Berita

Prihatin dengan Massifnya Radikalisme, The Al-Falah Institute Selenggarakan Seminar Deradikalisasi Agama

0884f15d-95f4-4933-a295-5ddfaa477819

YOGYAKARTA, BANGKITMEDIA.COM

Gerakan radikal di Indonesia belakangan ini massif digrandrungi oleh generasi muda. Karenanya, penguatan terhadap deradikalisasi harus diupayakan. Atas dasar inilah, The Al-Falah Institute Yogyakarta mengadakan seminar dengan tema “Deradikalisasi Agama di Indonesia” yang diselenggarakan di Balai Kunti Wanitatama, Yogyakarta, Kamis (28/9/2017). Kegiatan ini menyasar para santri dan alumni santri serta pelajar di Yogyakarta.

Hadir sebagai pembicara yaitu Irwan Masduqi Lc, M. Hum (Lakpesdam NU), Dr. H. Zuhri (Dosen UIN Sunan Kalijaga) dan Eko Prasetyo (Pakar Hukum). Irwan Masduqi dalam sesi tersebut berbicara mengenai fenomena menggejalanya pihak-pihak yang menggugat konsep negara Indonesia dengan pancasila dan ingin menggantinya dengan khilafah yang mereka pandang sesuai dengan ajaran Nabi. Padahal konsep khilafah di kalangan umat Islam berbeda-beda. Para sahabat Nabi menjadi pemimpin melalui beberapa metode.

“Abu Bakar menjadi khalifah berdasarkan diskusi, Umar bin Khattab dipilih berdasarkan usulan dari Khalifah Abu Bakar. Kemudian Khalifah Ustman bin Affan dipilih melalui majelis di Madinah, yang terakhir Khalifah Ali dipilih oleh orang yang melengserkan Utsman. Saat itu Nabi tidak menunjuk ahli warisnya untuk menggantikan beliau. Tetapi Nabi menyerahkannya kepada Umat Islam untuk menentukan sendiri cara yang paling dikehendaki,” ungkap Irwan.

Lebih lanjut, Irwan menjelaskan bahwa pemahaman radikal pada umumnya kurang atau bahkan tidak melihat nash Al-Qur’an dan hadis dengan peninjauan dari berbagai sudut pandang, mulai dari asbabun nuzul untuk Al-Quran, asbabul wurud untuk hadist dan tentang keaslian hadist yang dipakai. Karena itulah, timbul pemaknaan lain dari beberapa diksi yang digunakan untuk menyampaikan nash. Mereka  cenderung memahami apa yang disampaikan Nabi secara mentah saja, tidak melihat makna hakiki yang terkandung dari apa yang disampaikan Nabi tersebut.

“Kitab yang mereka pelajari sama, tetapi kurangnya sudut pandang dalam memahami historis tentang suatu teks membuat yang membacanya salah pemahaman akhirnya. Muncullah benih-benih pemikiran radikal,” lanjut Irwan.

Sementara itu, Dr. H. Zuhri menjelaskan bahwa benih-benih pemikiran radikal berakar dari penggunaan Al-Quran dan Hadits untuk kegiatan politik pada waktu lampau, yakni setelah era kepemimpinan para sahabat.

“Karena situasi pada saat itu, agamalah yang paling kuat untuk mengendalikan masyarakat. Dari situlah pedoman umat Islam dimuati kepentingan politik yang menyebabkan keradikalan beberapa golongan umat,” tegas Dr. Zuhri.

Beliau juga menuturkan bahwa di Indonesia dahulu juga pernah dijumpai ajaran agama digunakan untuk kampanye partai politik. Seperti yang dilakukan beberapa partai politik di Indonesia yang himbauan untuk menghadap ke Masjidil Haram, ataupun konsep bahwa dibawah sebuah pohon terdapat keberkahan. (Kholid)