Budaya

Sur Tanah, Tradisi Islam Jawa Usai Mengubur Jenazah

sur tanah

Bagi masyarakat muslim jawa yang tinggal di Yogyakarta, masih bisa menjumpai salah satu upacara adat yakni sur tanah. Upacara sur tanah atau ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat). Makna sur tanah adalah menguburkan jenazah ke dalam tanah.

Upacara ini mulanya telah berkembang di masyarakat Jawa. Setelah Islam datang, proses islamisasi berlangsung sehingga tradisi sur tanah pun menjadi tradisi yang sarat nilai-nilai islam. Prosesnya, setelah jenazah dikebumikan, pihak keluarga, tokoh agama, dan masyarakat yang turut bertakziyah akan berkumpul. Mereka bersama-sama membaca dzikir atau tahlilan yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Setelah tahlilan selesai, pihak keluarga akan membagikan sedekah kepada masyarakat yang turut serta. Dahulu, sedekah yang diberikan beragam jenisnya. Mulai dari tumpeng dengan lauknya, nasi golong, ingkung dan panggang ayam, nasi asahan, tumpeng pungkur, tumpeng langgeng, pisang sajen, kembang setaman, kinang, bako enak dan uang bedah bumi. Namun untuk saat ini, disesuaikan dengan kemampuan keluarga. Yang terpenting niat sedekat telah tersampaikan dan harapannya pahala dari sedekah tersebut bisa sampai ke jenazah.

Tradisi sur tanah yang telah mengalami islamisasi, menunjukkan bahwa sejak dahulu telah tercipta harmoni antara tradisi nusantara dan ajaran Islam. Mengutip Ibnu Burdah (2017) yang menjelaskan pribumisasi Islam dalam pandangan Gus Dur, bahwa secara alamiah Islam itu seperti sebuah sungai besar. Air sungai itu mengalir ke mana-mana. Tapi air sungai itu juga menampung dan mengakomodasi aliran-aliran sungai kecil dari berbagai daerah yang dilewatinya.

Air sungai ini tak pernah dibendung, tetapi terus dibiarkan mengalir untuk menumbuhkan aneka tumbuhan yang indah di mana-mana dan bermanfaat bagi orang banyak. Sungai itu juga menampung aliran air dari daerah-daerah yang dilewatinya. Air perlu mengalir agar tetap jernih segar dan memberi manfaat seluas mungkin.

Itu adalah ibarat perjalanan risalah Islam ke Nusantara atau tempat lain di dunia Islam. Bahwa Islam semestinya mengakomodasi kebudayaan lokal tempat Islam berkembang. Akomodasi itu dilakukan karena memang atas dasar kebutuhan. Proses sejarah perkembangan Islam umumnya demikian; ia mengalir dan menampung kultur-kultur lokal sebagai pertimbangan membangun norma Islam yang kontekstual. Dan itu terjadi secara alamiah. (red_dari berbagai sumber)