syeikh abdul qodir
Kajian

Ngalap Barokah Tarekat Syaikh Abdul Qodir al-Jilani: Martabat Nafsun Wahidah

Oleh Nur Kholik Ridwan, Pengajar STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menjelaskan al-Marotib al-Ubudiyah, mengharuskan mengerti dan mengakui adanya Martabat Dzat Ahadiyah, Martabat Shifat, Martabat Asma dan beberapa al-Marotib ar-Rububiyah lainnya. Salah satu yang perlu dikenal dan al-iqror bihi, setelah itu adalah tentang al-Martabat al-Uluhiyah yang bermakna al-Kholiqiyah. Martabat ini adalah martabat awal penciptaan. Dalam hal penciptaan ini, Syaikh menyebut dua konsep penting: Nafsun Wahidah dan Nur Muhammad, yang dianggap sama dengan al-Aqlu dan Poros Semesta.

Di antaranya, dalam Tafsir al-Jilani (jilid I: 339) Syaikh Abdul Qodir al-Jilani menjelaskan surat An-Nisa [4]: 1. Pada kata “kholaqokum”, Syaikh menyebutkan maksudnya adalah menampakkan (azharokum) dan mewujudkan (aujdakum) yang pertama-tama, adalah Nafsun Wahidah. Nafsun Wahidah ini disebut sebagai al-Martabat al-Fa`alat yang meliputi semua susunan al-Martabat al-Kauniyah wal Kayaniyah. Martabat inilah yang disebut Syaikh serbagai al-Marotibul Jamiah al-Muhammadiyah, yang dinamakan dengan al-Aqlul Kulli, dan al-Qolamul A’la, sebagai penyempurnaan bagi manusia di dalam sisi bathin-bathin mereka dan sisi ghaib-ghaib mereka.

Dari Nafs Wahidah itulah “kholaqo minha”, melalui pernikahan maknawi dan perkawinan haqiqi yang terjadi antara shifat-shifat dan al-Asma al-Ilahiyah. Diciptakanlah “zaujaha”, yaitu An-Nafsul Kulliyah yang menerima pemberian umumnya bekas-bekas yang terbentuk dari al-Mabda’ al-Mukhtar (dasar-dasar yang terpilih). Hal itu dilakukan sebagai penyempurnaan bagi manusia dalam zhahir-zhahir mereka dan syahadah mereka sampai mereka berhak atas al-Khilafah dan an-Niyabah, dari sudut zhahir dan bathin.

Oleh karena itu, pada diri manusia dapat difahami adanya nafs adalah penyempurna dari adanya aqal, yang dari sudut awal penciptaan itu (aqal dan nafs) merupakan pasangan, melalui perkawinan atau persenyawaan maknawi antara shifat-shifat Alloh dan Asma-Nya. Dengan kapasitas ini, Ruh dalam diri manusia dapat mengenal aspek zhahir dan bathin. Dari sudut zhahir, Ruh harus hidup di alam dunia melalui wadag lahir, dan harus terikat oleh keadaan dan hukum-hukum dunia, dengan penghambaan yang telah ditunjukkan Alloh melalui petuntuk-petunjuk Al-Qur’an dan Kanjeng Nabi. Dari sudut bathin, Ruh dapat mengenal Alam Bathin karena diberi wadah dalam diri manusia, yaitu al-Qolbu, yang oleh Syaikh disebut sebagai mir’atun majlulatun dan “Kal-malak” yang memiliki lisan dan pendengaran bathin.

Dengan kapasitas itulah kemudian Adam disebut sebagai khalifah, sebagaimana dalam surat al-Baqoroh ayat 30, yang dijelaskan Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, dimana makna khalifah itu karena manusia itu adalah mir’ah yang dipandang, “agar Alloh menampakkan tajalli dari mir’ah itu melalui semua sifat-sifat dan asma-Nya sampai khalifah Alloh itu tegak berdiri dengan Asma-Nya sebagai akhlaknya dan baik ahwalnya.” Alloh meletakkan hati sebagai mir’ah dan mengawasinya, sehingga menyebut dirinya sebagai Raqiban atau ar-Raqib, dalam ayat “innalloha kana `alaikum Raqiban” (QS. An-Nisa, [4]: 4). Sufi lain, as-Sulami dalam Tafsirt Ziyadatu Haqoqiqit Tafsir, menafsirkan ini sebagai “pengawas hati kamu, dhamir kamu, maka takutlah dari itu, dari yang memandang antaramu dan antaranya.”

Dalam Sirrul Asror Syaikh Abdul Qodir al-Jilani kemudian menjelaskan awal penciptaan itu, dimana Alam Uluhiyah adalah Alam Penciptaan Ruh-Ruh. Yang diciptakan pertama kali adalah Ruh Nabi Muhammad dari Cahaya keindahan Alloh. Syaikh menyebutkan bahwa Ruh Nabi Muhammad itu, adalah satu dengan penamaan al-Qolam dan al-Aqlu, yang kesemua ini disebut sebagai Hakekat Muhammad. Hakekat Muhammad itu disebut “nur”, karena bersih dari kegelapan; disebiut aqal, karena secara umum aqal itu untuk mengetahui sesuatu; disebut pula dengan al-qolam (pena) karena, dia menjadi media untuk memindahkan ilmu dalam bentuk tulisan.

Makanya, menurut Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, Ruh Muhammad itu sendiri disebut sebagai intisari alam semesta, ciptaan pertama. Dari Ruh Muhammad itu disebut Syaikh bahwa semua arwah makhluk diciptakan di Alam Ketuhanan, yang merupakan negeri asal para Arwah, dalam bentuk haqiqi yang baik. Setelah itu, dalam rentang waktu tertentu Alloh menciptakan Arsy dan semua yang ada, dari cahaya inti Muhammad itu.

Sementara sebagian ahli hadits menyebutkan hadits yang berbeda-beda soal yang awal diciptakan, kadang menyebuyt al-qolam, dan kadang al-aqlu, dan kadang Nur Muhammad. Mereka menyebut berbeda-beda, karena menurut Syaikh ketiganya itu adalah inti yang sama, yaitu Hakikat Muhammadiyah. Kadang disebut qolam, aqal, dan Nur Muhammad, karena alasan yang disebutkan Syaikh di atas.

Hal ini didukung oleh perkataan: “Laulaka laulaka mâ kholaqtu al-aflâk (al-Ajluni, Kasyful Khofa’, I: 191, No. 2123). Perkataan ini dikomentari al-Ajluni begini: “Menurut ash-Shoghoni hadits ini maudhu’ (palsu), dan saya mengatakan tetapi maknanya shohih meskipun itu bukan hadits.” Maknanya dianggap shohih, artinya meskipun “laulaka laulaka…” itu bukan hadits, tetapi isi substansinya dianggap oleh al-Ajluni sebagai shohih.

Saya telah menjelaskan ini dalam tulisan-tulisan tentang Wali Abdal. Intinya “laulaka-laulaka…” di atas diperkuat oleh dua hadits yang disebut oleh Sayyid Muhammad al-Maliki dalam kitab Mafahim, yaitu:

Pertama, hadits laulâ Muhammadun mâ kholaqtuka (Seandainya bukan karena Nur Muhammad, Aku tidak akan menciptakanmu Adam). Ini adalah penggalan hadits berasal dari sahabat Ibnu Umar, agak panjang yang berbicara tentang istighotsah Nabi Adam kepada Haqq Nabi Muhammad, agar memperoleh ampunan Alloh. Hadits itu disebutkan diriwayatkan Imam al-Hakim dalam al-Mustadrok dan diperhitungkan shahih; al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwah, diriwayatkan as-Subki dalam Syifa’us Saqom, dan Hafizh Haitsami menyebutkan hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thobroni.

Kedua, hadits “falaulâ Muhammadun mâ Kholaqtu Âdam walal jannah walan nâr (Seandainya tidak karena Nur Muhammad, tidak Aku jadikan Adam, tidak pula surga dan tidak pula neraka). Hadits ini diriwayatkan melalui sahabat Ibnu Abbas, oleh al-Hafizh al-Hakim dalam al-Mustadrok, dan dia menganggap isnadnya shohih; Syaikul Islam al-Bulqini juga menggapnya shohih dalam Fatawinya; diriwayatkan pula oleh Ibnul Jauzi dalam al-Wafa, dan dinukil Ibnu Katsir dalam al-Bidayah

Setelah Alloh menciptakan, ruh-ruh dari Haqiqat Muhammadiyah, Alloh menurunkan ruh-ruh itu ke alam yang lebih rendah, ruh-ruh itu diberi pakaian di Alam Jabarut, dengan pakaian cahaya kekuasaan-Nya, sehingga menjadi Ruh Sulthani; lalu diturunkan ke Alam Malakut, Ruh Sulthani itu diberi cahaya Kekuasaan-Nya menjadi Ruh Rawwani; dan kemudian diturunkan ke Alam Mulk atau Alam Lahir, Ruh Rawwani diberi pakaian jasad menjadi Ruh Jasmani. Tahap-tahap penurunan Ruh ini, yang menyebabkan manusia lupa terhadap perjanjian yang diberikan Alloh, seperti disebutkan dalam ayat QS. Al-A’rof [7]: 172): “Alastu birobbikum bala…”

Akan tetapi Alloh menyayangi manusia sebagaimana tercermin dari Asmanya, ar-Rahman dan ar-Rahim, juga sifat-sifat jamaliyah-Nya, sehingga diturunkanlah kitab-kitab samawi dan nabi-nabi untuk mengingatkan bahwa manusia itu, kata Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, agar “kembali ke negeri asalnya dan merasa rindu kepada-Nya”. Nabi-Nabi menyampaikan peringatan agar manusia memperoleh bekal petunjuk, sampai diutusnya Khotaman Nabiyin, yaitu Nabi Muhammad, ketika Ruh Muhammad itu diwujudkan dalam bentuk dan diberi pakaian jasadi. Tujuannya agar manusia senantaiasa ingat, memiliki penglihatan hati mereka dari keterlelapannya. Nabi Muhammad mengajak manusia untuk bersatu dengan-Nya dan menjumpai keindahan-Nya, dan kembali ke negri asalnya.

Untuk hal ini, maka manusia perlu berbekal dengan ilmu lahir dan batin. Ilmu lahir menyangkut lahirnya syariat, seperti zhahirnya wudhu, sholat, puasa, dan lain-lain; ilmu batin menyangkut bathinnya, seperti ilmu tarekat, ilmu marifat dan ilmu haqiqat. Dalam hal itu, maka Syaikh kemudian menganjurkan kepada manusia untuk mencari pembimbing. Yang menarik Syaikh mengatakan, bahwa kita manusia ini dihadirkan ke dunia, katanya: “Bukan bertujuan untuk membersihkan dunia yang hina dan porak-poranda ini (juga dari keadaan yang) merasa puas dengan jiwa jiwa yang rendah.” Hanya saja manusia diperintahkan untuk beribadah dan senantiasa melalukan tazkiyatun nafs.

Karena Alloh memang menjadikan nafs yang rendah itu beriringan dengan al-aql selama dunia dan jasad-jasad masih dihidupkan Alloh, sebagaimana al-Aqlul Kulli dan an-Nafsul Kulli sebagai satu pasangan. Karenanya, tujuan manusia bukan untuk mematikan nafs. Yang diperintahkan kepada manusia melalui Al-Qur’an, agar Ruh manusia itu melalui Islam, iman, ihsan, dan disebut juga taqwa, dan beribadah, agar manusia memperoleh pengajaran, nasehat, memperoleh bimbingan, dan pada akhirnya bisa mengenal kembali ke negeri asal itu dengan selamat.

Setelah mengerti yang demikian, agar manusia menyadari hatinya itu senantiasa dibersihkan dari hijab-hijab (di antaranya nafs) sehinga manusia sadar bahwa hatinya itu adalah mir’ah yang diawasi Ar-Raqib, dan mir’ah yang selalu dipandang Alloh untuk bertajalli melalui Asma dan Shifat-Shifat-Nya, agar manusia itu menjadi khalifah-Nya bagi semua makhluk; yang setelah sadar menjadi mir’ahnya dia melakukan perjalanan, dengan tazkiyah dan doa memohon hidayah, juga berakhlak dengan berakhlak melalui Asma dan Shifat-Shifat-Nya.

Oleh karena itu, ayat “wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56), oleh Syaikh dalam Sirrul Asror, dimaknai “agar ia mengenal-Nya” dengan ibadah itu. Sementara dalam Tafsir al-Jilani, saat menjelaskan ayat itu, Syaikh Abdul Qodir memaknainya: “Agar mengenal-Ku, dan mendalami hakikat dengan Ke-Esaan-Ku, dan kemerdekaan-Ku di dalam Wujud-Ku, dan di dalam keumuman Tashoruf-Ku, dan memohon mendapatkan haqiqat agar taat dan penghambaan secara mutlak dengan tanpa “syaubin syirkatin dan mazhohiratin min ahadin.” Wallohu a’lam.

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement