diponegoro
Sejarah

Mau Tahu Ulama’? Dialah Pangeran Diponegoro Kibarkan Merah Putih di Selarong

Saat ini banyak sekali yang mengaku menjadi ulama’. Begitu mudahnya mereka mengklaim dirinya ulama’. Tiba-tiba mereka ingin menjadi pemimpin bangsa Indonesia ini. Bagaimana sebenarnya ulama’ itu? Mau tahu? Mari belajar kepada Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro (1785-1855) adalah putra Sri Sultan Hamengkubuwono III, Raja Kesultanan Yogyakarta. Tahun 1973, Pangeran Diponegoro ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Buku biografinya sangat banyak, yang paling fenomenal ditulis oleh Peter Corey, ilmuan asal Inggris. Buku itu ditulis setebal 1146 halaman dibagi dalam tiga jilid diterbitkan dengan judul “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama Jawa 1785-1855.”

Corey melihat bahwa Diponegoro adalah seorang pangeran sekaligus seorang ulama’ yang berpengaruh sangat besar dalam sejarah Islam Indonesia, khususnya dalam perang Jawa (1825-1830). Keulama’an Diponegoro lebih menonjol dari pada kebangsawanannya, sehingga gerak perjuangannya selalu mendapatkan dukungan besar kalangan santri Jawa saat itu. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro. Senada dengan Corey, Kareel A Steenbrink (2001) menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya.

Menurut Taufik Subarkah (2016), Peperangan di tahun 1825-1830 melawan kolonial Belanda tersebut mempunyai catatan sejarah yang berharga. Tatkala Pangeran Diponegoro sedang melakukan perjalanan, ia berkata kepada Mangkubumi:

“’Paman lihatlah rumah dan mesjid sedang dibakar, api merah menyala-nyala ke atas langit. Kini kita tak berumah lagi di dunia.”

Kemudian Pangeran Diponegoro melihat ke arah Tegalrejo, selanjutnya ke Selarong, tempat rakyat mengibarkan bendera Merah Putih. Ketika itu beliau mengucapkan kata-katanya yang terkenal kepada isterinya, Batnaningsing:

“Perang telah mulai! Kita akan pindah ke Selarong. Pergilah Adinda ke sana dan berikanlah segala intan permata serta emas perakmu kepada rakyat yang mengikuti kita.” Dalam peperangan yang berakhir pada tahun 1830 itu Pangeran Diponegoro kalah. Bendera Merah Putih pun tidak berkibar lagi.

Jejak perjuangan Diponegoro terus berkibar yang dilanjutkan para pasukannya yang mendirikan berbagai pesantren di Nusantara. Pasukan Diponegoro “mengamankan diri” dan membangun kekuatan dengan lahirnya berbagai pesantren yang juga satuan gerakan pasukan yang selalu siap “bertarung” melawan penjajah. (muhammad)

 

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement