Pesantren

Pesantren Al Imam, Warisan Sang Pelopor NU Yogyakarta

423122_115636545225573_1608161626_n

Bantul, Bangkitmedia– “Kamu punya barang dan dagangan yang tidak semua orang bisa, Qur’an-mu gunakan di daerahmu,” nasehat Mbah Mufid, guru dari Nyai Istijabah pendiri sekaligus pengasuh pesantren Al-Imam Wonokromo 1978-2014.

Nyai Istijabah melanjutkan perjuangan orang tuanya, Mbah Imam (Pembawa NU di Yogyakarta) dan Nyai Warsiyah menyebarkan agama Islam di Wonokromo. “Si Mbah (Mbah Imam-red.), mendirikan Majelis Ta’lim di Wonokromo, dalam majelis membahas persoalan tauhid dan thoriqah,” cerita Kiai Haris, cucu dari Mbah Imam.

Lanjutnya, Mbah Imam mendirikan Majelis Ta’lim ketika masa-masa pergolakan. Tepatnya pada tahun 1925, Indonesia belum mendeklarasikan kemerdekaannya. Walaupun masih masa-masa penjajahan, beliau aktif menyebarkan agama Islam dan mendirikan Majelis Ta’lim.

Ketika masa-masa perjuangan, Mbah Imam ikut andil dalam mengantarkan pejuang-pejuang santri Yogyakarta sampai ke Mangkuyudan. Beliau tugasnya memberikan doa terhadap para santri yang hendak berjuang ke Surabaya.

“Setelah si Mbah Imam meninggal, Majelis Ta’limnya berhenti. Karena kebutuhan masyarakat terhadap Majelis Ta’lim, Mbah Putri meneruskannya,” tandas Kiai Haris. Nyai Warsiyah, meneruskan Majelis Ta’lim dengan mengajarkan kajian pashalatan. Kajian tersebut dipilih karena yang mengikuti Majelis Ta’lim adalah orang-orang tua.

Majelis Ta’lim kemudian dilanjutkan oleh putrinya, Nyai Istijabah. Awalnya Nyai Istijabah juga melanjutkan Majelis Ta’lim. Majelis Ta’lim kemudian berkembang menjadi Majelis Al-Qur’an sekitar pada tahun 1965.

Masyarakat mulai berdatangan untuk menimba ilmu Al-Qur’an tiap habis Subuh dan usai Maghrib. Para santri masih banyak yang mengaji kalong, pagi berangkat dan malam pulang. “Kemudian ada santri yang sering kalong dan sering menginap. Awalnya belum punya kamar, sehingga nginapnya di mushalla,” cerita Kiai Haris, Sabtu (8/1/17).

Sekitar pada tahun 1969, pesantren Al-Imam diresmikan. Nama Al-Imam mengambil dari bapaknya, Mbah Imam. “Yang meresmikan adalah Pak Idham Kholid, saat itu menjabat sebagai mentri Kesra. Stempelnya pun dari Darul Qur’an, pesantrennya Pak Idham di Bogor,” tandasnya.

Walaupun mendirikan pesantren, majelis Ta’lim di masyarakat masih tetap aktif berjalan. “Kadang yang mengisi Majelis Ta’lim si Mbah (Nyai Warsiyah-red.) atau ibu (Nyai Istijabah-red.) yang mengajar. Karena ibu mengajar yang muda atau anak-anak,” tukasnya.

Selain mengasuh pesantren, Nyai Istijabah dalam maslah maisah beliau berdagang. Mengambil barang yang sudah jadi kemudian dijual di pasar. Karena waktu mengajar di pesantren pagi dan malam, siang digunakan untuk berdagang. Siang juga terkadang digunakan untuk mengisi acara yang isedental.

Sistem mengajar Al-Qur’an yang digunakan oleh Nyai Istijabah adalah sorogan. “Proses awal, santri paham dengan bab shalat. Kemudian dilanjut mengaji Al-Fatihah. Mengaji Al-Fatihah bisa berbulan-bulan. Setelah itu mengaji bin-nadhar. Ketika terlihat mampu menghafal dan orang tuanya dipanggil, kemudian santri tersebut mulai hafalan,” ceritanya.

Nyai Istijabah selain berguru di Mbah Mufid, juga melancarkan Al-Qur’annya di Mbah Arwani Kudus. “Ibu menjaga istiqamah dan disiplin menguri-nguri dari gurunya,” tandasnya. Kedisiplinan, lanjutnya, dan tanggung jawab Al-Qur’an dipegang benar-benar oleh Nyai Istijabah. “Kalau mengajar Qur’an yang telaten, jangan terburu-buru,” nasehat Nyai Istijabah kepada anak-anaknya ketika diceritakan oleh Kiai Haris.

“Nyai Istijabah bagi keluarga juga dikenal istiqamahnya. Selain mengajar Al-Qur’an beliau berdagang. Walaupun begitu, beliau tetap istiqamah menjaga Al-Qur’an,” Tandas Gus Shofa, putra Kiai Haris. Nyai Istijabah pernah juga menjadi pengganti Nyai Warsiyah mengajar Al-Qur’an beberapa santri di Krapyak. Menjadi pengganti atau badal ibunya, menjadi salah satu alternatif mendidik Nyai Istijabah untuk mengajar Al-Qur’an.

“Salah satu keistimewaan Nyai Istijabah adalah mendirikan pesantren tanpa adanya Kiai. Pesantren diurus oleh beliau sendiri,” ujar Gus Shofa. Pesantren diasuh oleh Nyai Istijabah sampai beliau wafat pada tahun 2014. Kemudian saat ini dilanjutkan oleh putra-putrinya dan menantu. (Solikhin)