Budaya

Mapati dan Mitoni, Tradisi Mendoakan Anak Sejak dalam Kandungan

Cr_ZGtPVYAAzmBa

Setiap orang tua pasti menginginkan putra-putrinya menjadi pribadi yang memiliki akhlak mulia. Karena itu, orang tua akan berupaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan hal tersebut. Dalam masyarakat muslim Jawa, upaya untuk mendapatkan anak yang berakhlak mulia dilakukan sejak si anak masih dalam kandungan. Tradisi mapati dan mitoni adalah salah satu dari sekian amaliyah yang dilakukan.

Mapati adalah mendoakan bayi yang berusia empat bulan kandungan, sedang mitoni adalah mendoakan bayi yang berusia tujuh bulan kandungan. Dalam tradisi ini, keluarga yang berhajat akan mengundang seorang tokoh agama dan para tetangga untuk mendoakan janin yang masih dalam kandungan. Mereka berkumpul, membaca Al-Qur’an, lalu dilanjutkan dengan bacaan tahlil atau yang lain. Surat yang dibaca pada umumnya adalah Surat Yusuf dan Surat Maryam, selain juga surat-surat yang lain.

Pemilihan kedua surat ini memiliki nilai filosofis. Surat Yusuf dibaca dengan harapan jika nantinya anak yang lahir adalah laki-laki, semoga menjadi anak yang tampan dan soleh seperti Nabi Yusuf as. Sedangkan Surat Maryam dibaca dengan harapan jika si anak lahir perempuan semoga menjadi anak yang cantik dan solehah seperti Siti Maryam, ibunda Nabi Isa as.

Setelah pembacaan Al-Qur’an dan dzikir selesai, pihak keluarga menghidangkan sedekah kepada para tamu, juga untuk para tetangga. Dengan harapan sedekah tersebut menjadi wasilah agar proses persalinannya lancar dan bayinya selamat. (An)