Wawancara

Membumikan Aswaja di Negeri Paman Sam (2)

Dr. Rafiq

Melihat tantangan di Amerika yang justru terhitung ekstrem daripada di Indonesia sendiri, kira-kira seberapa jauh proses dinamisasi nilai-nilai aswaja itu sendiri dengan realitas sehari-hari?

Pada beberapa kesempatan, saya dan teman-teman Indonesia lainnya yang terkumpul dalam komunitas Keluarga Mahasiswa Nahdhlatul Ulama (KMNU) Amerika, yang saat ini menjadi PCINU Amerika, berdiskusi dan memunculkan beberapa usulan dalam konteks Amerika. Bahwa, memahami konsep aswaja yang dalam bidang tauhid kita merujuk pada Imam Asy’ari dan Al-Maturidi, sementara dalam fiqih pada empat imam mazhab, dan dalam tasawuf merujuk kepada Syekh Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghzali itu tidak dipahami secara material saja.

Namun, aswaja sudah harus dipahami pula pada hal yang substansial dalam keadaan tertentu. Sehingga, jika demikian, dapat memposisikan kita dapat lentur pada kemungkinan-kemungkinan di antara dua banyak kemungkinan yang terjadi yaitu perbedaan dan perubahan.

Jadi, di saat kita tidak menemukan alternatif yang “maslahat” dalam suatu persoalan, berarti kita bisa mengambil alternatif lain karena adanya perbedaan. Kendati demikian, tetap harus dengan menggunakan substansi aswaja yang sudah ada. Sebab, dalam menghadapi realitas kehidupan, kita tidak bisa seterusnya mapan dengan satu keadaan saja. Sehingga, dalam satu kondisi yang mendesak atau terdesak oleh keadaan kita harus bisa move on, harus bisa bergerak lebih jauh dan itulah yang saya kira disebut tasamuh.

Di sisi lain, kita juga punya konsep keterbukaan (open minded), sesuai dengan nilai-nilai aswaja, yakni tasamuh, I’tidal, tawazun, tawassuth. (Anwar/Hilman)