Ruchman Basori Ditjen Dikti Kemenag
Ruchman Basori Ditjen Dikti Kemenag
Berita

Kemenag RI Ajak Mahasiswa Tangkal Radikalisme

Berita NU, BANGKITMEDIA.COM

METRO LAMPUNG- Kampus-kampus negeri semakin rawan terkena dampak ajaran intoleransi dan radikalisme. Akibatnya kelompok-kelompok intoleran mendominasi kajian-kajian di kampus.

Demikian disampaikan oleh Ruchman Basori, Kepala Seksi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, dalam acara Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Metro Lampung, Senin (06/08/2018)

“Menguatnya ajaran intoleransi ini, bila tidak diantisipasi bisa berujung kepada ajaran radikalisme yang berbasis agama di kalangan terdidik dan kelas menengah,” terang Ruchman.

Keprihatinan Ruchman bukan tanpa data. Aktivis mahasiswa ’98 ini mengutip hasil riset BNPT pada April 2017 yang menemukan bahwa gejala radikalisme sudah mulai menyebar di kalangan mahasiswa. Survei kepada mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia, ditemukan bahwa 39% mahasiswa tertarik untuk masuk ke organisasi radikal dan mengganti ideologi negara.

Lebih lanjut, Ruchman memaparkan hasil riset Alvara tahun 2017 menyebutkan, mahasiswa yang setuju khilafah sebagai bentuk pemerintahan yang ideal di banding NKRI mencapai 17.8% dan yang siap berjihad untuk tegaknya negara Islam mencapai 23.4%.

“Untuk menangkalnya, moderasi beragama perlu menjadi arus utama di kalangan mahasiswa dan pendidik. Ruang-ruang diskusi tentang cara beragama yang moderat perlu dibuka seluas mungkin di kalangan civitas akademika,” tegasnya.

Ketua Bidang Keorganisasian DPP Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) ini mendorong para civitas akademika memanfaatkan media sosial untuk menangkal gerakan radikalisme dan intoleransi di kampus. Menurutnya, konten-konten yang mengarah ke radikalisme dan inteloransi sangat masif bertebaran di media sosial.

“Ancaman itu sudah ada dan nyata di keseharian civitas akademika di kampus dan masyarakat, dari dunia nyata sampai ke dunia maya. Mahasiswa sebagai agen perubahan perlu bergerak untuk menangkalnya, dan media sosial menjadi sarana efektif untuk mendesiminasikan paham Islam yang moderat, toleran dan damai, ” pungkas Ruchman.[rls]

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement