kiai jalil tulungagung
Hikmah

Ketika Seorang Santri Menyangsikan Kewalian Kiai Jalil Tulungagung

KH Abdul Jalil Mustaqim adalah pengasuh Pengasuh Pesantren PETA (Pesulukan Thariqoh Agung) Tulungagung. Beliau juga seorang Mursyid Thariqoh Syaziliyah yang masyhur pada jamannya. Kewalian Kiai Jalil banyak diakui para ulama’, karomahnya banyak disaksikan para santri dan masyarakat.

Salah satu santrinya adalah KH Jamaluddin Jombang. Suatu hari, Kiai Jamal bersama seorang santrinya sowan kepada Kiai Jalil Tulungagung.

“Nak, kamu saya ajak sowan kepada Romo Kiai Abdul Jalil. Beliau ini Mursyid Thariqoh Syaziliyah, beliau juga termasuk bagian dari auliya’, jadi nanti kalau di sana kamu nggak perlu banyak tanya, cukup dengarkan dawuh-dawuh kata-katanya,” kata Kiai Jamal kepada santrinya.

“Iya, kiai. Siap,” jawab kang santri.

Ketika sampai di rumah Kiai Abdul Jalil, dan sudah agak lama berbincang-bincang, pada waktu itu pula Kiai Abdul Jalil menghisap rokok tanpa henti-henti. Habis sebatang nyambung dan terus begitu sampai habis berbatang-batang.

Dalam hati, kang santri berprasangaka dan bertanya seakan tidak percaya, sangsi akan kewalian Kiai Jali.

“Katanya ini guru mursyid, seorang wali, dari awal saya bertamu sampai sekarang rokoknya kok ngebut, habis satu langsung nyulut habis lagi nyulut lagi tanpa henti. Di mana letak/ciri kewalinnya? ah, kayaknya nggak mungkin.” Demikian batin kang santri.

Bisikan hati kang santri ini langsung diketahui Kiai Jalil.

“Kiai Jamal, lebih baik merokok tapi selalu ingat Allah, daripada tidak merokok tapi suka ngurusin orang lain yang sedang menikmati rokok tapi hatinya lalai pada Allah.” Kata Kiai Jalil secara spontan.

“Injeh kyai, benar.” Jawab Kiai Jamal.

Mendengar apa yang disampaikan Kiai Abdul Jalil, kang santri itu akhirnya kaget dan terheran-heran.

“Bagaimana mungkin Kiai Abdul jalil tahu ya, padahal saya hanya berkata di dalam hati. Subhanallah, saya jadi yakin kalau Kiai Abdul Jalil ini benar-benar mursyid dan seorang wali.” Kata kang santri dalam hatinya.

Itulah para kekasih Allah. Mereka tidak bisa diukur dengan tampilan fisiknya, karena hati mereka selalu dekat kepada Allah SWT.

Kepada almarhum KH Abdul Jalil, al-Fatihah.

(amr)

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement