Pesantren

Pondok Pesantren Inayatullah Sariharjo, Ngaglik, Sleman

Inayatullah 3

Berdiri di Tengah-tengah Perbedaan

            Pondok Pesantren Inayatullah berada di jalur utara Yogyakarta, tepatnya di Jl. Monjali 20, Nandan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1998 di atas tanah wakaf milik Ibu Menik. Sebelumnya tanah wakaf tersebut hanya ingin digunakan untuk pendirian masjid an-Namiroh, namun karena keinginan yang lebih besar dari para perintis yakni untuk memaksimalkan kegiatan dakwah di Desa Sariharjo dan sekitarnya.

Habib Musyayikh Alwi selaku penanggung jawab yayasan an-Namiron waktu itu menunjuk Kyai Muhammad Thoifur sebagai pengasuh pertama. Sekarang Pondok Pesantren Inayatullah diasuh oleh kyai yang berasal dari Magelang, yaitu Kyai Khamdani Yusuf. Beliau merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Ma’sum, Japun Agung, Tempuran, dan juga merupakan murid KHRT. ‘Asyim Ashari. Kyai Khamdani menjadi pengasuh sejak tahun 2009. Beliau lahir di Rimun, 6 Juli 1980. Apabila dilihat dari segi nasab beliau masih mempunyai hubungan dnegan Bagelan (Mataram Kuno) di Purworejo.

Sampai saat ini banyak mahasiswa di Yogyakarta yang nyantri di Pondok Pesantren Inayatullah. Mereka rata-rata adalah mahasiswa dan mahasiswi dari beberapa perguruan tinggi, diantaranya, Uiniversitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka), Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), STMIK AMIKOM, dan adapula beberapa santri dari pendidikan Sekolah Menengah Atas.

Latar belakang berdirinya Pondok Pesantren Inayatullah bukan hanya atas dasar untuk menampung santri-santri yang berkeinginan mendalami ilmu agama. Akan tetapi, Pondok Pesantren Inayatullah berdiri karena saat itu lingkungan di sekitarnya mulai jauh dari kehidupan Islam. Dahulu 90% penduduk di sekitar pesantren beragama Islam, namun beberapa waktu kemudian dibangunlah 4 buah Gereja. Setelah itu juga berdiri Asrama Brunder dan sekolah Katolik (Karitas). Padahal di tengah lingkungan itu hanya ada satu masjid yang ukurannya pun begitu kecil, hanya 7×9 m. Melihat kondisi tersebut para perintis Pondok Pesantren Inayatullah tergerak untuk mendiri lembaga pendidikan. Mereka mengusahakan sebuah tanah wakaf seluas 1000m2 untuk dibangun sebuah masjid berukuran 12×10 m2 dan aula berukuran 10×15 m2. Mereka juga mengusahakan dibukanya tempat pendidikan al-Quran, pengajian, dan Pondok Pesantren demi menjaga keberlangsungan Islam di daerah tersebut.

Pada Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Inayatullah, para santri di bagi ke dalam lima tingkatan kelas. Kelas pertama adalah kelas ‘Ibtida’ Awal, ‘Ibtida Tsani, Jurumiyah, ‘Imrithi, dan Alfiyah.  Di Madrasah Diniyah ini para santri juga dihadapkan dengan ujian layaknya sekolah formal. Dalam satu tahun ajaran, ujian pertama disebut ujian semester dan ujian kedua disebut ujian akhir. Setelah ujian para santri seperti biasanya akan menerima raport. Hal ini agar para santri bisa tekun belajar dan semangat meningkatkan kemampuan dirinya. Pelajaran-pelajaran yang ada dalam kurikulum Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Inayatullah berkisar pada pelajaran pokok seperti tauhid, akhlaq, fiqh, imla’, nahwu, shorrof, dan tarikh.

Kegiatan santri di Inayatulllah dimulai sejak sore hari hingga pukul sepuluh malam dan di saat subuh hingga pukul enam pagi. Kegiatan pagi hingga siang dibebaskan untuk kegiatan di luar pesantren seperti ke kampus dan sesekolah. Di malam hari, sejak maghrib santri disibukkan dengan ibadah, misalnya shalat berjamaah, pembacaan al-Fatihah sebanyak 11 kali, dan tadarus al-Quran. Setelah itu para santri memulai rutinitas Madrasah Diniyah dan kajian kitab.     Di pagi hari santri-santri mempunyai kegitaan mujahadah, sorogan al-Quran, dan musyawarah. Selain rutinitas itu, para santri juga mempunyai kegiatan lain yang sifatnya ekstrakurikuler di antaranya adalah, hadrah, grup shalawat hayatul qulub, kerja bakti, tahlilan, pengajian selapanan, khitobah, pembacaan maulud.