeluk tradisi nenek moyang seperti peganut paganisme atau penyembah berhala menjadi satu kesatuan. Kemudian Rasulallah menyebut masyarakat Madinah yang dari berbagai golongan tersebut dengan satu sebutan yakni Ummah (Satu Ummat).

Bahkan dalam salah satu hadist, Rasulallah SAW bersabda “Man Adza Dimmiyan fa qod adzani” yang artinya “Siapa yang menyakiti Kafir Dzimmi, maka sungguh telah menyakitiku.” Sungguh luar biasa sabda Nabi tersebut, terdengar jelas bahwa beliau adalah pembawa rahmatan lil alamin yang memiliki kasih sayang tiadatara kepada umat manusia.  Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.

Saya jadi membayangkan jika saja kata-kata yang digunakan dalam pidato bapak tidak menggunakan “Pribumi” namun ummah atau dalam konteks indonesianya adalah kalimat “Warga Negara Indonesia” atau “Warga Jakarta” karena bapak Gubernur Jakarta. Mungkin dengan memilih kalimat tersebut tidak akan muncul lagi perdebatan panjang dari masyarakat. Misalnya Bapak mengatakan, “Setelah kemerdekaan, yang harus kita junjung tinggi adalah persatuan dan kesatuan. Kita bangun Jakarta dengan kekuatan bahu membahu menjadikan Jakarta semakin baik. Sehinggga Jakarta menjadi Provinsi percontohan bagi daerah lain. Bukan lagi provinsi banyak korupsi, bukan lagi provinsi pusat macet maupun banjir apalagi provinsi yang tercerai berai, tetapi sebagai provinsi yang memiliki warga yang berjuang bersama membangun Jakarta.” Sepertinya itu akan lebih terdengar keren Pak. Oh, maaf Bapak bukan maksud saya menggurui, tapi dari hati yang tulus bolehkan sebagai rakyat biasa saya berandai-andai.

Oh iya, saya lupa Pak, tidaklah perlu menjelaskan panjang lebar tentang ini, karena saya yakin Bapak orang cerdas yang jauh lebih mengerti dari pada saya. Bagaimanapun perbedaan pemaknaan masyarakat terhadap pilihan kata “pribumi” ini, yang jelas hanya Bapak yang tahu maksud dari ucapan Bapak tersebut.

Jadi, kembali pada apa yang saya rasakan. Saya memang bukan orang Jakarta dan tidak memiliki kepentingan politik apapun terkait Jakarta. Saya hanya seorang guru yang selalu bergembira ketika belajar bersama anak-anak. Selalu memikirkan bagaimana cara agar mereka selalu hidup rukun dan penuh kasih, selalu sedih ketika ada hak-hak mereka terabaikan atau terciderai.

Pemimpin adalah Wali Anak Yatim

Pak Anies, sebenarnya secara keseluruhan saya senang mendengar pidato Bapak yang penuh semangat. Di awal pidato, bahasa yang digunakan bapak terdengar jelas beraroma majas-majas indah yang saya pikir Bapak sedang membacakan puisi. Kemudian saya juga senang ketika bapak mengucapkan:

“Holong manjalak holong, holong manjalak domu. Begitu pepatah Batak mengatakan kasih sayang mencari kasih sayang, kasih sayang menciptakan persatuan. Ikatan yang kemarin sempat tercerai mari ikat kembali. Mari kita rajut kembali, mari kita kumpulkan energi yang terserang menjadi energi untuk membangun kota ini sama sama.”

Niat Bapak begitu mulia, ingin mengikat kembali, merajut kembali ikatan yang sempat tercerai dan membangun persatuan. Saya akan menunggu kabar baik itu pak. Bukan hanya foto-foto kunjungan bapak ke rumah warga miskin atau tempat pembuangan sampah atau pula minum teh di warung rakyat. Karena DKI Jakarta adalah miniatur bangsa kita, jadi ketika di Jakarta ikatan-ikatan persatuan bisa terjalin, maka kota-kota lain pun akan melakukan hal yang sama. Karena saya yakin banyak pemimpin-pemimpin hebat yang memimpin dari mulai ketua RT hingga Gubernur di seluruh pelosok Nusantara.

Saya teringat ungkapan dari Sahabat Umar bin Khattab, bahwa posisi pemimpin terhadap rakyatnya seperti posisi wali terhadap anak yatim (manzulatul imam ala al-ro’iyyah kamanzilatil wali alal yatim).

Bagaimana seorang wali harus menjaga anak-anaknya saling hidup rukun, tidak boleh saling menghina, merendahkan bahkan membenci dan memaki. Memberikan kesejahteraan secara adil kepada semua anaknya. Menjadikan rumah yang di tempatinya menjadi rumah yang penuh keamanan dan kenyamanan, bukan rumah yang penuh provokasi dan emosi.

Jika Rosulullah saja memandang umat dengan rahmat, Gus Mus juga mengibaratkan bahwa ulama itu memandang ummat dengan pandangan penuh cinta dan kasih sayang, “al-‘Ulama’ yandzuruna al-ummata bi ‘aini ar-rohmah”. Maka apalagi seorang pemimpin, yang kepada rakyatnya seperti wali kepada anak yatim. Pastilah pemimpin yang baik adalah yang juga memandang rakyatnya dengan cinta dan kasih sayang secara adil dan bijaksana “al-‘Umara’ yandzuruna al-ummata bi ‘aini ar-rohmah”.

Sekian surat cinta dari saya untuk Bapak, apabila ada salah kata, dengan tulus saya mohon maaf. Sekali lagi pak saya akan menunggu kabar gembira rajutan tali persatuan yang akan Bapak lakukan untuk warga Jakarta. Bukan perpecahan atau perdebatan antar warga Jakarta apalagi diikuti perpecahan seluruh bangsa Indonesia. Tetapi membangun masyarakat yang saling memberi cinta dan kasih, saling memuji dan menghormati, saling memberi dan mengasihi, itulah arti mengabdi bagi negeri.

Ihdinos shirothol mustaqim.

Wallahulmuwafiq Ila Aqwamith thariq….

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Hormat Saya:

Muyassarotul Hafidzoh, Guru TPA Masjid Azzahrotun Wonocatur Banguntapan Bantul.