Ngaji

Ngaji Kepada Sayyid Ahmad bin Muhammad Alwi al-Maliki

21106820_10212524997992029_511085762396905500_n
Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin (kiri) bersama Sayyid Ahmad bin Muhammad Alwi al-Maliki (kanan)

Oleh : Dr. KH. Rumadi Ahmad

Ketua Lakpesdam PBNU dan Dosen UIN Jakarta

Salah satu tempat favorit yang banyak dikunjungi jamaah haji Indonesia adalah sowan ke kediaman Sayyid Ahmad bin Muhammad Alwi al-Maliki di Rusaifah. Sore itu, 25/8/17 saya ikut rombongan Menteri Agama RI, sowan ke Rusaifah. Ini kali kedua saya ke Rusaifah. Sebelumnya, tahun 2012 sewaktu menjadi petugas haji, saya sudah pernah sowan ke sini.

Beberapa saat sebelum adzan magrib kami sudah sampai di Rusaifah mendahului Menteri Agama. Di depan pintu gerbang sudah banyak mobil dan bus berjajar. Jamaah haji dari Indonesia sudah banyak yang antri memasuki pelataran yang cukup luas.

Seorang lelali bertubuh tinggi besar, berwajah teduh, keluar dari pintu rumah bersama beberapa sahabatnya. Itulah sayyid Ahmad. Kami menunggu di depan pintu ruang pengajian, bersalaman dan mencium tangan beliau.

Begitu masuk ruang utama, iqamat langsung berkumandang. Beliau menjadi imam solat magrib dengan bacaan al-Quran yang sangat simpel. Yg dibaca surat-surat pendek saja.

Selesai salat maghrib, sayyid Ahmad memberi pengantar pendek sebelum dilanjutkan membaca Qashidah Burdah, sebuah syair yang ditulis Imam al-Busiri (w. 1296 M). Ada cerita spiritual tersendiri dalam sejarah penulisan qashidah ini. Dulu waktu masih di pesantren, saya membaca Qashidah ini setiap malam Jumat. Qasidah Burdah yang berisi 160 bait merupakan salah satu karya sastra terbesar dalam sejarah Islam. Di dalamnya ada sejarah Rasulullah, kemuliaan Rasulullah, tuntunan mencintai Rasulullah, etika, dan tentu saja, sastra.

Beberapa saat sebelum pembacaan Burdah, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, hadir. Disambut dengan pelukan oleh Sayyid Ahmad. Setelah pembacaan Burdah selesai, masih dilanjutkan dengan aneka solawat dengan berbagai langgam.

Mengapa Rusaifah menjadi tempat penting bagi jmaah haji Indonesia. Karena dari tempat inilah banyak ulama-ulama Indonesia belajar dan menjadi santri Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki, ayahanda Sayyid Ahmad. Sampai sekarang, banyak santri dari Indonesia yang mondok di tempat ini.

Tidak seperti kultur Saudi yang didominasi paham wahabi, di Rusaifah justru mengajarkan tradisi keagamaan, yang kalau di Indonesia seperti yang dipelihara NU. Jadi wajar saja, kalau tempat ini begitu dekat dengan masyarakat Indonesia.

Rusaifah juga menandai salah satu sanad keilmuan Islam nusantara. Dari tempat ini lahir ulama-ulama yang sangat mempengaruhi perkembangan Islam di Indonesia.

Mekah, 27 Agustus 2017

Tambah komentar

Klik untuk komentar