semesta
Ngaji

Penyangga Semesta

Oleh Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Sewon Bantul

Derevasi lain dari al-haqiqah al-muhammadiyyah yang merupakan cikal-bakal bagi seluruh alam raya adalah al-haqq alladzi qamat bihi as-samawat wa al-ardh. Yakni, kebenaran “aplikatif” yang menjadi tiang penyangga bagi tegak dan berlangsungnya “perjalanan” langit dan bumi dalam merealisasikan kehendak, titah dan cinta hadiratNya.

Bagaimana mungkin tidak menjadi penyangga langit dan bumi dengan seluruh yang dikandung oleh keduanya, bukankah penciptaan seluruh anasir di semesta raya ini bergantung pada kehendak Allah Ta’ala dalam menciptakan rasul terkasihNya, Nabi Muhammad Saw? Dalam sepotong hadis qudsi Rabbul’alamin berfirman: “Alam raya ini hanyalah isyarat. Engkaulah, ya Muhammad, yang menjadi tujuan pokok dari kehendak penciptaanKu.”

Dari sini kemudian menjadi jelas bahwa Tuhan Yang Mahaesa itu untuk pertama kalinya telah melahirkan sesuatu yang sangat unik yang merupakan awal mula sekaligus tambatan bagi segala sesuatu yang lain. Dalam konteks inilah al-haqiqah al-muhammadiyyah itu juga disebut dengan ba’ (باء) yang pada deretan huruf-huruf hijaiyyah menempati urutan kedua setelah alif.

Hakikat ba’ itu tak lain adalah alif. Ia merupakan pengejawantahan alif dalam “bentuk” yang lain. Sebab, bukankah ia tidak berasal-usul dari mana pun kecuali dari alif? Alif itu merupakan simbol yang secara mutlak menunjuk kepada Allah Ta’ala. Sedangkan ba’ menunjuk kepada cahaya Nabi Muhammad Saw jauh sebelum beliau lahir secara jasadi di Mekkah pada 571 M.

Dalam konteks kosmologi sufistik, ba’ itu dipahami sebagai perantara paling agung yang melatari terciptanya segala sesuatu. Ia menunjuk kepada dua hal sekaligus. Yaitu, pada absolusitas hadiratNya di satu sisi dan pada pluralitas sekaligus kenisbian aneka ragam makhluk pada sisi yang lain.

Dan karena posisi strategis secara spiritual itulah beliau kemudian tampil di hadapan seluruh makhluk, utamanya orang-orang yang beriman, sebagai perantara yang paling dekat (اقرب الوسائل الى الله) kepada Allah Ta’ala. Dan karenanya pula secara substansial beliau menjadi satu-satunya pintu untuk memasuki samudera cinta hadiratNya. Jangan pernah bermimpi ada pintu yang lain.

Substansi ba’ itu tunggal. Tapi sejatinya jauh lebih luas dibandingkan dengan seluruh keanekaragaman. Lebih luas dibandingkan dengan dunia dan akhirat sekali pun. Mikrokosmos secara fisik. Tapi makrokosmos secara rohani. Satu yang lebih luas dibandingkan dengan yang banyak.

Tapi walaupun demikian, ba’ itu tetap bukanlah alif. Di satu sisi, ia merupakan bagian dari yang banyak karena bilangan dua yang disandangnya merupakan jumlah yang terkecil darinya. Sementara pada sisi yang lain, ia merupakan representasi yang paling gamblang dan paling mumpuni dari kehadiran Yang Mahatunggal. Bentuk ba’ yang tak sepenuhnya seperti alif adalah lambang dari kemakhlukannya yang terbatas. Sedang titik tunggal yang ada di bawahnya mengacu kepada kemahaesaan Allah Ta’ala.

Dari sini kemudian menjadi semakin mudah untuk bisa dipahami secara spiritual bahwa segala kemuliaan yang merupakan nilai dari setiap tindakan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw sesungguhnya murni merupakan milik Allah Ta’ala, bukan milik Rasul Pungkasan itu. Seandainya semua perbuatan mulia dan segala dampaknya tersebut betul-betul milik Nabi yang menerima Qur’an, tentu saja titik di bawah ba’ itu tak perlu ada sebagai simbol yang menunjuk pada hadiratNya.

Hal itu menunjukkan kepada kita semua bahwa pelaku dari semua kebaikan itu sebenarnya adalah Allah Ta’ala semata, bukan siapa pun yang lain. Dan karena Nabi Muhammad Saw yang paling banyak digunakan untuk melakukan kebaikan di dalam kehidupan ini, maka beliau menjadi yang paling mulia di antara berjibun makhluk di dunia ini. Wallahu a’lamu bish-shawab.

 

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement