Perempuan

Menengok Aktifitas Dwi Supratiwi, Aktifis Fatayat Semarang

aktifis fatayat semarang

SEMARANG, BANGKITMEDIA.COM

Kader NU tak kemana-mana namun ada di mana-mana. Mungkin ungkapan tersebut layak disematkan pada Dwi Supratiwi, SH. Aktifis muda NU Kota Semarang kelahiran Jakarta ini telah mampu membuktikan bahwa NU sebagai ormas keagamaan yang sukses mencetak dan mendistribusikan kadernya. Dalam pergerakannya perempuan yang pernah menjadi Ketua IPPNU Kota Semarang ini juga tercatat sebagai TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) yang paling aktif dan menunjukkan kinerja yang efisien.

Peradaban modern yang demikian menghegemoni masyarakat justru membuat perempuan yang juga aktif sebagai Wakil Ketua I Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Semarang kian tertantang bergerak dalam dunia sosial-kemanusiaan. Memiiki latar belakang pendidikan S1 hukum tak lantas alergi untuk menggeluti aktivitas sebagai TKSK yang ditekuninya sejak tahun 2010. Perempuan bertubuh mungil yang akrab disapa Mbak Tiwi ini terpanggil hatinya untuk bergerak menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Baginya, berbagi suka, keceriaan dan dapat membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan adalah sebuah kepuasan batin yang tersendiri. Banyak kisah menarik dan inspiratif yang dapat kita ambil dari pengalamannya selama menjadi penggerak masyarakat dalam menangani permasalahan sosial di tengah-tengah masyarakat kota. Dari 26 jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ditanganinya antara lain melakukan pendampingan jaminan perlindungan sosial seperti KIS, KIP, KKS, KJS, Raskin (sekarang BPNT : Bantuan Pangan Non Tunai), patroli PGOT (Pengemis, Gelandangan dan Orang Terlantar).

Menjalani aktivitas sebagai TKSK memang tidak mudah. Selain tidak profit, TKSK kerap kali menemui berbagai macam kendala di lapangan. Dalam mengupayakan kesejahteraan sosial masyarakat dirinya selalu berkoordinasi dengan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, SKPD terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan sebagainya. Tidak jarang juga berusaha menjalin kerjasama dengan rumah sakit, panti, rehabsos dan Himbara dan sebagainya.

Soal pengalaman di lapangan, ia menuturkan banyak hal. Diantaranya di saat mendapati anak penjaja koran atau pengamen di jalanan. Dalam banyak kasus yang ia hadapi tentang anak jalanan rata-rata dilatarbelakangi alasan ekonomi. Ketidak-mampuan ekonomi tersebut menjadi alasan utama orangtua mempekerjakan anaknya sebagai pengamen jalanan atau penjual koran. Dalam penelusurannya ia dapati orangtua anak jalanan justru bersantai di rumah atau menjaga dari tepi jalan yang agak berjauhan.

Kepada reporter Tiwi juga menuturkan pengalaman menarik lainnya. Menangani orang terlantar psikotik asal semarang yang ditemukan di demak. Dalam pendampingannya diketahui bahwa asal mula orang telantar tersebut akibat dari ketertarikan untuk menjadi kaya dengan jalan mistik. Ironisnya, orang tersebut memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan bahkan pernah menjadi dosen terbaik di salah satu perguruan tinggi di semarang. (Rifqi)