Ngaji

Ngaji Burdah 8, Bagaimana Mungkin Cinta Bisa Disembunyikan?

cak kus dan keluarga

Kiai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul.

 

نعم سرى طيف من أهوى فأرقني
والحب يعترض اللذات بالألم

Ya, memang melintas bayang-bayang orang yang aku cintai, lalu ia menjadikanku begadang. Cinta memang menggantikan berbagai kelezatan dengan penderitaan.

Inilah pengakuan paling gamblang dari seorang pecinta setelah sultan cinta yang bertahta di kota hatinya tak kunjung bisa untuk disembunyikan. Semakin disembunyikan, semakin tampak pula ia.

Bagaimana mungkin cinta bisa disembunyikan? Wong bayang-bayang kekasih saja yang terlintas, bukan realitas dari kekasih itu sendiri, sudah menjadikan si pecinta terhempas dari kenyamanan tidur, menjelma seorang nokturnis yang begitu romantis.

Tentang makna tidak tidur itu bisa ganda. Pertama, bisa dipahami secara harfiah. Yaitu, mata seorang pecinta tidak bisa berkompromi dengan kantuk, apalagi dengan tidur. Karena bayang-bayang kekasih begitu kejam menyiksanya dengan belati kerinduan yang sangat tajam.

Kedua, bisa juga bermakna majazi. Yaitu, si pecinta betul-betul tercerabut perhatiannya dari apa pun yang selain kekasih. Seluruh kenikmatan duniawi yang beraneka ragam dan telah membuat mabuk banyak orang sudah sepenuhnya hengkang dari belairung hatinya. Yang ada di situ hanyalah kobaran fokus pada kekasihnya semata.

Kenikmatan-kenikmatan jasadi lalu menjadi tergantikan oleh kejamnya penderitaan. Tapi ini penderitaan cinta yang pasti sangat berbeda dengan penderitaan apa pun yang lain. Siapa pun yang telah dihujam oleh penderitaan cinta, selamanya dia tidak ingin terbebaskan darinya. Kenapa? Karena penderitaan cinta itu adalah nama lain dari kenikmatan yang paling sakral dan tidak sepenuhnya bisa terungkapkan dengan bahasa apa pun. Apalagi kalau penderitaan itu berkobar di tengah api unggun cinta Ilahiat.