Pendidikan

Ikuti Giat Wawasan, Pramuka Ma’arif NU Didorong Menjadi Wirausaha

4776c1f7-30b3-4458-ad89-e6e4d14d0420

MAGELANG, BANGKITMEDIA.COM

Sesi Giat Wawasan di hari kedua Perwimanas II, Selasa (19/9/17), menyajikan materi tentang kewirausahaan dan pemberdayaan desa. Kegiatan bertempat di Barak Lima Komplek Lapangan Tembak Akmil Magelang, Jawa Tengah. Hadir sebagai pemateri yakni Satrio, Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, serta Dr. Anwar Sanusi, Sekretaris Jendral Kementrian Desa, Pembangunan Desa Tertinggal, dan Transmigrasi.

Satrio sebagai pembicara pertama, menjelaskan bahwa mayoritas generasi muda Indonesia tidak tertarik untuk menjadi pengusaha. Mereka lebih tertarik menjadi karyawan dan PNS. Menurutnya, banyak faktor yang menjadi penyebab hal tersebut terjadi. Diantaranya adalah penjajahan yang mengubah mental masyarakat menjadi mental pegawai.

“Pendidikan kita juga cenderung menciptakan SDM pencari kerja, bukan SDM pencipta lapangan kerja. Selain itu, generasi muda kita belum terbiasa hidup dalam iklim wirausaha,” lanjut Satrio.

Karena itu, pihaknya mendorong agar generasi muda saat ini, terutama anak-anak Ma’arif NU agar berorientasi menjadi wirausaha. Hal tersebut penting sebab dengan munculnya kegiatan wirausaha diharapkan angka pengangguran menjadi minim. Pihaknya melalui BLK memfasilitasi generasi muda untuk terjun menjadi wirausaha.

Adapun pembicara kedua, Dr. Anwar Sanusi, menekankan pada pentingnya pemberdayaan desa. Saat ini pemerintah memfasilitasi desa dengan adanya dana desa yang pada tahun 2017 mencapai kurang lebih 800 juta perdesa. Dana desa tersebut diupayakan untuk menggarap empat program. Diantara program tersebut diantaranya yakni setiap desa memiliki keunggulan produk lokal yang bernilai ekonomis. Hal ini untuk mendorong perekonomian desa sehingga tidak terjadi urbanisasi.

“Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) juga menjadi prioritas. Bumdes ini kalau dikelola secara maksimal maka bisa meningkatkan perekonomian di pedesaan,” tutur alumni doktoral Jepang.

Sanusi berharap agar generasi muda Ma’arif NU bisa menjadi kader yang menggerakkan desanya masing-masing mengingat sebagian besar warga NU ada di desa. Ia juga menghimbau agar tidak minder sekolah di Ma’arif. “Saya juga dulu sekolah di Ma’arif. Alhamdulillah sekarang saya bisa seperti sekarang. Semua berkat Ma’arif,” tandasnya. (Anas)