Wawancara

Pendidikan Mesti Melahirkan Orang-Orang yang Jujur dan Lurus

masharun ghazali

 

Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif merupakan salah satu lembaga pendidikan di Indonesia yang dimiliki NU. Peran LP Ma’arif di dalam mencetak kader-kader bangsa sudah tidak diragukan lagi. Hal ini tak lepas dari orientasi pendidikan Ma’arif yang kian terarah serta penerapan pendidikan karakter. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai posisi Lembaga Pendidikan Ma’arif serta penerapan pendidikan karakter di dalamnya, berikut redaksi Bangkit menurunkan wawancara dengan Dr. Masharun Ghazali, MA, Ketua PW Ma’arif NU DIY 2011-2016 dan Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Non-formal Kab. Bantul.

Posisi Ma’arif sebagai Badan Otonom NU di bidang pendidikan di Indonesia itu seperti apa?

Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif diposisikan menjadi bagian tidak terpisahkan dari dua induk besar yaitu Kemenag dan Kemendikbud. Di samping itu, secara organisatoris Ma’arif di bawah PBNU, baik di tingkat pusat maupun wilayah. Atas dasar itu, pendidikan harus dibangun atas dasar kenegaraan dan keumatan. Dalam kaitannya dengan kenegaraan, baik  yang berada di Kemenag maupun Kemendikbud, hal itu menyangkut komponen-komponen pendidikannya.

Jika kita merujuk UU Sisdiknas maupun juga tentang standar kompetensi sekolah itu mesti merujuk ke sana. Dari sisi standar isi, kompetensi proses, kemudian juga penilaian, ini semuanya merupakan bagian dari kurikulum nasional. Oleh karena itu, Kita melihatnya bagaimana peran Ma’arif ikut dalam mencerdaskan bangsa.

Bagaimana tingkat kemajuan pendidikan di LP Ma’arif?

Pada tataran ini, kita harus jujur katakan bahwa sekolah-sekolah maupun madrasah-madrasah di Ma’arif memang mengalami flukluatif. Dari sekolah yang sangat maju sampai yang kurang maju, itu ada semua baik ditingkat pusat maupun daerah. Apabila ukurannya adalah akreditasi, baru ada sekitar 30 dari 170 sekolah Ma’arif yang baru mendapat akreditasi A. Tetapi dari sisi prestasi yang lain, hal itu sudah banyak. Misalnya, SMK Ma’arif Kulonprogo yang sudah menjadi rujukan nasional.

Jadi kita meletakkan sekolah kita ini sebagai bagian tak terpisahkan dari sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah lain yang berada di Kemenag maupun di Kemendikbud. Kita mempunyai  target bahwa dengan munculnya tantangan semacam kurikulum dan UN, kita berharap sekolah kita ini mampu bersaing di tingkat nasional.

Apakah Anda optimis dengan harapan tersebut?

Saya tetap optimis. Alasannya, kader-kader NU yang ditempa di kawah candra dimuka-nya NU dengan ASWAJA serta kurikulum yang sudah dikelola dan diolah oleh Ma’arif pusat bekerjasama dengan daerah, ini sebenarnya mempunyai nilai lebih. Apalagi sekarang dengan Menteri Pendidikan dijabat oleh orang NU, yakni Muhammad Nuh, kemudian ada Sekjen sampai tingkat Kepala Dinas juga dijabat orang NU, itu kita bersyukur betul. Melalui Menteri pendidikan dari NU, dalam hal ini Muhammad Nuh, kurikulum 2013 lebih menyentuh dan sesuai dengan yang dicita-citakan NU dan Ma’arif. Misalnya, dengan kurikulum baru ini lebih mengedepankan akhlak mulia.

Dalam kurikulum baru ini, ada tiga ranah, yakni ranah keilmuan (knowledge), sikap, dan keterampilan. Bagi kader-kader Ma’arif, yakni anak-anak yang ada di sekolah maupun madrasah di bawah Ma’arif, mereka sudah mempunyai pembawaan akhlak mulia, baik ditingkat kajian maupun implementasi harian. Maka pada tataran ini, ke depannya kalau urusannya kualitas anak-anak dengan ukuran tiga ranah itu tadi, saya yakin anak didik kita sudah siap lebih dahulu. Jadi kalau urusannya dengan standar isi, standar kompetensi kelulusan, kita harusnya jauh lebih siap menjadi calon pemimpin masa depan dari pada sekolah-sekolah umum.

Bagaimana dengan pengembangan pendidikan karakter menurut Bapak?

Kapasitas saya sebagai Kepala Dinas pendidikan paham betul akan hal itu. Sekarang yang kita galakkan adalah pengembangan karakter. Model itu yang dikembangkan sejak zaman Muhammad Nuh, yakni mencakup nilai religius, jujur, toleransi, dan sebagainya. Kita bisa ambil contoh aspek religius. Sekarang, di sekolah-sekolah umum sudah hampir mirip dengan sekolah-sekolah di Ma’arif, yakni pagi dibuka dengan tadarusan, masuk dengan salaman dan melakukan pengajian.

Bagaimana pengembangan karakter diterapkan, misalnya ketika menghadapi UNAS?

Saya punya kiat sukses UNAS di Kabupaten Bantul yang diterapkan oleh Ma’arif karena saya membawa apa yang diperoleh di Dinas ke Ma’arif dan sebaliknya. Dari kunci sukses tersebut, tingkat SMA di Bantul sudah tujuh kali berturut-turut juara umum. Kiat sukses yang saya terapkan itu merupakan manajemen Rasulullah Saw. Pertama, namanya soskam, sosialisasi dan kampanye. Ini identik dengan dakwah. Misalnya, anggaplah UNAS itu hal yang penting karena merupakan tuntunan dan sekaligus juga tuntutan agama. Karena jika kita melihat surat al-Mulk ayat 2 disebutkan:dikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun

Jadi, kita diciptakan oleh Allah Yang Maha Kuasa mau dilihat siapa yang paling bagus amal ibadahnya. Ibadah saya artikan secara umum (tidak hanya ritual semata, red-), termasuk belajar, ujian, dan sebagainya. Ahsanu ‘amalâ (yang lebih baik amalnya) saya terjemahkan dengan prestasi, yakni hasil ujian yang dilaksanakan. Saya mengambil dari surat al-Baqarah ayat 45,

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”

Intinya adalah kalau malam tahajjud, puasa senin dan kamis, dan sebagainya. Amal itu dijadikan wasilah (perantara) untuk kesuksesan UNAS. Itu saya kampanyekan kepada para guru, siswa, dan para wali muridnya, ternyata hasilnya luar biasa. Amalan-amalan itu kan sudah biasa dilakukan oleh anak-anak kita, anak-anak pesantren dan Ma’arif.

Kedua, tajam (tambahan jam pelajaran). Bagi anak-anak kita yang berada di Pesantren, kemudian paginya di Sekolah, mereka belajar terus-menerus 24 jam, hal itu tidak apa-apa, sudah terbiasa. Menambah jam pelajaran artinya dalam meraih prestasi tidak cukup hanya mengandalkan jam kurikuler. Jam kurikuler harus ditambah lagi dengan ekstrakulikuler. Saya masih ingat, kalau di pesantren itu kan bantalnya itu dari kelapa. Kelapa itu digunakan bantal dengan harapan begitu tidur, terus bisa bangun.

Ketiga, tryout, artinya melanyahkan atau menfasihkan atau juga berarti membuat siap untuk ujian dengan menjawab soal-soal. Keempat, AMT (Achievement Motivation Training), yaitu memberikan semacam motivasi untuk berprestasi dan meraih dunia ke depannya untuk lebih bagus, baik dari segi ekonomi, jabatan, dan sebagainya. Kelima, mujahadah, yang itu kan juga amaliah kita.

Nah, ternyata dengan ini (kelima poin di atas, red-) sudah dilakukan Ma’arif. Bahkan, kita bisa mengaplikasikannya di sekolah umum. Jadi anak-anak Ma’arif memiliki peluang lebar untuk menjadi orang-orang yang memegang jabatan atau menjadi pemimpin nasional, karena dibutuhkan orang-orang yang religius, jujur, toleran, dan sebagainya.

Apakah dengan pendidikan karakter model NU, bisa berpeluang menjadi pemimpin negara?

Pendidikan karakter melahirkan orang-orang yang jujur dan lurus. Kalau mereka bisa menggabungkan antara ilmu umum dan agama, baik melalui jalur pendidikan di Kemenag atau di Kemendikbud, bisa jadi pemimpin. Buktinya saya bisa menjabat di sini (Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Non-formal, red-) dan banyak sekali tokoh-tokoh NU, mereka dididik dengan pola didikan Ma’arif dan pesantren, bisa menjadi pemimpin bangsa. Ini berkaitan dengan kaderisasi dan buku ke-ASWAJA-an yang dijadikan pedoman pokok di lingkungan sekolah-sekolah Ma’arif.

Ternyata kader-kader kita ini mampu untuk berbangsa dan bernegara. Kemudian, dalam kehidupan nyata, pengamalannya itu mengkomunikasikan antara aspek-aspek yang berkaitan dengan akidah, syariah, dan akhlak. Itu yang menjadi kriteria pemimpin negara yang rahmatan lil alamin. Saya yakin, melalui Ma’arif ini ke depan kader-kader NU siap menjadi pemimpin negara ini.

(Anas/Suhendra)