Ngaji

Ngaji Burdah 7, Menggores Kedua Pipimu dengan Garis Air Mata dan Derita

cak kus dan istri 1

Kiai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul.

 

واثبت الوجد خطي عبرة وضنى
مثل البهار على خديك والعنم

Kepedihan cinta telah menggores kedua pipimu dengan garis airmata dan derita yang begitu indah sebagaimana bunga pala yang kuning dan bunga pacar yang merah.

“Bunga pala yang kuning” menunjuk kepada pipi seorang pecinta yang pucat kekuning-kuningan yang disebabkan oleh begadang sepanjang malam demi malam semata karena menuntaskan perhatiannya yang perih terhadap bayang-bayang kekasihnya.

Dalam konteks cakrawala cinta Ilahiat, terutama yang didedahkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), pipi yang pucat kekuning-kuningan karena senantiasa mengarungi malam-malam dengan munajat dan menyelami samudra keagunganNya jauh lebih berkilau dan lebih indah dibandingkan rembulan dan matahari. Bahkan di hadapannya, rembulan dan matahari menjadi pucat.

Sementara “bunga pacar yang merah” mengacu terhadap airmata yang bersenyawa dengan darah. Sebuah konvergensi yang teramat indah tapi juga sekaligus mengerikan. Airmata adalah puncak dari suasana jiwa, sementara darah merupakan simbol dari energi tertinggi kehidupan itu sendiri. Ketika keduanya itu bersenyawa secara solid, maka tidak ada apa pun di atasnya selain Tuhan.

Sungguh, betapa beruntung seorang pecinta. Dia berarti sudah dianugrahi kesanggupan untuk menampung salah satu sifat hadiratNya yang menjadi landasan bagi ditegakkannya rancang bangun semesta dan gemuruh kehidupan ini.