perbedaan
Opini

Paradigma Islam Menyikapi Perbedaan

Oleh: Rohmatul Izad. Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM, Ketua Pusat Studi Islam dan Ilmu-Ilmu Sosial di Pesantren Baitul Hikmah Krapyak Yogyakarta.

Sejatinya, Islam sangat menghargai perbedaan. Dalam sejarah Islam, perbedaan dan pluralitas merupakan sesuatu yang lumrah, bahkan ia boleh dibilang sebagai Sunnatullah. Justru, usaha-usaha yang mengarah pada penyeragaman perbedaan adalah upaya yang sia-sia belaka. Perbedaan adalah kekayaan dan potensi yang mesti digunakan untuk membangun bangsa ke arah yang lebih baik.

Terlepas dari isu politik dan wacana cawapres, apa yang telah disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Ma’ruf Amin pada tahun 2017 lalu, sangat mengarik untuk disampaikan, yakni pada saat peringatan Harlah MUI ke-42 tentang Islam dan kebhinekaan.

Kata Kyai Ma’ruf, paradigma Islam dalam menyikapi perbedaan dalam masyarakat dan bernegara sudah sangat jelas dan tegas, yakni Islam sangat menghargai perbedaan dan tidak pernah mempersoalkannya.

Apa yang disampaikan oleh Kyai Ma’ruf di atas menjadi sesuatu yang sangat menyejukkan dan perlu menjadi renungan bersama. Apalagi saat ini bangsa sedang dilanda hiruk pikuk kehidupan yang mempersoalkan perbedaan. Entah itu perbedaan suku, etnis, agama, maupun hanya sekedar perbedaan politik semata.

Tak dapat dipungkiri akhir-akhir ini, perbedaan sikap politik, baik antar partai atau individu, membuat seakan-akan kita terbelah menjadi berbagai kubu yang saling berlawanan. Akibatnya, kemarahan dan kebencian tak jarang membuat suasana politik kita tidak sehat. Tentu, hal ini sangat merugikan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di mana perpecahan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja.

Yang lebih memprihatikan, agama dibawa-bawa ke ranah politik praktis dan tak jarang menjadi justufikasi untuk menebar kebencian, fitnah, serapah dan saling mencela satu sama lain. Padahal, sejatinya agama (Islam) tidak pernah mengajarkan hal yang demikian. Itulah politik, apapun yang dikaitkan dengannya, pasti akan menjadi korban.

Secara internal, Islam sendiri sudah senyatanya menghargai perbedaan, tetapi ketika ia diperalat untuk kepentingan politik dan tujuan-tujuan tertentu, maka perbedaan itu sekan-akan menjadi musuh yang perlu dilawan dengan cara apapun, bahkan kalau perlu ditumpas atau dihabisi. Keadaan semacam ini tentu menjadi masalah, sebab jika diterus-teruskan, akan berakibat pada perpecahan dan mengancam keutuhan bangsa.

Dalam menyikapi hal yang demikian itu, di samping perlu berpolitik secara bijak, umat Islam juga dapat belajar dari agamanya sendiri, melalui berbagai perbedaan yang ada di tubuh Islam itu sendiri. Misalnya, dengan melihat berbagai aliran dan mazhab yang berbeda-beda dalam Islam. Perbedaan-perbedaan itu, tidak pernah dipertentangkan secara tajam, jika masih berpegang pada pondasi yang sama, maka perbedaan bisa disikapi secara bijak dan lebih bersikap saling menghormati satu sama lain.

Dalam konteks menyikapi perbedaan pandangan terhadap berbagai hal, Allah telah berfirman dalam QS. An-Nisa’: 59, “Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik akibatnya”.

Jelas, ayat ini memberikan pedoman dasar kepada kita semua mengenai beberapa prinsip dalam menyikapi perbedaan dan memelihara kehidupan bersama-sama. Tidaklah mungkin dikehidupan ini satu pendapat dapat diterima oleh semua golongan, begitupun sebaliknya.

Jadi perbedaan itu adalah sesuatu yang sangat biasa dalam Islam. Saling serang boleh-boleh saja dan itu sangat sering terjadi, tetapi umumnya dilakukan berdasarkan argumentasi yang ilmiah dan rasional. Selebihnya, umat Islam biasanya menyikapi perbedaan pandangan dengan cara saling menghormati satu sama lain. Bukan malah menyerang dan menyikapi perbedaan secara emosional.

Itulah contoh penting, bagaimana paradigma Islam dalam menyikapi dan memposisikan perbedaan. Bahkan, Islam juga memiliki tuntunan dalam memposisikan perbedaan dengan penganut agama yang lain. Misalnya, dalam keadaan di mana masyarakat di suatu negara hidup dalam kultur dan agama yang berbeda-beda, serta keadaannya aman dan damai, maka umat Islam juga harus sama-sama menjaga perdamaian itu dan memposisikan penganut agama lain sebagai warga yang sama pentingnya dengan individu umat Islam. Sebagaimana di Indonesia, siapapun, tanpa pandang suku dan agama, dapat hidup berdampingan satu sama lain.

Keadaan-keadaan semacam ini, yakni bagaimana Islam menyikapi perbedaan, baik dalam tubuh Islam sendiri atau di luar Islam, harus menjadi pelajaran penting bagaimana kita harus menyikapi politik secara bijak dan terhormat. Jika perbedaan aliran saja sudah biasa, mengapa hanya sekedar perbedaan sikap politik saja sudah membuat kita saling bermusuhan dan memecah belah.

Bahkan, kita mudah sekali menyalahkan mereka yang berbeda pandangan dalam politik, yang pada gilirannya membuat kita saling menyerang dan mencaci maki, alih-alih berargumentasi secara rasional untuk mendukung atau menilai kubu politik tertentu, kita justru mudah terjebak pada politik adu-domba.

Kita harus mampu memahami bahwa perbedaan itu, dalam hal politik atau yang lainnya, tidak boleh menghalangi kita untuk tetap saling bekerjasama (bermuamalah), bersilaturahim, dan tetap saling menjaga kerukunan serta menjaga persatuan dan kesatuan. Inilah yang semestinya menjadi paradigma Islam dalam menyikapi suatu perbedaan.

 

 

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement