Ngaji

Pak Sidik Yang Jujur

Jujur-itu-INDAH
http://www.sbhudiharto.com

Oleh : KH. Henry Sutopo, Santri KH Ali Maksum Krapyak

Tahun 2013, anakku yang nomor tiga kelas 6 SD, namanya Muhammad Khazimi/Zimi menitipkan uang jajan sekolah kepadaku sambil ngomong, bahwa ia ingin menabung untuk merayakan ulang tahun Ibunya dua bulan ke depan. Tapi secara diam-diam. Kepingin buat surprise kejutan kepada Ibunya.

Saat aku tanya, bentuknya seperti apa? Anakku menjawab. Nanti kalau uangnya sudah genap 300 ribu, mau ngajak makan bersama di rumah makan, sekalian merayakan ulang tahun Ibunya kecil-kecilan.

Saat hari Ulang tahun tiba, Aku dan Istri dengan empat orang anakku, refreshing di sebuah rumah makan pilihan anakku. Sambil menunggu pesanan makanan dan minuman, aku cerita bahwa sponsor acara ini si Zimi untuk merayakan ulang tahun Ibunya. Sekaligus nanti dia yang mbayari alias bossnya.

Setelah sekadar muqoddimah membuka acara, aku mengambil plastik dari sakuku yang berisi uang titipan anakku. Uang itu dalam bentuk recehan dengan jumlah dan wujud persis sama saat anakku nitip.Aku serahkan plastik isi uang kepada Zimi dan aku suruh menghitungnya. Si Zimi lantas komplain, kenapa uang titipannya kok tidak diganti dengan uang yang nominalnya besar dan utuh bukan recehan seperti itu? Malu katanya, nanti kalau mbayar pakai uang receh seperti itu!

Lantas kujelaskan, bahwa aku tidak berani menukar apalagi mengambil uang titipannya karena itu bukan milikku. Uang titipan sebaiknya wujud dan jumlahnya sama ketika mau diambil sama yang nitip.

Selanjutnya aku bercerita tentang pesan Kakek (Almarhum Bapakku Ahmad Asyrofi). Saat Beliau masih hidup pernah bercerita tentang kejujuran Pak Sidik Bendahara Majelis Ta’lim di mana Bapakku jadi ketuanya.

Kebetulan aku juga sangat mengenal Pak Sidik yang tinggal satu kampung denganku. Beliau sehari hari bekerja sebagai Tukang Binatu kalau sekarang Loundry.

Saking jujurnya Pak Sidik ini, jangankan mengurangi atau memakai uang titipan, mengubah nominal atau menggantinya saja tidak berani. Uang Majelis Ta’lim yang ia simpan, bentuk lipatannya saja tidak berubah sampai uang itu diminta sama yang nitip. Subhanallah. Cocok dengan arti namanya Sidik alias Jujur.

Alhamdulillah pesan Bapakku itu sampai saat ini masih aku pegang dan kulaksanakan sampai uang titipan anakku sendiri aku perlakukan sama. Selanjutnya aku meneruskan cerita kepada Istri dan anak-anakku, yang pada intinya berusahalah jadi orang yang jujur dan bisa dipercaya menjaga amanah.

Kejujuran itu menjadi barang yang langka dan tidak mudah melakukan, terlalu banyak godaan untuk tidak jujur, padahal jelas Allah SWT telah berfirman dalam Surat At-Taubah 119 Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.

Rasulullah SAW pernah bersabda :Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke Surga, dan jika seseorang membiasakan dirinya jujur, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan bohong akan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka, dan seseorang yang suka bohong, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pembohong. (HR Bukhori Muslim)

Dalam Hadis yang lain Nabi SAW bersabda: Maka sesungguhnya kejujuran itu membawa ketenangan, sedang kebohongan itu membawa kegelisahan. (HR Attirmidzi)

Sempat pula aku bercerita pula tentang kejujuran Sang Kakek (Bapakku) yang aku saksikan sendiri. Saat aku masih Sekolah Dasar, Bapakku menjadi Naib Kepala KUA Pencatat Nikah di suatu Kecamatan Kota. Waktu itu ekonomi sulit, makan nasi tidak bisa setiap hari, biasanya nasi jagung dengan lauk seadanya, jika ada telur biasanya satu telur dibagi delapan bagian. Para Naib yang lain sudah punya motor Vespa Sprint, Bapakku cuma pakai sepeda onthel terpedo yang dicat ulang hitam tebal pakai jari tangan.

Pada suatu hari, Bapakku menerima tamu suami istri orang kaya naik Sedan Impala yang saat itu jarang orang punya, biasanya yang punya Juragan Batik yang besar. Tamu itu sebelum ditemui Bapakku lebih dulu ke ruang dapur memberikan dua keranjang bingkisan kebetulan aku yang menerima. Sempat kulihat isinya antara lain ayam goreng dan pisang raja super yang sudah masak.

Aku dan kakak perempuanku menunggui bingkisan itu dengan menahan liur karena lapar dan berharap mau makan enak. Sempat kakakku sambil nengok kanan kiri mengambil satu pisang kemudian diparo (dibagi-red) dan menyuruhku makan cepat-cepat agar jangan ketahuan Bapak.  Pisang yang diambil satu tadi posisinya diubah sedemikian rupa sehingga dari luar tidak tampak kalau sudah ada yang diambil.

Tamu itu ternyata punya urusan dengan Bapakku menyangkut pernikahan anaknya yang tidak memenuhi syarat aturan. Persisnya aku tidak tahu. Tapi yang jelas Bapakku tidak bisa memenuhinya karena itu melanggar aturan. Sempat aku nguping pembicaraan pada intinya tamu itu minta tolong Bapakku untuk memenuhi permintaannya, dan menjanjikan imbalan uang yang cukup besar pada saat itu.

Mendengar tawaran tamunya itu, awal mula Bapakku menolak dengan sopan dan halus, demi menghargai tamu, tapi rupanya sang Tamu tetap ngotot permintaannya harus dituruti, bahkan menjanjikan mau ngasih sepeda motor Vespa.

Bapakku tersinggung marah, lantas mengusir tamu itu untuk segera pulang, Sang Tamu pun kelihatan takut dan pamit pulang. Tapi sebelum masuk mobil, Bapakku minta tamu untuk berhenti sebentar, bergegas Bapak masuk ke dapur sambil menanyakan bingkisan yang dibawa Tamu.

Aku dan kakak perempuanku melihat wajah Bapak yang memerah jadi ketakutan dan cuma terdiam. Memandang dua keranjang bingkisan itu, sambil deg degan khawatir ketahuan sudah ngambil pisang, tapi untung dari luar pisangnya masih kelihatan utuh.  Kelihatan menahan emosi Bapakku membawa dua keranjang bingkisan itu ke mobil tamu dan menyerahkannya kembali untuk segera dibawa pulang.

Setelah Tamunya pergi, kakak perempuanku menangis marah-marah kepada Bapak. Sambil ngomel-ngomel ngatain Bapak pantesan miskin, nggak punya motor, anak-anaknya pada kurang gizi kudisan dan sebagainya. Intinya kenapa bingkisan yang sudah dikasih kok dikembalikan.

Bapakku cuma diam. Begitu kakak perempuanku berhenti ngomel kehabisan kata, Bapak langsung bilang : “Kalau tidak mau punya Bapak yang seperti ini, silahkan cari Bapak yang lain!” Sambil pergi meninggalkan aku dan kakakku yang jongkok terpaku gemetar karena takut kepada Bapak dan  nahan emosi karena tidak jadi makan enak.