Pesantren

Pondok Pesantren Al-Munawwir Pelopor Pesantren al-Qur’an di Nusantara

mnwwrPondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta didirikan oleh KH. Mohammad Munawwir bin Abdullah Rasyad pada tahun 1910 M. Pondok pesantren ini bisa dikatakan pesantren al-Qur’an pertama di Nusantara yang berdiri pada masa penjajahan. Pesantren inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya pesantren-pesantren al-Qur’an di DIY maupun di berbagai daerah lain di Indonesia. Sebut saja Pesantren Sunan Pandanaran, Pesantren An-Nur Ngrukem, Pesantren al-Muayyad Solo, Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus dan Pesantren Al-Asy’ariyyah, Wonosobo. Pesantren-pesantren al-Qur’an tersebut merupakan pesantren yang didirikan oleh santri-santri Kiai Munawwir sepulangnya menimba ilmu dari Krapyak.

Pondok Pesantren Al-Munawwir secara geografis berada di dusun Krapyak, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dusun Krapyak di bagian utara berbatasan dengan tapal batas antara kota madya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Alamat Pondok Pesantren al-Munawwir berada di Jl. K.H. Ali Maksum Krapyak Tromol Pos 5 Yogyakarta 55002.

Ada sebuah cerita menarik terkait berdirinya Pondok Pesantren Al-Munawwir. Tersebutlah ulama kharismatik mantan ajudan Pangeran Diponegoro, KH. Hasan Basari namanya. Ia ingin sekali menjadi seorang penghafal al-Qur’an atau hafidz. Ia mencoba menghafalkan al-Qur’an berkali-kali, tetapi tidak kunjung berhasil. Ia pun melakukan riyadlah dan mujahadah agar cita-citanya terkabul. Akhirnya, ia mendapatkan ilham bahwa yang akan menjadi penghafal al-Qur’an adalah keturunannya

Hasan Basari kemudian memiliki seorang anak bernama Abdullah Rosyad. Sebagaimana KH. Hasan Basari, Abdullah Rasyad juga berusaha sekuat tenaga agar mampu menjadi seorang penghafal al-Qur’an. Ia melakukan riyadlah dan mujahadah selama sembilan tahun dalam rangka agar bisa menghafalkan al-Qur’an. Sayang seribu kali sayang, hal tersebut tak kunjung menuai hasil. Ketika berada di tanah suci Makkah, ia mendapatkan ilham bahwa anak cucunya lah yang mampu menghafalkan al-Qur’an

Ilham yang didapatkan oleh Kiai Hasan Basari dan Kiai Abdullah Rasyad menjadi kenyataan. Adalah Mohammad Munawwir, anak kedua dari Kiai Abdullah Rasyad yang sukses menjadi penghafal al-Qur’an. Sejak kecil, Munawwir memang memiliki semangat tadarus al-Qur’an yang luar biasa. Didorong oleh iming-iming hadiah uang Rp. 250, dari ayahandanya, ia mampu mengkhatamkan al-Qur’an seminggu sekali. Kegiatan tersebut dilakukannya dengan baik sekali bahkan ketika tidak ada iming-iming hadiah lagi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian ia mampu menghafalkan al-Qur’an 30 Juz dalam tempo yang singkat.

Mohammad Munawwir muda tidak hanya mempelajari Qira’ah dan ilmu al-Qur’an saja. Ia juga mendalami ilmu lainnya pada kiai-kiai pada waktu itu. Para kiai yang pernah menjadi gurunya di antaranya adalah: KH. Abdullah Kanggotan Bantul, KH. Kholil Bangkalan, KH. Saleh Darat Semarang dan KH. Abdurrahman Watucongkol Magelang. Munawwir muda tidak hanya berguru kepada kiai-kiai lokal Nusantara. Ia juga pernah tercatat mendalami hafalan al-Qur’annya di Makkah di antara beberapa gurunya di bumi kelahiran nabi tersebut adalah Syekh Abdullah Sanqoro, Syekh Syarbini, Syekh Mukri, Syekh Ibrahim Huzaimi, Syekh Manshur, Syekh Abdus Sakur dan Syekh Mustafa. Sementara itu, gurunya dalam Qira’ah Sab’ah yaitu Syekh Yusuf Hajar.

Tahun 1909 M, setelah puas menimba ilmu di Makkah dan Madinah, Mohammad Munawwir pulang kembali ke tanah kelahirannya, Kauman, Yogyakarta sekarang. Setahun setelah kepulangannya, ia kemudian pindah dari Kauman ke Dusun Krapyak. Ada beberapa sebab yang menyebabkan kepindahan tersebut. Pertama, rumah di Kauman sudah sesak dengan penghuninya dan ia butuh tempat yang lebih luas untuk mendirikan pondok pesantren. Kedua, letak geografis dan lingkungan Kauman menurutnya kurang sesuai untuk mendirikan pondok pesantren. Ketiga, atas saran KH. Sa’id (Pengasuh Pondok Pesantren Gondongan, Cirebon) agar mengembangkan ilmu al-Qur’an lebih lanjut di tempat yang lebih luas.

Setahun setelah pindah ke Krapyak yakni tahun 1910 M, KH. Mohammad Munawwir mendirikan rumah dan sebagian kompleks pondok pesantren yang di kemudian hari dikenal dengan nama Pondok Pesantren Al-Munawwir. Setelah 32 tahun mengasuh pondok pesantren yang didirikannya, K.H. Mohammad Munawwir menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1360 H atau bertepatan dengan tanggal 6 Juli 1942 M. Ia disemayamkan di makam keluarga di Dongkelan yang jaraknya 1,5 KM dari PP al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Sepeninggal KH. Mohammad Munawwir, Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak telah mengalami beberapa periode kepemimpinan. Setidaknya, ada tiga periode yang tercatat dalam sejarah perkembangan Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, yakni periode KH. R. Abdullah Affandi, KH. R. Abdul Qadir dan KH. Ali Maksum (tahun 1941-1968 M), periode KH. Ali Maksum (tahun 1968-1989 M) dan periode KH. Zainal Abidin Munawwir (tahun 1989-2014 M).

Kini, Pondok Pesantren yang telah berdiri selama satu abad lebih ini telah memiliki ribuan alumni yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Para alumni tersebut kemudian mendirikan pesantren-pesantren Al-Qur’an di daerahnya sendiri seperti sang guru. Pesantren-pesantren tersebut menjadi pusat pengkaderan dan pembelajaran para generasi penerus dengan berbasis Al-Qur’an. (Rokhim)