Budaya

Nyadran, Tradisi Mendoakan Leluhur yang Sarat Nilai-Nilai Islam

nyadran21Memasuki pertengahan bulan Sya’ban atau bulan Ruwah dalam istilah masyarakat Jawa, muslim di pedesaan pulau Jawa, terutama wilayah Jawa Tengah, DIY, dan sekitarnya, melaksanakan tradisi rutinan berupa nyadran. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan.

Kegiatan yang biasa dilakukan saat nyadran atau ruwahan diantaranya adalah: menyelenggarakan kenduri dengan pembacaan ayat Al-Qur’an, dzikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama; melakukan besik yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan; melakukan ziarah kubur untuk mendoakan arwah leluhur agar diampuni dosanya oleh Allah swt. Terkadang juga diisi tausiyah tentang berbagai ajaran islam oleh para ulama.

Dalam sejarahnya, tradisi nyadran merupakan proses islamisasi yang dilakukan oleh para ulama di nusantara. Pada awalnya tradisi nyadran merupakan pemujaan roh kepada para leluhur. Para ulama kemudian meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu karena mengandung unsur syirik.

Para ulama kemudian bertindak bijaksana, mereka tidak serta merta menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Dengan upaya tersebut, maka tradisi nyadran tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Bahkan nyadran bisa menjadi media agar umat Islam senantiasa mengingat para leluhurnya, baik ayah, ibu, kakek, nenek, dan segenap famili, lalu mendoakan mereka. Selain itu, nyadran juga menjadi pengingat akan ada kematian (dzikrul maut), sehingga diharapkan umat Islam semakin giat beribadah kepada Allah swt. (red)

(Dari berbagai sumber)