cak kus
Ngaji

Ngaji Burdah 9, Cinta yang Menawanku

oleh : Kiai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul

يالائمي في الهوى العذري معذرة
مني اليك ولو انصفت لم تلم

Wahai engkau yang mencaciku lantaran cintaku yang terlampau dalam, sungguh kumaklumi engkau. Andai engkau merasakan cinta yang menawanku, tentu engkau tak akan mencaciku.

Idiom الهوى العذري adalah cinta yang dinisbatkan kepada suatu kabilah di Yaman yang dikenal dengan sebutan Bani ‘Udzrah. Para lelaki dari kabilah itu berpegang teguh pada cinta mereka hingga ke liang kubur. Sementara kaum perempuannya betul-betul menjaga kehormatan mereka sehingga sangat layak mendapatkan cinta yang suci dan agung.

Seorang pemuda yang kerempeng, wajahnya pucat kekuning-kuningan dan gurat-gurat kepedihan menyelimutinya berdiri di depan Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Lalu, terjadilah dialog singkat berikut ini.

Sayyidina ‘Ali: “Dari mana gerangan wahai anak muda?”

Pemuda: “Dari suatu kaum yang apabila jatuh cinta, mereka akan menanggung derita cinta itu sampai mati.”

Sayyidina ‘Ali: “Dari Bani ‘Udzrah ya?”

Pemuda: “Betul.”

Sayyidina ‘Ali: “Kenapa bisa begitu?”

Pemuda: “Karena kelembutan hati kami dan kehormatan perempuan-perempuan kami.”

Di sini, orang yang telah sempurna menjadi tawanan cinta itu, dengan sendirinya akan mengekpresikan keluasan cakrawala jiwanya terhadap siapa pun yang tak kunjung memahami atau bahkan malah mencibir nasibnya yang terpasung cinta. Karena cinta merupakan bagian dari sifat Allah Ta’ala dan pastilah si pecinta itu, seberapa pun kadarnya, telah tertulari keluasan cakrawala sifatNya.

Seorang pecinta hakiki tak akan pernah mengemis kepada siapa pun untuk dipahami, diapresiasi atau apalagi disanjung. Baginya, segala sesuatu yang bergemuruh di luar tak lebih dari sekedar angin lalu yang terlampau sepele untuk mengusik hatinya.

Cinta, sungguh, tak akan pernah betul terpahami oleh siapa pun yang tidak didera oleh kekejamannya yang begitu nikmat dan menawan. Mungkin itulah sebabnya kenapa Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) dengan tandas menyatakan dalam salah satu munajatnya: “Tuhanku, kejamlah kepadaku, kejamlah kepadaku. Karena seluruh kekejamanmu adalah kelembutan belaka.”

Memahami cinta haruslah dengan cara merasakan. Tidak ada jalan yang lain. Karena semua jalan yang lain itu tak lebih dari sekedar omong kosong dan retorika yang menganga.

Tags