Opini

Nasehat untuk Pemuda Sumbu Pendek

kyai bukan google

Oleh : KH. Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU

Kesadaran beragama kini bukan lagi didominasi para tua renta. Anak-anak muda juga mulai gandrung mendalami agama, terutama di berbagai kampus perguruan tinggi, perkotaan hingga pelosok desa.

Kegandrungan ini cukup menggembirakan bila agama dipahami dengan cara yang benar dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari juga dengan benar. Agama hanya bisa dipahami dengan cara benar melalui bimbingan intensif dari para ulama yang mendalam ilmunya dan mengamalkannya di dunia nyata, sehingga perilakunya sejalan dengan ucapannya dan selalu menjadi teladan dalam kebajikan. Agama dalam amalan mereka ini mendatangkan rahmat, bukan menjadi laknat. Maka jelas agama tidak mungkin dipahami secara instan seperti di pesantren kilat atau hanya dengan membaca-baca buku agama terjemahan, menonton ceramah di TV atau via internet seperti Google.

Di sisi lain kegandrungan yang disertai semangat menggebu itu cukup mengecewakan dan mengkhawatirkan karena nyata bahwa mereka tidak memahami agama dengan cara yang benar dan tidak pula diiringi oleh pemahaman yang mendalam dan benar. Agama bukan lagi menjadi solusi untuk meraih kemaslahatan manusia dunia akhirat, melainkan telah menjadi alasan untuk meraih kepentingan rendah sesaat dan justru menimbulkan problem kemanusiaan. Terbukti kini marak keterlibatan anak-anak muda dalam kekerasan atas nama agama, seperti keterlibatan mereka dalam berpartisipasi menebar ujaran kebencian, menebar berita dusta dan atau terlibat jaringan terorisme yang mereka sebut sebagai jihad dengan iming-iming mati syahid berhadiah bidadari-bidadari di surga.

Kiranya cara pandang dan pola pikir para pemuda yang bermasalah dalam praktek beragama itu perlu untuk diluruskan, agar mereka beragama dengan ilmu yang mendalam dan wawasan hidup yang lebih luas dan luwes, sehingga tidak menjadi manusia yang egois, merasa benar sendiri dan tidak memberi ruang gerak bagi penganut agama lain atau mengekang interpretasi serta ekspresi keberagamaan yang amat beragam.

Para pemuda tersebut perlu belajar agama kepada ulama yang otoritatif, diakui keilmuannya secara luas dan tidak eksklusif, yakni mau membuka diri untuk belajar agama kepada ulama yang wara’ dan moderat (i’tidal atau tawassuth). Mereka tidak perlu lagi belajar kepada juru dakwah yang tidak jelas sanad (mata rantai) keilmuannya. Lebih-lebih agama tidak mungkin dipahami hanya dengan membaca buku-buku tanpa mujalasat al-syuyuh (bimbingan para guru ahli agama). Kebanyakan anak-anak muda yang terlibat dalam setiap kekerasan atas nama agama itu hanya belajar agama secara instan melalui buku-buku tanpa ada diskusi, perdebatan untuk bisa diterima atau ditolak. Karenanya amat mungkin salah membaca, salah paham dan akhirnya menebarkan paham yang salah.

Para pemuda yang mulai gandrung beragama itu harus berendah hati untuk ihtiram al-ulama (memuliakan ulama) dan berbaik sangka kepada mereka. Lebih-lebih kepada para ulama yang memiliki spesialisasi di bidang ilmu agama tertentu, karena setiap bidang ilmu agama sudah pasti ada ahlinya. Maka belajarlah agama kepada ahlinya, jangan sembarangan memilih guru untuk mendalami agama. Tidak setiap penceramah itu pasti paham agama dan tidak setiap orang yang paham agama mau ceramah.

Untuk menghindarkan diri dari ekslusifisme dan sikap berlebihan dalam beragama maka para pemuda itu harus melatih diri untuk berbaik sangka kepada sesama manusia, baik muslim atau bukan. Manusia bukanlah malaikat yang suci dari kesalahan. Betapa pun jahatnya seorang manusia pasti ada sisi-sisi baiknya. Sebaliknya betapa pun baiknya manusia pasti ia pernah melakukan kesalahan. Sedangkan sebaik-baik manusia adalah yang bertaubat dari kemaksiatannya.

Jika pun ada sebagian pemuda ingin berdakwah, maka dakwah itu harus disampaikan berdasarkan ilmu dengan cara hikmah (bijaksana), mau’idzah hasanah (nasehat yang baik), atau melalui dialog yang memprioritaskan kesantunan. Seorang juru dakwah tidak boleh angkuh, keras, melontarkan kalimat-kalimat kebencian kepada pihak lain dan merasa benar sendiri. Sebab jika demikian, maka sasaran dakwah akan lari menjauh dari apa yang diajarkannya dan dunia menjadi gaduh karenanya.

Al-Masjid an-Nabawi Madinah
3 Muharram 1439 H.