Ngaji

Ngaji Burdah 3, Menjadi Kendaraan Cinta

gus ahlis lirboyo, kiai nyentrik

Kiai Kuswaidi Syafi’ie, Pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul.

 

فما لعينيك إن قلت اكففا همتا
وما لقلبك إن قلت استفق يهم

Ada apa dengan kedua matamu? Jika kau katakan pada keduanya, “Tahanlah.” Ternyata ambrol jua itu airmata. Dan apa yang terjadi pada hatimu? Jika kau bilang padanya, “Sadarlah.” Ternyata tetap saja bergejolak ia.

Apa yang sesungguhnya menjadikan seorang pecinta atau salik menangis sehingga airmatanya bercampur dengan darah? Ingatan pada tetangga yang ada di Dzi Salam? Hembusan angin dari kota Kazhimah? Kilat yang menyambar dari gunung Idhami di malam yang kelam? Atau ada alasan yang lain lagi?

Ah, itu semua hanyalah sarana yang telah bermetamorfosis menjadi kendaraan-kendaraan cinta. Andaikan tak ada gejolak cinta, tentu kendaraan-kendaraan itu akan teronggok begitu saja, menggigil kesepian dan tak terhiraukan.

Andaikan hanya karena persoalan tentang kendaraan-kendaraan itu, tentu hal tersebut tidak akan pernah menjadikan seseorang menangis dengan ratapan yang begitu dalam dan mengiris hati. Terlampau bodoh dan cengeng dia yang membuang airmatanya hanya karena perkara yang terlampau sepele itu.

Pasti karena ada alasan yang lain. Itulah rindu dan cinta yang memiliki kekuatan sangat tangguh untuk menumpahkan airmata, menjadikan hati bergejolak dan membara, merubah rute nasib menjadi tak tentu rimbanya.

Dan tatkala kiblat dari rindu dan cinta itu tak lain merupakan asal-usul segala sesuatu, akhir perjalanan semua yang ada, Allah Ta’ala, maka berbahagialah siapa pun yang sudah dikalahkan dan bahkan dikoyak-moyak oleh rindu dan cinta yang senantiasa membahana dan selalu siap menelan korbannya.