Budaya

Mudun Lemah, Ajari Anak Bersedekah Sejak Dini

 

mudun-lemahSetiap bayi yang lahir, tentu bahagia menyapa semua anggota keluarga. Kedua orang tua, pasti girang tak terkira. Kegembiraan disambut dengan aqiqoh, sehingga semua sanak famili bisa mengenal dan mendoakan.

Selain itu, anak juga mesti diajari terus bersedekah. Dalam tradisi Jawa, ada tradisi bernama mudun lemah, atau tedak siten. Mudun lemah artinya turun tanah. Tedak siten artinya mendekati tanah. Tradisi ini dilakukan ketika anak berusia antara 6-7 bulan. Bayi usia itu mulai memahami dan merespon sekelilingnya, sehingga perlu mendapat sentuhan khusus dalam dirinya.

Dalam tradisi mudun lemah, bayi disuruh menginjak tanah yang disimbolkan dengan bubur. Ini doa, yang artinya diibaratkan ikatan anak dengan keluarga sangat dekat dan erat, seperti bubur yang satu dan lainnya saling melekat, alias lengket. Dengan bubur yang lengket, bayi diharapkan menjadi anak yang kokoh prinsipnya di masa depan.

Bubur dibuat dalam porsi besar, kemudian dibagikan kepada keluarga dan tetangga. Dengan mudun lemah, bayi diharapkan sudah mengenal asal-usulnya, yakni tanah. Dengan itu, bayi ke depan harus menjalin kekerabatan dengan semua sanak familinya.

Setelah itu ada tradisi surak. Surak itu menebarkan uang receh dan saudara tetangga terdekat berebut mengambil uang tersebut di tanah. Biasanya ini yang ditunggu anak anak kecil, hasilnya buat tabungan. Maknanya ya bersedekah dengan senang hati kepada siapapun. Setelah itu dilanjutkan dengan  makan bersama.

Dalam tradisi ini, bayi juga disuruh memilih banyak hal dalam baskom. Ada buku, uang, kitab, sisir, pulpen, emas, dan lainnya. Pilihan pertama bisa menjadi tanda di masa depannya. Semua ini dilaksanakan dalam rangka anak di masa depan mempunyai prinsip hidup, sehingga bisa berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. (md)