Kiai Hasyim Kiai Kholil
Sejarah

Makna Tongkat dan Tasbih dari Syaikhona Kholil Kepada KH Hasyim Asy’ari

Suatu hari di tahun 1924 KHR As’ad Syamsul Arifin dipanggil Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan; “As’ad, kesini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim”.

“Ini (tongkat) kasihkan ya”, kata Syaikhona Kholil lantas membaca QS. Thaha ayat 17-21:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

Artinya: “Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

Sampai di Tebuireng, Kiai Hasyim bertanya: “Siapa ini?”

“As’ad Kiai, saya disuruh Kiai Kholil untuk mengantar tongkat.”

“Tongkat apa?”

“Ini, Kiai.”

“Sebentar, sebentar…” Tongkat ini tidak langsung diambil Kiai Hasyim, tapi ditanya dulu mengapa Kiai Kholil memberi tongkat,“Bagaimana ceritanya?” .

Kiai As’ad lantas menyampaikan pesan dengan membacakan QS. Thaha ayat 17-21 tersebut.

“Alhamdulillah, nak, saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kiai Kholil kepada saya.”

Saat Kiai As’ad pamit pulang, “Ya, mari. Haturkan sama Kiai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

Tahun 1924 akhir, Kiai As’ad dipanggil lagi oleh Kiai Kholil: “As’ad, kesini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

“Tidak, Kiai.”

“Ini tasbih antarkan.”

“Ya, Kiai.”

Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Yaa Jabbar, Yaa Jabbar, Yaa Jabbar. Yaa Qohhar, Yaa Qohhar, Yaa Qohhar.” Jadi Yaa Jabbar satu kali putaran tasbih. Yaa Qohhar satu kali putaran tasbih. . Kiai As’ad disuruh dzikir.

“Ini”

Kiai As’ad menengadahkan lehernya. “Kok leher?”

“Ya, Kiai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

“Ya, kalau begitu.”

Sesampai di Tebuireng, Kiai Hasyim bertanya: “Apa itu?”

“Tasbih.”

“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

“Ini, Kiai,” Kata Kiai As’ad sambil menjulurkan leher.

“Lho?”

“Ini, Kiai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kiai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik anda.”

Kemudian diambil oleh Kiai Hasyim: “Apa kata Kiai Kholil?”

“Yaa Jabbar, Yaa Jabbar, Yaa Jabbar. Yaa Qohhar, Yaa Qohhar, Yaa Qohhar.”

“Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada Ulama akan hancur.” Ini dawuhnya.

Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan wafat tanggal 29 Ramadlan 1343 H, setahun sebelum Nahdlatul Ulama resmi didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926.

(red)

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement