Pendidikan

PAUD dan TK Sahabat, Menanamkan Karakter Melalui Praktek (II)

menggambar
Kegiatan menggambar di PAUD dan TK Sahabat

Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran di PAUD/TK Sahabat dibagi dalam 2 kelompok belajar dan dibedakan berdasarkan usia. Peserta didik yang sudah mendekati usia sekolah dasar (SD/MI dan yang sederajat), digabungkan dalam kelompok tersendiri. Setiap pekan, kegiatan belajar dilaksanakan 5 hari mulai hari Senin-Jumat untuk semua kelompok belajar. Khusus hari Sabtu, diadakan les (pendalaman materi) bagi peserta didik yang mendekati usia sekolah dasar. Kegiatan ini diprogramkan khusus mengingat kenyataan di Indonesia, khususnya DIY, calon peserta didik yang ingin memasuki jenjang sekolah dasar sekarang tidak hanya ditentukan oleh usia namun juga diseleksi berdasarkan kemampuan yang dimiliki ketika mendaftar.

Pada hari belajar biasa (Senin-Jumat), kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan tema. Lebih banyak digunakan untuk bermain, berinteraksi, dan penanaman karakter. Tema umumnya mencakup  hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah), hubungan manusia dengan sesamanya (hablum minannas), dan hubungan manusia dengan alam sekitar (hablum minal alam).

“Saya itu jarang serius ngajar. Lebih sering digunakan untuk jalan-jalan. Karena saya melihat bahwa daerah ini potensial untuk belajar sambil jalan-jalan. Di dekat sekolah itu ada kandang sapi. Peserta didik bisa belajar berinteraksi dengan binatang. Tidak jauh dari sini juga ada bandara. Anak-anak bisa masuk bandara, masuk museum gratis. Karena kita tetangga ya digratiskan,” tutur Bunda Netty menjelaskan salah satu keuntungan geografis yang didapat sekolahnya.

Sembari menikmati tempat-tempat tersebut, peserta didik diajak berdialog dan dijelaskan mengenai banyak hal terutama menyangkut hubungan manusia dengan alam sekitar (hablum minal alam). Peserta didik juga diajak berinteraksi secara baik dengan sesama (hablum minannas). Sedangkan penanaman nilai keagamaan dalam merajut hubungan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah) selain melalui pemahaman keagamaan juga dilatih dalam bentuk ibadah mahdhah seperti praktek ibadah sholat dan wudhu.

Setiap hari efektif, sebelum jalan-jalan atau pembelajaran di kelas, peserta didik diajak untuk praktek ibadah dahulu di masjid samping sekolah. Cara beribadah yang dilaksanakan juga disesuaikan dengan tingkat usia peserta didik. “Untuk anak-anak yang masih sangat kecil kami ajak praktek wudhu tanpa menggunakan air, hanya tepuk. Kalau prakteknya pakai air, mereka nanti malah mainan air”, lanjut Bunda Netty mencontohkan. Praktek sholat yang dijalankan juga menyesuaikan. Untuk anak usia PAUD, biasanya hanya dilaksanakan satu rakaat, untuk melihat kemampuan bacaan dan melatih kebiasaan. Untuk usia TK sudah mulai dibiasakan sholat dhuha. Selain membiasakan sholat, setiap pagi anak-anak juga diajarkan membaca Qur’an dengan buku “Ummi”.

Menyikapi perbedaan pemahaman keagamaan, khususnya dalam hal ibadah, Bunda Netty berusaha untuk selalu berkomunikasi secara baik dengan orang tua/wali peserta didik. Yang diajarkan di sekolah diusahakan untuk tidak berbeda jauh secara amaliah dengan orang tua peserta didik.

“Harapan saya tidak muluk-muluk. Saya pinginnya, keberadaan sekolah ini diterima dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Marilah sekolah ini dimajukan bersama-sama. Kalau ada masalah apapun, seperti biaya misalnya, bisa dibicarakan. Meskipun seperti hanya bermain-main, kegiatan-kegiatan tersebut sangat bermanfaat. Apalagi jika melihat gempuran budaya yang terjadi di masyarakat kita sekarang, anak-anak harus diberi pemahaman dan didampingi semenjak dini”, pungkas Bunda Netty menutup perbincangan mengenai PAUD dan TK Sahabat. (Wahid/Anas)