Ngaji

Islam Tartib

DSC_1082

KH. Henry Sutopo, santri KH Ali Maksum, tinggal di Krapyak.

Tartib artinya berurutan dan keteraturan. Yang dulu harus didahulukan dan yang belakang harus diakhirkan, tidak boleh saling mendahului atau melompat-lompat. Setiap ada kata rukun dalam kajian Islam, Itu aku fahami bahwa hal itu harus dilakukan secara tartib. Contoh rukun wudhu, rukun sholat dsb. Tidaklah SAH orang berwudhu langsung membasuh kaki. Tanpa didahului niat dan membasuh wajah, dst.

Dulu ketika belajar di pesantren, pertama kali yang diajarkan Mbah Kyai Ali adalah kitab kecil bin tipis namanya Sulam Diyaanah, yang di halaman pertama menjelaskan tentang Arkaanuddiin/Rukun Agama yang tiga: yaitu Iman, Islam dan Ikhsan. Yang ternyata setelah ngaji kitab Arba’in, sama ketika Malaikat Jibril mengajarkan Agama kepada Rasululloh SAW (hadits nomor 2).

Dalam kitab-kitab tarikh, Rasulullah SAW berdakwah dan mengajari para Sahabat mula-mula tentang keimanan yang benar. Tuhan yang benar sehingga turun Surat Al Ikhlas.. Qul huwallohu ahad. Nabi SAW tidak mengajari para Sahabat langsung Tafsir Al Qur’an, apalagi njujug/langsung ayat-ayat jihad, ayat-ayat anti Yahudi/ Nasrani dan sebagainya.

Bahkan setahuku, Nabi pun tidak langsung mengajak para sahabat untuk mujahadahan (Ikhsan).  Akupun kemudian diajari tentang rukun iman yang enam, sampai KHOMSIINA AQIIDATAN.. lima puluh Keyakinan.

Kemudian belajar tentang Islam/Fikih, urut dari Bab Thoharoh sampai klebus basah kuyub hingga Muamalah. Bahkan seingatku sampai Aliyah aku tidak banyak mendapat pelajaran tentang Ikhsan/Tasawwuf, Thoriqoh dan sebagainya kecuali dikit-dikit ngaji sendiri.

Dalam pemahamanku, rukun Islam yang limapun hendaknya dilakukan dengan tartib: Syahadat, Sholat… sampai Haji.  Jangan habis Syahadat langsung Haji, nanti ketemunya Haji ndak pernah SHOLAT!

Syahadat…. Sholat belum pernah Puasa langsung Haji, ntar ada Haji ndak pernah Puasa.
Dan yang paling banyak yaitu sudah Syahadat, Sholat, Puasa tapi belum pernah Zakat. Insyaa Alloh Hajinya SAH, tapi yang muncul HAJI PELIT.

Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar semestinya juga dilakukan dengann tartib. Amar ma’ruf dulu baru Nahi Munkar. Ajak baik dulu baru cegah kemunkaran. Jangan langsung marah… NGAMUK dan NGEBOM!…

Ibarat konstruksi bangunan masjid. Iman adalah fondasinya yang sayang tidak kelihatan.
Islam adalah tiang temboknya. Sedang Ikhsan adalah Atap Mustokonya.
Tentu fondasilah yang utama, walau tiang dan atap mustoko juga penting!

Namun kecenderungan yang terlihat, orang Islam lebih mantep dengan penampilan lahiriyah yang Islamy supaya terlihat ISLIM (saking Islamnya) harus serba Arab, mulai dari berbusana sampai asli Jawapun harus ngomong dengan bahasa Antum, Anti, Antuma, Antunna, Ana Nahnu.. Sambil ngapalin shorof!…

Ghamis, berjenggot adalah Sunnah Rosul yang tidak perlu diperdebatkan. Marilah kita amalkan.. Ada bekas sujud di wajah adalah sifat pengikut Rasululloh SAW (siimaahum fii wujuuhihim min atsarissujuud) yang kata Kyaiku tidak harus nampak secara fisik, namun apakah semua itu harus ditampakkan dan ditonjolkan?. Afwan, ana SANTRI BODOH..

Adalah kabar semoga tdk benar, orang pakai ghamis, serbanan, kemana-mana bawa tasbih, tapi kalau melihat perempuan cantik matanya ndak berkedip. Orang ngomong aasih Arabnya dan terlihat ISLIM, tapi suka nipu orang dsb. Ma’aadzallooh…

Kembali ke tartib. Mestinya orang nikah sampai punya anak. Urutannya adalah: pertama ada lamaran, kedua ijab qobul, ketiga baru HAMIL. Keempat melahirkan.

Entah sebab apa. Sekarang urutan tersebut banyak dibolak balik. Pertama HAMIL…!!!

Na’uudzubillah… YA ALLAH limpahkan MAGHFIROHMU…!!!