Ngaji

Ngaji Burdah 5, Bermunajat di Gunung Alam

makam gus miek

Kiai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul.

 

لولا الهوى لم ترق دمعا على طلل
ولا ارقت لذكر البان والعلم

Andaikan tidak karena cinta, tentu engkau tidak akan menumpahkan airmata di atas reruntuhan itu, juga engkau tidak akan begadang untuk mengenang pohon ban dan gunung Alam.

Ketika sultan cinta bertahta di negeri hati seseorang, maka tidak boleh tidak dia pasti akan terbuhul sedemikian kuatnya dengan kekasih yang telah dijadikan sarana oleh hadiratNya bagi munculnya gemuruh dan dengus suci cinta itu.

Maka apa saja bisa menjadi obyek bagi tercurahkannya airmata cinta, terutama yang berkaitan dan pernah tersentuh oleh kekasih tercinta yang pada bait di atas disimbolkan dengan idiom reruntuhan.

Dan ketika cinta seseorang makin kental dan sublim, maka idiom الهوى pada bait di atas tak lagi dimaknai cinta, melainkan diberi arti sebagai kekasih tercinta itu sendiri. Dalam konteks sublimasi cinta itu, jarak jadi tertekuk dan demarkasi jadi pupus. Di saat itulah reruntuhan itu semakin tampak sebagai keindahan wajah kekasih.

Dalam paradigma dan kalkulasi sufisme, idiom reruntuhan itu diasosiasikan pada sebuah tempat paling mulia di dunia, Mekkah al-Mukarramah, yang pernah menampung kelahiran dan membesarkan makhluk paling terpuji, Nabi Muhammad Saw, yang kepadanya seluruh penciptaan alam semesta ini dinisbatkan.

Kenapa? Karena semenjak ditinggal hijrah ke Madinah al-Munawwarah oleh Rasulullah Saw, secara ontologis-transendental Mekkah berubah menjadi reruntuhan. Karena kemakmuran dan kecemerlangan Mekkah yang sempurna adalah kebersamaannya dengan Nabi Pungkasan itu.

Demikian pula dengan pohon ban dan gunung Alam. Di bawah pohon ban yang rindang dengan semerbak yang lembut itu Nabi Muhammad Saw dulu sering berteduh dan menyaksikan kemahaan hadiratNya.

Dan di gunung Alam yang konon merupakan nama lain dari gunung Hira itulah Sang Nabi Terpilih dulu sering bertahannuts, mengambil jarak dari segala yang fana, di sebuah goa yang telah menjadi saksi diturunkannya ayat pertama sebagai bukti dimulainya risalah beliau yang penuh kasih sayang bagi seluruh alam raya.