Perempuan

Nyai Hj. Ida Rufaida Ali: Ibu itu Telaten dan Tangguh

HJ. Ida Rufaida Ali
HJ. Ida Rufaida Ali

Ibu Nyai Hasyimah binti KH M. Munawwir adalah istri KH Ali Maksum yang berperan besar dalam kemajuan pendidikan di Krapyak. Sosok Ibu Nyai Hasyimah selain pemberani dan tangguh, juga sosok yang telaten dan sabar dalam merawat amal jariyah yang ditinggalkan sang suami tercinta. Selepas Kiai Ali wafat, Ibu Nyai Hasyimah bersama putra-putrinya mengembangkan pendidikan di Krapyak yang sekarang semakin maju dan berkontribusi besar dalam mencetak kader-kader muda masa depan bangsa.

Kesaksian ihwal Ibu Nyai Hasyimah dituturkan oleh salah satu putrinya, Nyai Hj. Ida Rufaida. Bagi Ibu Ida, Sang Ibu adalah sosok yang gigih berjuang sejak usia muda. Tidak banyak yang tahu tentang Ibu Nyai Hasyimah, karena yang diulas lebih besar adalah KH Ali Maksum. Berikut wawancara redaksi Bangkit dengan putri bungsunya, Hj. Ida Rufaida Ali.

Bagaimana Ibu Nyai Hasyimah di masa muda?

Ibu itu orangnya berani dan semangat dalam belajar. Sejak belia, Ibu diasuh oleh Simbah Kiai Munawwir. Perhatian Simbah Kiai Munawwir kepada putra-putrinya sangat besar, apalagi dalam hal al-Quran. Makanya, Ibu Nyai Hasyimah itu sangat gemar membaca al-Quran sejak usia belia. Toh demikian, Ibu juga belajar baca tulis latin dengan sang paman, Romo Salim. Ibu juga belajar menjahit dan keahliannya dalam menjahit sudah tidak diragukan lagi. Ibu juga mahir mengendarai sepeda, sedangkan saat itu perempuan naik sepeda masih tabu. Dengan mahir naik sepeda, Ibu bisa aktif mengikuti kegiatan belajar dan kegiatan bermasyarakat.

Jadi, Ibu itu sejak muda memang memiliki semangat yang besar dalam belajar. Padahal, perempuan di jaman itu, masih terbatas akses belajarnya. Yang dilakukan Ibu semata-mata bentuk perjuangan meraih ilmu dan ridho Allah SWT.

Bagaimana kisah awal pernikahan Ibu Nyai Hasyimah dengan KH Ali Maksum?

Bapak itu pernah bilang begini: “Ibu tidak mau dinikahkan selain dengan Bapak.” Ini disampaikan Bapak waktu kita anak-anaknya sedang berkumpul bersama di rumah. Tentu saja, Ibu tersenyum saat itu.

Di awal pernikahan, keduanya sangat bahagia. Ada kisah menarik soal ini. Setelah menikah dengan Ibu, Bapak yang waktu itu masih pengantin baru sowan ke Tremas. Tidak disangka, Bapak disambut banyak santri yang berjejer mulai dari jalan Bapak turun sampai Ndalem Kiai. Padahal waktu itu Bapak masih santri, belum dikenal kiai besar.

Ini bukti bahwa Bapak di Tremas itu disukai banyak teman santri. Tentu saja, banyak kenangan yang tak dilupakan Tremas dengan Bapak. Makanya, belum lama saya silaturahim ke Tremas, saya masih menyaksikan bersama para Kiai Tremas sekarang, bahwa kamarnya Bapak saat nyantri itu masih ada, asli sejak dulu. Kamarnya Bapak ini diabadikan untuk mengenang Bapak yang dulu telah melakukan pembaharuan pendidikan di Tremas.

Bagaimana Peran Ibu Nyai Hasyimah dalam mendampingi KH Ali Maksum?

Ibu itu orangnya telaten, merawat dan tangguh. Sejak usia belia sudah menunjukkan itu. Saat mendampingi Bapak, apalagi saat Bapak menjadi tokoh besar, sifat ibu yang telaten itu mampu menjaga keseimbangan. Ketangguhan Ibu juga luar biasa, karena banyak sekali gagasan-gagasan yang bukan saja disuarakan, tetapi dijalankan Ibu dengan sungguh-sungguh dan baik. Kalau aktivitas perempuan sekarang bergerak di seminar demi seminar, Ibu itu sosok aktivis perempuan yang bergerak langsung kepada santri dan masyarakat dan dirasakan benar manfaat kehadiran beliau.

Jariyah Ibu dalam mengabdikan diri kepada umat bisa dilihat dari berdirinya TK, lahirnya Diniyah, Pengajian Jum’at Legi, Pengajian Malam Sabtu Wage, menggagas berdirinya Pondok Putri untuk MTs dan Aliyah. Ini semua tak bisa dilepaskan dari peran Ibu. Sangat gigih dalam memperjuangkan itu semua.

Setelah KH Ali Maksum wafat, bagaimana?

Iya, ini fase yang sangat luar biasa bagi Ibu. Salah satu wasiat Bapak, warisan untuk ahli waris hanya sepertiga, sedangkan dua pertiga diwakafkan. Ini yang mengatur semuanya ya Ibu. Ibu justru sangat bahagia, karena yang dilakukan Bapak itu adalah bekal untuk masa depan. Ibu juga sama sekali tidak khawatir hanya mendapatkan sepertiga dari warisan. Ini yang ditanamkan Ibu kepada putra-putrinya.

Selain itu, setelah Bapak wafat, Ibu juga yang mengelola koperasi. Gerakannya  adalah membuat dana sosial, di mana hasil koperasinya bukan dibagi tujuh (Ibu dan 6 putra-putriny-red), melainkan delapan. Satu bagian dari delapan ini adalah untuk dana sosial. Dana sosial itu adalah berkah, sampai sekarang bisa dirasakan keluarga dan masyarakat.

Selain itu, setelah Bapak wafat. total pengelolaan pesantren berada di tangan Ibu. Sampai pada pembangunan-pembangunan gedung pondok juga dilaksanakan Ibu. Sangat teliti Ibu ketika melaksanakan pembangunan, bahkan sampai yang sangat kecil sekalipun.

Terkait dengan al-Quran, Ibu memang tidak menghafalkan al-Quran, tetapi kalau mendengarkan bacaan al-Quran yang dibaca santri, Ibu langsung tahu kalau ada kesalahan.

Kalau mendengarkan santri ngaji, ada sedikit kesalahan saja Ibu bisa tahu. Ini saking lancarnya Ibu dalam membaca dan memahami al-Quran. Ibu memang sangat gemar baca al-Quran.

Kalau dengan Putra-putri Sendiri, Bagaimana?

Tentu saja, Ibu sangat sayang dengan putra-putrinya. Oh ya, Ibu itu pinter menjahit. Sampai baju anak-anaknya itu dibikin sendiri. Model pakaian yang dibuat Ibu juga modern, melampaui model pada masyarakat saat itu.

Ibu juga sangat perhatian dengan pendidikan kita. Setiap kali aku mengikuti kegiatan, selalu saja ibu bertanya, “Kamu tadi bertanya apa tidak?” Begitu Ibu selalu menganjurkan untuk selalu berfikir.

Kepada saya, Ibu itu sangat berharap saya bisa menjadi qori’. Bahkan sampai mendatangkan pelatih untuk mengajari qori. Pelatihnya bahkan selalu dimanja dengan makanan yang enak.

Lha padahal, Bapak dan Ibu kan tidak punya jiwa seni. Masak saya mau diwarisi seni yang saya tidak punya bakat. (Ibu Ida mengisahkan sambil menghela nafas penuh senyum)

Selalu Berusia 15 Tahun

Saat Bapak menjadi Rais Aam PBNU,  banyak sekali tamu yang datang, termasuk para wartawan. Kalau tanya soal anak, pasti saya yang anak terakhir dikatakan masih berumur 15 tahun. Setiap yang wawancara soal itu, selalu jawabannya sama, saya masih berumur 15 tahun.

Saat itu saya protes, kenapa Bapak kok selalu jawab 15 tahun?

“Aku kan tidak plin-plan. Kalau dijawab 15 tahun, ya selalu 15 tahun,” jawab Bapak sambil tertawa.

Jadi waktu saya sudah kuliah, dan setiap mau datang bulan pasti perutnya sangat terasa sakit. Dan waktu tengah malam bapak melihat saya pingsan menahan rasa sakit tersebut. Kemudian bapak bertanya kepada ibu.

“Ida kok merasa sakit perutnya seperti itu kenapa?” Tanya Bapak.

“Lha ya, kalau lagi haid, Ida ya begitu, sakit perutnya,” Jawab Ibu.

“Oh, Ida itu sudah haid ya.” Bapak menegaskan.

Setelah tahu kalau saya sudah haid, kemudian Bapak merencanakan untuk menikahkanku. Seandainya Bapak tidak melihat saya tidak sadarkan diri karena sakit perut, mungkin saja Bapak selalu menganggapku masih kecil, masih usia 15 tahun. (Muyassaroh)

2 Komentar

Klik untuk komentar