Gus Yahya
Keluarga Maslahah

Siapa Itu Gus Yahya? Ini Kisah Pernikahannya

KH Yahya Cholil Saquf, biasa disapa Gus Yahya, adalah Katib Aam PBNU saat ini. Beliau ini adalah putra KH Cholil Bisri Rembang bin KH Bisri Mustofa Rembang. Darah perjuangan mengalir dalam diri Gus Yahya, sehingga pujian dan cercaan-hinaan sudah tidak membuat beliau berbangga atau sedih. Darah perjuangannya juga dipupuk oleh Gus Dur, sang guru yang sangat ia hormati.

Perjuangan Gus Yahya saat ini adalah mewujudkan perdamaian dunia. Ini sudah dimulai Gus Dur. Makanya, ketika banyak yang mencerna dan menghina Gus Yahya, beliau tak pernah goyah. Warisan perjuangan dari Gus Dur harus tetap dilanjutkan, walaupun resiko fitnah di depan mata.

Sikap kuat ini tak lepas dari sang ayah, KH Kholil Bisri. Ketika masa muda, Gus Yahya mengisahkan sendiri cara ayahnya mendidiknya sekaligus menikahkannya dengan pilihan ayahnya. Bagaimana kisahnya? Ini tulisan Gus Yahya yang pernah dimuat teronggosong.

 

Kawin

Pada mulanya aku agak kecewa kepada ayahku karena kuanggap telah mengawinkanku secara sembarangan. Semasa remaja dulu, aku mengkhayalkan suatu peristiwa pernikahan yang dramatis, memuncaki kisah cinta yang romantis lagi melankolis serta fantastis. Tapi aku tak mendapatkannya sak incrit-incrito! Ditengah aku kebingungan menentukan pilihan diantara gadis-gadis yang ditawarkan kepadaku, ayahku tiba-tiba saja secara otoriter memutuskan,

“Sudah! Kamu kawin dengan ini saja!”

Tanggal 24 Mei, tiga hari sesudah lengsernya Soeharto, aku digelandang untuk melamar calon isteriku. Tanggal 1 Juni, keluarga calon mertuaku berombongan datang ke Rembang, dengan maksud sekedar membalas kunjungan. Tapi saat itu juga ayahku minta supaya aku langsung diaqidkan. Calon mertuaku kok ya nggak membantah, malah taukil kepada pamanku. Dan dilakukanlah ijab-kabul seperti beli bakso. Tidak fantastis babar blazzz!

Belakangan kuketahui bahwa ayahku dulu malah diperlakukan lebih parah lagi oleh kakekku: melamar ibuku – diiyakan – langsung akitan di TKP!

Sejak masih mondok di Tebuireng, Kiyai Abdul Wahab Hasbullah sudah kesengsem berat kepada Kiyai Bisri Syansuri, yuniornya sekaligus lawan berdebat yang paling gigih dan paling kuat ilmunya. Belakangan Kiyai Wahab menawari Kiyai Bisri naik haji.

“Aku nggak punya uang”, kata Kiyai Bisri.

“Aku yang mbayari!”

Siapa bakalan nolak? Sudah tentu Kiyai Bisri bersedia dengan suka-cita.
Tak dinyana, ketika tiba waktunya berangkat dan Kiyai Bisri sudah siap di pelabuhan, Kiyai Wahab malah mengundurkan diri.

“Aku nggak jadi pergi”.

“Lho?”

“Ya nggak apa-apa. Sampeyan tetap berangkat saja… Tapi aku titip adikku ini, Khodijah”.

Kiyai Wahab memperkenalkan adik perempuannya.

Kiyai Bisri kaget dan jengah luar biasa!

“Waduh… titip gimana?”

“Khodijah ini mau berangkat haji juga sekarang. Jadi aku titip, supaya sampeyan yang njagain”.

“Lho… lha… gimana sih…?”

“Kok lha-lho lha-lho! Masak nggak mau kutitipi?”

“Wah… ya… tapi…”

“Tapi apa?”

“Ajnabi je…”

“Ya supaya jadi muhrim, sekarang sampeyan nikah dulu”.
Maka terjadilah ijab-kabul di pelabuhan…

(KH Yahya Cholil Staquf, Katib Aam PBNU dan Mantan Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid)

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement