Pendidikan

Sekilas Tentang Pendidikan Karakter

 

16113064_10209676355520286_8706915724214034094_o

Ainul Yaqin, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Pengurus Lakpesdam PWNU DIY.

Dalam sejarah pendidikan, tujuan pendidikan mencakup dua hal penting yaitu membantu peserta didik menjadi pandai dan menjadi orang yang baik (Berkowitz dan Bier, 2005: 64; Lickona dan Davidson, 2005). Tujuan pendidikan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya fokus pada usaha untuk membantu peserta didik menjadi pandai melainkan juga menjadi orang baik.

Dalam diskursus tentang Pendidikan Karakter (Character Education), kita tidak dapat mengesampingkan frase-frase lain yang artinya hampir sama seperti Pendidikan Moral (Moral Education), Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education) dan (Civic Education). Secara historis, Pendidikan Moral lebih dulu menjadi tema akademik yang cukup tua diperbincangkan ketika para pemikir klasik seperti Aristotle dan Confusius berfikir bahwa mengajarkan moralitas pada generasi masa depan adalah penting karena masyarakat membutuhkan anggota-anggota masyarakat yang bermoral (Althof dan Berkowitz, 2006: 495).

Kondisi ini menjelaskan bahwa penanaman nilai-nilai etik dan moral sangat perlu dilakukan di dalam sebuah masyarakat karena tanpa nilai-nilai kemanusiaan itu tatanan kehidupan masyarakat akan rusak. Secara khusus, Pendidikan Moral terkait dengan struktur ilmu psikologi konstraktivis yang dimotori oleh Jean Piaget (1965) dan Lawrence Kohlberg (1971).

Pendidikan Moral termasuk bagian dari usaha untuk memperkenalkan struktur kognitif perkembangan moral anak dan remaja dalam lingkup sekolah (Althof dan Berkowitz, 2006:495). Di sisi lain, Pendidikan Karakter yang berkembang pasca Perang Dunia ke II lebih terkait dengan hal-hal yang bersifat bihavioristik (2006:497) dan merupakan tanggapan atau langkah perventif atas perubahan-perubahan kebiasaan siswa yang kurang baik.

Pendidikan Moral meliputi pengembangan cara berfikir yang adil, moralitas relasional dan kepedulian terhadap orang lain. Sedang Pendidikan Karakter mempunyai cakupan yang lebih luas dan komprehensif tidak hanya terkait dengan pengembangan moralitas melainkan juga hal-hal lain yang dianggap dapat membangun karakter siswa menjadi lebih baik (2006:499). Pendidikan Karakter melingkupi konsep yang luas seperti budaya sekolah yang positif, pendidikan moral, komunitas yang mempromosikan nilai-nilai moral, komunitas sekolah yang peduli pada orang lain, pembelajaran sosial-emosional, pengembangan pemuda yang positif, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan pelayanan (character.org, 2014: i).

Terkait dua konsep ini, perbedaan latar belakang, sejarah tumbuhnya dan cakupan kajian Pendidikan Moral dan Karakter memang berbeda, akan tetapi, tujuan dua konsep pendidikan tersebut sama, yaitu itu berusaha menumbuhkan sikap yang bermoral dan beretika melalui institusi pendidikan. Kemudian, Pendidikan Kewarganegaraan yang dalam bahasa Inggris terdiri dari dua frase berbeda yaitu Citizenship Education dan Civic Education sedikit membingungkan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia karena Citizenship Education dan Civic Education mempunyai arti sama.

Namun tidak demikian ketika dikaji secara teoritis, Menurut John C Cogan (1999) Citizenship Education mempunyai arti luas yang berisi aktivitas menanamkan ide-ide tentang kewarganegaraan melalui berbagai macam strategi kepada generasi yang akan datang. Yang dimaksud strategi di sini adalah berbagai macam cara dan program yang dilakukan oleh sekolah, pemerintah, organisasi sosial atau masyarakat secara umum dalam menanamkan nilai-nilai kewarganegaraan.

Sedang Civic Education mempunyai arti yang lebih khusus yaitu sebagai bagian dari kegiatan pendidikan formal seperti mata pelajaran, mata kuliah tentang Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah, kampus dan tempat-tempat kursus. Secara spesifik, Pendidikan Karakter adalah usaha yang terencana untuk membangun, mengembangkan dan mempraktekkan etika dan nilai-nilai kesantunan dalam lingkup budaya yang beragam.

Dalam prinsipnya, Pendidikan Karakter berusaha mengembangkan kemampuan intelektual, sosial, emosional, dan etis pada peserta didik serta untuk meningkatkan komitmen bersama agar peserta didik mampu menjadi orang yang bertanggungjawab, peduli dan menjadi warga negara yang baik dan bermanfaat bagi yang lain (character.org, 2014: i).

Dari penjelasan awal ini, berbagai konsep pendidikan yang terkait dengan pengembangan etika, moralitas, karakter dan kewarganegaraan seperti Pendidikan Moral, Pendidikan Karakter, Pendidikan Multikultural, Pendidikan Inklusi, Pendidikan Kewarganegaraan; Citizenship dan Civic Education meskipun berbeda secara teoritis dan prinsip, dalam penerapannya konsep-konsep ini saling melengkapi satu sama lain.

Satu hal yang penting dan perlu digarisbawahi adalah konsep Pendidikan Karakter tidak akan dapat dikembangkan dan diterapkan secara maksimal apabila sekolah dan semua pihak yang terkait stakeholders (komunitas sekolah; termasuk guru, anggota yayasan untuk sekolah swasta, staf sekolah, komite sekolah, bahkan lingkungan masyarakat sekitar sekolah) tidak berpegang pada prinsip-prinsip demokrasi, pluralisme dan HAM. Menjadi sebuah hal yang mustahil apabila sebuah sekolah berniat menjalankan program Pendidikan Karakter tapi sekolah dan seluruh komunitasnya tidak mengakui prinsip-prinsip dasar dari demokrasi, pluralisme dan HAM.