Budaya

NU dan Sepeda Ontel

Naik Sepeda

Oleh: Muhammadun

Berdiri pada 31 Januari 1926, NU berdiri dalam gerak dua arah: jam’iyyah dan jama’ah. Pada level jam’iyyah, NU mengembangkan diri sebagai organisasi dengan standar pengelolaan untuk menjawab tantangan jaman. Sedangkan pada level jama’ah, NU adalah barisan kultural umat Islam yang setia menjaga tradisi. Bukan tradisi yang “mandek”, melainkan tradisi yang sinergis dengan nilai agama dan nasionalisme. Dari sini, NU selalu berdiri paling depan membela tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Gerak dua arah ini selalu menghadirkan beragam peluang sekaligus jebakan buat NU. Kalau terseret arus politik oprtunis, NU bisa menjadi malapetaka. Tetapi kalau NU teguh menjaga prinsipnya, maka lahirlah gelora perjuangan. Tarik menarik tentu saja sering terjadi, untung saja NU selalu kembali kepada garis perjuangannya, yakni Khittah 1926. Dalam Khittah 1926 inilah, NU mesti menoleh kepada jejak salah satu tokohnya, yakni H. Hasan Gipo, seorang aktivis-saudagar yang menjadi Ketua Umum PBNU pertama.

Hasan Gipo merupakan orang yang pertama kali mendampingi KH Hasyim Asy’ari dalam memimpin NU. Karena itu, jejak Hasan Gipo menjadi salah satu tonggak berdirinya NU dan inspirator gerakan NU dalam menjawab berbagai persoalan jaman. Hasan Gipo sadar betul bahwa warga NU banyak berada di lapisan masyarakat desa. Karena itu, ketika ia memimpin NU (1926-1939), kemandirian warga NU adalah langkah yang selalu digerakkannya. Ia gerakkan NU dengan semangat kemandirian, tak mau berada dalam ketiak kolonial. Makanya, NU saat itu selalu berhadapan dengan penjajah.

 

Sepeda Ontel

Hasan Gipo tidak mau tinggal diam untuk membangun NU. Makanya, ia banyak mendirikan syirkah (perserikatan) usaha bagi warga NU. Semangat wirausaha digelorakan, roda organisasi berjalan dengan baik, dan tak pernah membuat “proposal” kepada kolonial. Pada 1935, Hasan Gipo mengimpor sepeda ontel dari Eropa. Selain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, sepeda ontel juga dimaksudkan sebagai penguat sarana transportasi warga NU dalam mengelola organisasi.

Saat itu, sepeda ontel bukan sekedar menggerakkan rutinitas keagamaan, tetapi juga menggerakkan massa rakyat menentang penjajah. Dalam berbagai pertemuan syirkan dan rutinitas NU, Hasan Gipo selalu mengajarkan kemandirian. Ia keliling ke pelosok-pelosok bersama KH Wahab Hasbullah, menggelorakan semangat perjuangan melawan kolonial. Dengan penyebaran sepeda ontel, ia berkeliling membangun jaringan, memetakan basis rakyat, bergerak cepat menyusun strategi, dan menyuarakan keberanian dalam melangkah menuju masa depan.

Kecerdasan memanfaatkan sarana transportasi sepeda bukan sekedar program bisnis semata, melainkan sebagai agenda perjuangan inilah yang mesti dipahami dengan seksama. Bangsa ini harus mampu menangkap pesan jaman, jangan sampai terjajah dengan teknologi dan alat transportasi. Bangsa ini harus mandiri, dan NU harus siap berdiri paling depan membela harkat dan martabat rakyat bawah sebagaimana dijalankan Hasan Gipo.

Kini, sepeda ontel bisa jadi menjadi alat transportasi biasa. Tetapi bisa jadi justru mengilhami gerakan baru NU dan Indonesia dalam memaknai beragam gerakan politik yang melumpuhkan kemandirian bangsa. NU lahir bukan untuk “dijual”, melainkan alat perjuangan membangun bangsa tercinta ini.