perjuangan leiden
Pendidikan

Kisah Perjuangan Mahasiswa S3 Leiden University Bersama LKiS Yogya

Seperti kebanyakan sarjana baru, apalagi lulusan IAIN, saya dilanda kegalauan untuk menentukan langkah selanjutnya. sekolah lagi, atau bekerja. Tetap di Jogja atau pulang ke kampung halaman. Waktu itu, teknologi internet belum berkembang seperti sekarang. Handphone yang beredar juga masih “stupid phone” dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang bisa membelinya. Jadi, nyaris yang namanya informasi, seperti informasi beasiswa, hanya bisa saya akses melalui papan-papan pengumuman di kampus.

Oleh karena saya nggak punya uang dan nggak juga dapat informasi beasiswa, saya gugurkan opsi untuk sekolah S2. Selain itu, saya merasa apatis saja dengan pendidikan tinggi. Sudah-sudah, mari pulang kampung saja. Akhirnya, saya pun memutuskan pulang ke Pekalongan. Niat saya, mau belajar merias pengantin sama menjahit, meneruskan usaha jasa punya simak.

Namun tiba-tiba, “lho ngapain kamu pulang kampung, Is?” tanya Mas Nurul Huda SA mendadak. Kami tak sengaja bertemu di rumah Mas Islah Gusmian ketika saya sowan pamitan sebelum pulang kampung.

“Ngapain juga di Jogja, mas?” balas saya sambil cengengesan.

“Eman-eman. sudah nggak usah pulang, di Jogja saja. Redaksi Penerbit LKiS butuh korektor!”

Desss! ibarat pukulan, jawaban Pak Pemred ini terasa keras dan tepat sasaran. Meruntuhkan niatan saya untuk pulang ke kampung halaman.

Begitulah awal mula saya bekerja dengan LKiS, melalui penerbitan LKiS Pelangi Aksara. Saya memulai karir di penerbitan ini dari september 2002 dengan menjadi korektor. Saya bertugas mengoreksi kesalahan teknis dan sebagai proof reader. Setelah melalui masa 6 bulan percobaan saya pun menjadi karyawan tetap. Malah pernah juga saya mendapat predikat karyawan teladan karena berhasil melampaui target.

Tahun 2005, ketika saya hamil anak pertama, saya dapat promosi menjadi editor in chief Penerbit Pustaka Pesantren, dan tahun 2006 memegang Penerbit Matapena , divisi penerbitan novel pop pesantren. Sampai pada tahun 2010, saya keluar dari penerbitan untuk melanjutkan S2 di Hawaii.

Selama tujuh tahun saya belajar langsung di Penerbitan LKiS Pelangi Aksara. Dari fresh graduate S1 dan sekarang masih “terjebak” di kawah S3 (ha ha). Saya belajar membaca, mengoreksi, mengedit, menulis, dan yang paling penting adalah belajar istiqamah dan tawakkal. Sehingga saya percaya bahwa setiap orang punya rel dan waktunya masing-masing.

LKiS juga banyak membantu saya menemukan concern dan minat, memfasilitasi saya mewujudkan cita-cita menjadi penulis novel (ha ha), dan membangun fondasi yang saya pergunakan untuk tapakan langkah ke jenjang selanjutnya. Meskipun semua capaian tergantung pada inisiatif dan kerja keras yang saya usahakan, kalau nggak karena saya diminta ngelola Matapena dan komunitas santri-penulisnya, mana bisa saya keterima beasiswa Ford Foundation, bisa belajar bahasa Inggris, dan menempuh pendidikan luar negeri hingga saat ini.

Terima kasihku tak terhingga!

Selamat Ulang Tahun ke-25 LKiS. Sebagaimana buku Kiri Islam, teruslah menggerakkan tradisi, memperkenalkan perspektif, dan memperkaya wacana!

25 Agustus 2018

(Penulis: Noor Ismah (nama faceboonya: Isma Kazee), Mahasiswa S3 Jurusan Southeast Asian Studies, Leiden University)

 

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement