Perempuan

Peran Serta Perempuan Dalam Gerakan Anti Korupsi

etika-dan-religiusitas-anti-korupsi-580x330

“Saya Perempuan Anti Korupsi! (SPAK)” melaksanakan Training Of Trainer yang bekerjasama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga pada Jum’at (7/04/2017) sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia. Dalam Training Of Trainer SPAK, perempuan diyakini masyarakat sebagai pendidik utama dan pertama dalam keluarga, khususnya dalam pembentukan diri seorang anak. Bahkan antropologi gender menjelaskan bahwa perempuan mempunyai ketergantungan dengan suami, namun dalam proses pengelolaan keuangan mayoritas ditangani oleh perempuan sehingga perempuan memiliki andil besar mempengaruhi pola pemikiran suami.

Dr. Abdur Rozaki sebagai pemateri dalam pelatihan tersebut menjelaskan bahwa kasus korupsi di Indonesia bersifat sistemik, dan hampir berada pada mekanisme kelembagaan birokrasi pemerintah, penegak hukum, politisi, parlemen dan parpol, serta pengusaha. Sebuah negara yang memiliki parlemen korup akan melahirkan juga kebijakan yang korup, maka diperlukan sebuah pola untuk mengatasi korupsi.

Dalam kehidupan sehari-hari perilaku korupsi dapat ditemui bahkan dilakukan oleh masyarakat yang awam tentang korupsi. “Orang awam bukan berarti tidak pintar, mereka paham kelas sosial, bisa jadi mereka tidak aktif dalam pemberantasan korupsi, namun aktif dalam hubungannya dengan Tuhan,” tegasnya.

Indonesia yang mayoritas beragama Islam memiliki potensi dan peran besar dalam pencegahan korupsi. Gerakan anti korupsi ini sebagai bagian dalam proses jihad untuk membawa manusia kepada jalan kebaikan. Peran serta dan kesadaran masyarakat diperlukan untuk melakukan pencegahan kasus korupsi di Indonesia.

Training Of Trainer ini bertujuan untuk menyerbarluaskan nilai-nilai dan sikap anti korupsi di masyarakat, memberikan pengetahuan tentang UU anti Korupsi, serta memberikan bekal fasilitas bagi agen SPAK. (Nurul)