Pesantren

Pemerintah Kota Semarang Dukung Penuh Gerakan AyoMondok

ayomondok
Semarang, bangkitmedia.com
“Kami pemerintah kota Semarang mendukung penuh gerakan Ayo Mondok ini. Dengan mondok di pesantren yang tepat dan benar akan menjadi anak-anak kita memiliki karakter yang bagus dan mulia,” ungkap Walikota Semarang Hendar Prihadi saat pembukaan Semarang Great Sale (Semargres) pada (9/10).
Pada pembukaan Semarang Great Sale (Semargres), mengusung tema “Sarung Is My New Denim”. Gerakan Nasional AyoMondok berpartisipasi aktif ikut dengan mengikuti pawai dan membagikan stiker AyoMondok. Untuk rute yang dilalui mulai dari halaman Balaikota, Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Piere Tendean dan kembali ke Jalan Pemuda menuju Balaikota (9/10).
IMG-20170410-WA0046
Ciri seorang santri bawahan dengan balutan sarung dan berpeci telah lama dikenal. Dengan menggunakan sarung peserta dari berbagai komunitas mulai dari sosialita, difabel, komunitas batik, kamar dagang, perhimpunan hotel dan restoran, gerakan pesona Indonesia dan wartawan memeriahkan perhelatan ini. Dengan berbagai aksesoris dan pernak-pernik sesuai dengan identitas masing-masing. Dalam pembukaan tampak segenap pejabat pemerintah kota Semarang hadir.
Dalam dunia pesantren terdapat adagium bahwa memelihara (mempertahankan) tradisi yang baik dan mengambil sesuatu yang baru (modernitas) yang lebih baik. Gerakan AyoMondok menjadi ejawantah dari mengambil sesuatu yang baru. Memperkenalkan pesantren dengan cara baru agar masyarakat secara luas memahami bahwa pesantren senantiasa menjaga dan mengawal negara Republik Indonesia dalam ranah pendidikan.
“Gerakan ini perlu kita ingatkan kembali, hal ini sudah dua tahun semenjak awal Juni 2015. Momen ini tepat dengan adanya haflah pesantren dilanjutkan dengan rangkaian penerimaan santri baru”, ungkap KH. Mandzur Labib Koordinator Gerakan Nasional AyoMondok Jawa Tengah dihubungi melalui telepon selulernya.
Ketua asosiasi pesantren (RMI NU) Jawa Tengah ini menambahkan bahwa dengan adanya Gerakan Nasional AyoMondok ini pesantren mengalami penambahan santri baru. Minat untuk memondokkan santri kembali bergairah ditengah persaingan pendidikan yang mengedepankan otak daripada akhlak.
Muhammad Zulfa, Kontributor Semarang