Budaya

Masjid Pathok Negoro Batas Wilayah Kesultanan Islam Yogyakarta

masjid-pathok-negoro-wonokromo

Biasanya, batas wilayah kekuasaan sebuah negara atau kerajaan hanyalah berupa pagar, tugu, patok, atau benda alam semacam sungai atau laut. Tapi, ada yang berbeda dengan Kesultanan Yogyakarta. Batas wilayah terluarnya adalah masjid. Hal ini tidak ditemukan di tempat lain, bahkan di negara atau Kesultanan Islam lain di dunia ini.

Sebagai sebuah kerajaan Islam di Jawa, Kasultanan Yogyakarta memiliki beberapa masjid Kagungan Ndalem. Selain Masjid Kerajaan yang dikenal dengan Masjid Agung di sebelah barat Alun-Alun Utara Yogyakarta, Kasultanan Yogyakarta juga memiliki setidaknya limabelas masjid lagi. Kelimabelas masjid tersebut terdiri dari sepuluh Masjid Kagungan Ndalem biasa dan lima Masjid Pathok Negoro. Masjid Pathok Negoro ini merupakan salah satu artefak kekayaan Kasultanan Yogyakarta yang patut diapresiasi.

Dalam istilah Jawa, pathok adalah kayu atau bambu yang ditancapkan sebagai patokan/tanda tetap. Adapun negara adalah kota tempat tinggal raja. Jadi, Masjid Pathok Negoro merupakan sebuah tanda batas kekuasaan raja yang tidak dapat berubah. Kelima masjid Pathok Negoro tersebut tersebar di lima titik yang menjadi batas wilayah Kasultanan Yogyakarta.

Di perbatasan barat ada Masjid Jami’ An-Nur Mlangi yang berada di wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Di perbatasan utara ada Masjid Patok Negoro Sulthoni Plosokuning yang terletak di Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Di perbatasan timur ada Masjid Ad-Darojat Babadan yang terletak di Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Di perbatasan selatan ada Masjid Nurul Huda, Dongkelan, yang terletak di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Terakhir, ada Masjid Wonokromo yang berada di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.

Masjid Pathok Negoro yang pertama dibangun adalah Masjid Jami’ An-Nur di Mlangi yang menjadi penanda batas wilayah ibukota Kesultanan Yogyakarta di bagian barat. Masjid ini berlokasi di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Konstruksi Masjid Mlangi pernah menga­lami renovasi, salah satunya yang dilakukan pada tahun 1985 dimana bangunan masjid diting­katkan menjadi dua lantai. Perubahan ini telah disetujui oleh pihak keraton yang memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk aslinya. Di sisi barat, utara, dan timur laut masjid terdapat makam keluarga keraton, antara lain makam Pangeran Bei, Pa­ngeran Sedo Kedaton, dan makam keluarga Pangeran Prabuningrat.

Masjid Pathok Negoro selanjutnya adalah Masjid Pathok Negoro Sulthoni Plosokuning terletak sekitar sembilan kilometer arah utara dari Kraton Yogyakarta. Masjid ini didirikan di atas tanah kasultanan seluas 2.500 meter persegi. Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2 dan setelah pengembangan menjadi 328 m2. Diantara kelima masjid Pathok Negoro milik Kraton Yogyakarta, Masjid Pathok Negoro Sulthoni Plosokuning adalah bangunan yang paling terjaga kelestariannya.

Masjid Pathok Negoro ini didirikan setelah pembangunan Masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru Masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga didukung oleh beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrob, kentongan dan beduk.

Masjid Pathok Negoro selanjutnya adalah Masjid Ad-Darojat, Babadan. Masjid ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuowo I pada tahun 1774 Masehi. Masjid Ad-Darojat berdiri di atas tanah Kraton dan berlokasi di daerah Babadan, Gedongkuning, Banguntapan, Bantul. Pembangunan masjid ini hampir sama dengan pembangunan masjid pathok negoro lainnya.

Pada saat penjajahan Jepang  yakni tahun 1940  bangunan Masjid Ad-Darojat dan masyarakat Babadan Gedongkuning dipindahkan ke desa Babadan Jalan Kaliurang, Kentungan, Sleman. Perpindahan ini dikarenakan saat itu daerah Babadan, Gedongkuning, terkena pelebaran pangkalan pesawat terbang dan akan digunakan untuk membangun gudang senjata tentara Jepang. Ketika Masjid Ad-Darojat dipindahkan ke Babadan, Kentungan, seluruh material bangunan mulai dari atap, tajug, jendela dan seluruh material lainnya dibawa semua ke tempat pembangunan yang baru sehingga hanya tersisa fondasi masjid saja.

Akan tetapi, pelebaran pangkalan pesawat terbang tersebut ternyata urung dilakukan karena Jepang kalah dalam perang dunia ke-dua. Maka pada 1960-an salah seorang warga Kampung Babadan, Gedongkuning, berinisiatif membangun kembali masjid peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono I  di atas pondasi masjid semula.

Masjid Pathok Negoro selanjutnya adalah Masjid Nurul Huda Dongkelan yang terletak di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Masjid yang dibangun pada tahun 1775 ini pernah berfungsi sebagai benteng pertahanan dan sempat dibakar Belanda saat berlangsungnya Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830). Setelah perang berakhir, bagian inti dari masjid ini dibangun kembali.

Pemugaran berikutnya dilakukan tahun 1901, namun pada waktu itu masjid ini belum memiliki serambi. Serambi masjid baru dibangun pada tahun 1948, namun renovasi ini tidak banyak mengubah bentuk inti masjid. Sejak tahun 1950, masjid ini tidak lagi digunakan sebagai basis pertahanan keraton dan dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah, memperdalam ilmu agama, serta untuk melangsungkan kegiatan-kegiatan agama.

Terakhir adalah masjid yang berlokasi di Wonokromo, Pleret, Bantul. Jika ditelisik dari sejarahnya, dari sinilah konsep masjid pathok negoro berasal. Kyai Mohammad Fakih merupakan ulama yang mula-mula mencetuskan ide ini kepada Sultan Hamengku Buwono I. Kyai Fakih menyarankan agar Sultan melantik orang-orang yang dapat menuntun akhlak, yang kemudian diberi tanah perdikan (dibebaskan dari pajak) dan di masing-masing tanah itu didirikan masjid sebagai penanda pathok negoro. Maka, dibangunlah masjid di tempat Kyai Fakih bermukim, yakni di Wonokromo yang terletak di tepi muara Sungai Opak dan Sungai Oya.

Masjid sederhana itu diberi nama Wa Ana Karoma yang maksudnya “supaya benar-benar mulia”. Nama masjid ini kemudian diganti menjadi Masjid Taqwa. Bentuk ba­ngunan asli masjid ini bertahan sampai tahun 1867 di mana ada sedikit perubahan pada atap dan dindingnya. Perombakan untuk memperluas kompleks masjid dilakukan beberapa kali, yakni pada tahun 1913, 1958, 1976, 1986, dan 2003. Pada masa revolusi fisik, masjid ini berfungsi sebagai basis pertahanan tentara RI bersama masyarakat untuk melawan agresi Belanda.

Identitas Kesultanan Islam

Secara fisik, sekilas Masjid Pathok Negoro terkesan tidak ada bedanya dengan masjid kuno di Jogja pada umumnya. Akan tetapi, nilai historis, sosiologis, dan filosofis masjid tersebut menjadikannya istimewa.  Secara filosofis, Masjid Pathok Negoro menjadi penanda bahwa wilayah yang dilingkupinya adalah wilayah Kesultanan Islam.

Masjid ini menandakan bahwa bahkan batas terluar dari sentrum kekuasaannya adalah simbol Islam. Tidak hanya sebatas simbol yang beku, tetapi simbol yang aktif. Masjid adalah pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Masjid-masjid Pathok Negara ini menganyam simpul kekuatan Islam, menjaga masyarakat terdepan yang berhadapan dengan Nagari Manca, dan membangun masyarakat yang islami.

Menariknya, sebagaimana layaknya masjid di Jawa, masjid ini dihidupi dengan spirit Islam-Jawa, bukan Islam ala Timur Tengah. Arsitekturnya adalah khas bangunan Jawa dengan bangunan dasar rumah joglo dan atap tumpang. Atap tumpang yang digunakan berlapis dua, setingkat lebih rendah dibanding Masjid Gedhe Kauman. Masjid-masjid tersebut, pada mulanya dikelilingi oleh kolam yang berfungsi sebagai tempat bersuci para jamaah. Kolam ini masih tersisa di masjid Plosokuning.

Kegiatan yang memakmurkannya juga kegiatan sosial keagamaan khas Jogja. Secara sosiologis, titik-titik simpul Masjid Pathok Negara ini menjalin interaksi sosial yang berwawasan keagamaan, sekaligus politis. Bersifat politis karena batas yang berupa masjid ini membangun identitas politik bagi warga yang menghidupi dan beraktifitas di masjid tersebut, bahwa mereka adalah warga Kesultanan yang juga sekaligus seorang muslim.

Secara historis, Masjid ini menandakan bahwa Islam yang masuk di Indonesia bukanlah Islam Arab, melainkan Islam yang sudah berinteraksi dan membentuk karakter khas Islam-Jawa. Bahwa dalam catatan sejarah, Kesultanan Yogyakarta adalah bagian penting dari sejarah panjang Islam dan kekuatannya di Nusantara. (Anas &Rokhim)