Sains

Saatnya Sains dan Teknologi Menjadi Tradisi Para Santri

 

syamsiro

Kemajuan sains dan teknologi adalah realitas yang dihadapi oleh kaum santri. Oleh karena itu, penguasaan sains dan teknologi menjadi keniscayaan agar santri bisa tampil dan ikut mewarnai peradaban. Kehadiran santri dibutuhkan untuk menjaga agar sains dan teknologi dimanfaatkan, bukan untuk merusak, tapi digunakan dengan penuh kearifan demi kemaslahatan. Nah, apa yang harus dilakukan oleh kaum santri? Berikut wawancara Tim Majalah Bangkit dengan Dr. Eng Mochamad Syamsiro, Dosen di Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra Yogyakarta,  Mantan Ketua PCINU Jepang, juara pertama “The 4th Indonesia EBTKE Conex 2015” Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), di Universitas Janabadra, Yogyakarta.

 

Bagaimana perkembangan NU di Jepang?

Santri di Jepang sudah lumayan banyak. Di antara mereka ada yang bekerja, belajar atau menjadi mahasiswa, bahkan ada yang sudah bergelar profesor. Santri harus mengejar ketertinggalan, terutama dalam bidang sains dan teknologi. KH Said Aqil Siroj telah menargetkan berdirinya Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di berbagai daerah di Indonesia. Saya kira itu langkah bagus sebagai cikal bakal bagi penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi kaum santri. UNU harus membuka fakultas-fakultas sains dan teknologi, termasuk di bidang kesehatan.

 

Mengapa demikian?

Santri harus mengenal sains dan teknologi. Keilmuan dan kreativitas mereka harus diasah sedini mungkin. Dimulai dari sejak pendidikan dasar, madrasah, aliyah, kemudian dikembangkan lagi di perguruan tinggi. Misalnya, di pesantren santri mulai diajari tentang pemanfaatan biogas untuk energi (alternatif) terbarukan. Atau mengolah sampah menjadi listrik. Kebetulan konsen saya dipengembangan teknologi terbarukan. Energi terbarukan itu banyak, misalnya tenaga matahari, tenaga angin, tenaga biomassa, tenaga air atau hydro mikro. Energi terbarukan itu bisa diolah menjadi mobil listrik atau sampah plastik diolah menjadi bahan bakar minyak, seperti bensin atau solar dan masih banyak lagi.

 

Apa yang harus dilakukan santri?

Saat ini sudah ada internet. Menurut saya, para santri bisa memanfaatkan itu untuk mengakes informasi-informasi tentang cara mengolah energi terbarukan. Tapi, memang soal akses internet ini dibutuhkan kecerdasan dan kearifan, karena tidak semua informasi di internet bisa diambil begitu saja. Harus ada penyaringan informasi. Di NU sendiri juga sudah banyak para ilmuan santri di bidang sains dan teknologi yang bisa diajak untuk diskusi. Santri juga bisa mengundang ilmuan-ilmuan teknologi dari kampus untuk datang ke pesantren. Sudah saatnya sains dan teknologi menjadi tradisi di lingkungan para santri.

 

NU harus membuka sekolah sains dan teknologi?

Saya kira sudah saatnya. Bisa dimulai dari pesantren tingkat madrasah, aliyah dengan membuka kelas-kelas khusus atau kegiatan ekstrakulikuler dengan konsentrasi sains dan teknologi. Tentu dengan tidak melupakan materi-materi agama untuk disisipkan di dalamnya agar terjadi integrasi antara sains-teknologi dengan nilai-nilai agama. Dulu Kiai Sholahiddin Wahid (Gus Sholah) pernah datang ke Jepang dan saya yang menemani beliau. Melihat kemajuan Jepang, beliau ingin membangun SMA Sains dan sekarang sudah berdiri. Artinya, beliau sudah memulainya dan saya kira pesantren-pesantren NU yang lain juga harus mulai menuju ke sana. Sehingga setiap daerah di seluruh Indonesia ada sekolah sains yang NU. Semoga saja.

 

Harapan Anda ke depan bagaimana?

Saya berharap semua itu bisa terwujud. Saya sendiri sebenarnya selalu terbuka bagi santri untuk bersama-sama kita mengaji sains dan teknologi di pesantren. Berdiskusi dengan santri, berbagi ilmu dan praktik langsung bersama mereka untuk mengembangkan energi alternatif terbarukan. Tapi itu tidak hanya sekali, harus terus berkelanjutan. Jadi memang harus ada komitmen bersama dalam hal ini. Dulu saya pernah menulis di KR tentang pompa hydrant dan ada santri (mungkin membaca tulisan itu) dari pesantren di Jl Imogiri, Bantul yang datang ke saya untuk mempelajari itu. Tapi, setelah itu saya ke Jepang, jadi sampai sekarang belum ketemu lagi. Artinya, sudah mulai ada ketertarikan santri untuk belajar tentang teknologi. (yn/asa)