Fahmy Akbar Idris
Wawancara

Nabi Muhammad itu Pedagang Besar dan Manager Hebat

Kita harus berterima kasih dengan para wali, kiai, dan ulama yang telah mengajarkan kita ihwal sosok Nabi Muhammad. Kita bisa mengenal Islam itu karena perjuangan para pendahulu. Jangan sampai kita melalaikan perjuangan mereka, sehingga kita seolah sudah berada di atas menara gading. Jangan lupa lupa basis akar tradisi kita, karena Islam ala Nusantara menjadi model Islam yang sangat dinantikan perannya di level nasional, regional, dan global.

Demikian ditegaskan Wakil Ketua PWNU DIY KH. Fahmi Akbar Idris kepada Bangkitmedia.com (02/05). Fahmi menegaskan bahwa Islam Nusantara yang digaungkan para kiai harus dibumikan dalam tingkat lokal, dengan itu maka nilai-nilai Islam yang diajarkan Nabi bisa merasuk dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara.

Islam Nusantara ini Islam yang moderat. Terkait definisi, silahkan semua bisa bicara. Tetapi prinsipnya itu rahmatan lil’alamin. Untuk itu, tugas para kader di daerah untuk membumikan Islam Nusantara, sehingga menjadi spirit gerakan yang bisa membawa berkah bagi semuanya,” tegas Fahmi yang juga Penasehat GP Ansor.

Fahmi menambahkan bahwa baru-baru ini, rumusan Islam aswaja NU ternyata sesuai dengan rumusan Islam yang ditegaskan dalam forum alim ulama internasional di Chechnya. Ini berarti ijtihad Kiai Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU itu luar biasa. Saat itu justru dunia internasional baru memahami.

“Makanya kita harus berterima kasih kepada para kiai. Beliau-beliau memberikan banyak sekali ilmu kepada kita. Tugas generasi muda untuk melanjutkan perjuangan para pendiri, di berbagai bidang sesuai dengan kapasitas masing-masing,” tegasnya.

Ajarkan Secara Utuh

Dalam konteks meneguhkan spirit lokal untuk peradaban global, Fahmi menjelaskan bahwa umat Islam harus kembali menjelajah sejarah Nabi secara utuh, komprehensif. Selama ini kita memahami sejarah Nabi hanya sebatas kerasulan dan kenabian saja. Masih banyak sejarah Nabi yang tidak terbaca dalam proses belajar kita.

“Saya bukan ahli sejarah, termasuk sejarah Islam. Tetapi ketika berdiskusi dan membaca buku, terlihat sangat jelas bahwa Nabi Muhammad adalah pribadi yang luar biasa. Sejarah kenabian dan kerasulan sudah banyak kita pahami. Tetapi bagaimana kita memahami sejarah Nabi sebagai seorang penggembala dan pedagang. Kita masih sangat awam dengan kisah-kisah itu,” tegas Fahmi.

Menjadi seorang penggembala mencerminkan Nabi sudah mulai belajar menjadi seorang manager. Ketika menggembala, Nabi pasti mendapatkan banyak ilmu ihwal managemen, proses merencanakan, mengevaluasi, dan lainnya. Semua itu dilalui Nabi dengan kesungguhan. Terbukti, ketika di Madinah, Nabi Muhammad menjadi manager hebat yang mengelola beragam suku dan agama. Nabi sukses, sehingga Madinah menjadi kota sangat modern saat itu.

“Sejarah mencatat bahwa Muhammad adalah pedagang paling sukses dalam masyarakat Quraisy waktu itu. Rasulullah berdagang dengan jujur, sehingga makin beruntung, bukan buntung. Sebagai pedagang yang sukses, beliau pernah berkata bahwa “Sembilan dari sepuluh sumber rezeki berasal dari perdagangan”. Apa yang disampaikan beliau tersebut bukanlah kata-kata kosong belaka. Kenyataannya, sepanjang sejarah manusia dapat dibuktikan bahwa tidak ada bangsa yang bisa menapak maju tanpa didukung oleh pedagang-pedagang yang tangguh, jujur dan selalu bekerja keras. Jika perdagangan maju, ia akan menciptakan permintaan terhadap barang-barang dan jasa, baik pertanian maupun industri atau jasa. Karena kegiatan perdaganan ini sangat besar jasanya dalam menciptakan kesejahteraan dalam masyarakat,” lanjut Fahmi.

Nabi Muhammad SAW, dapat dikatakan mulai melakukan kegiatan bisnis sejak usia usia 12 tahun dengan cara ikut pamannya berdagang. Setelah mencapai usia 15 tahun, dengan bekal pengalaman ‘magang’ berdagang bersama pamannya tersebut kemudian mulai menjual sendiri barang-barang berupa kain, dll. Pada usia 25 tahun, Nabi telah mampu mengumpulkan harta senilai 125 ekor unta yang kemudian dijadikan mahar untuk melamar Siti Khodijah.

“Selain Nabi saw, para sahabat Nabi saw kecuali Ali bin Abi Thalib juga adalah pedagang. Namun ketika para sahabat tersebut diserahi amanat diangkat menjadi amirul mukminin, Nabi melarang mereka berdagang dan sebagai gantinya menawarkan dana dari baitul maal untuk nafkah kebutuhan sehari-hari mereka,” tandas Fahmi yang juga pernah nyantri di Krapyak dan Pandanaran ini.

Sejarah Nabi dari sisi ini masih belum banyak diajarkan di pesantren dan sekolah. Sehingga, pola pikir generasi muda dalam memahami Nabi masih sebatas usia 40 tahun ke atas. Padahal, dengan mengajarkan sejarah Nabi secara komprehensif, maka akan menggugah mental dan semangat generasi muda dalam membangun kemajuan peradaban.

“Ajarkan sejarah Nabi dengan tuntas. Disinilah, kita akan membumikan Islam Nusantara dengan penuh wibawa, berdaya dan berkeadaban,” pungkas Fahmi, yang dulu pernah menjadi staf di Majalah Bangkit. (md/jk)

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement