Kiai Ishom
Wawancara

Islam Politik Beda dengan Politik Islam!

Menghadapi tahun politik, warga nahdliyyin diharapkan bisa bersikap bijak. Panasnya suasana jangan sampai memanaskan hati dan pikiran. Untuk itu, perlu kiranya kita mencermati dengan seksama wejangan dari KH. Ahmad Ishomuddin, salah satu Rais Syuriah PBNU :

Apakah ada himbauan PBNU dalam menghadapi tahun politik ini Kiai?

Warga Nahdlatul Ulama maupun di luar Nahdlatul Ulama dalam berpolitik harus fair, dan sportif. Jangan sampai ada perpecahan, pertikaian, saling hina, apalagi pertumpahan darah, saling bermusuhan, ribut gara-gara beda pilihan. Hati-hati ya, karena rakyat Indonesia ini kan posisinya tidak menjadi pejabat. Yang menjadi pejabat ya tetap orang lain. Ngapain rakyat harus ribut-ribut. Warga NU harus menjaga ketertiban bersama.

Lalu, bagaimana menyikapi internal NU sendiri dimana sebagian ada yang double jabatan, berpolitik dan sebagainya. NU-nya juga terbawa-bawa.

Ya, ini yang seharusnya dibersihkan. Karena, ada AD ART yang seharusnya tidak boleh dilanggar. Maka, PBNU harus melakukan penelitian terhadap mereka yang melakukan double jabatan yang dilarang oleh AD ART. Apalagi ini mengganggu, mempolitisir NU untuk kepentingan partai. Itu menyempitkan tujuan NU yang luas ke dalam wilayah lorong-lorong yang sempit.

Dulu Alm. Kiai Sahal pernah mengungkapkan adanya siyasah ‘aliyah, politik yang seperti apa itu Kiai?

Politik tingkat tinggi itu mencakup politik kebangsaan, politik kerakyatan, dan politik etis, dari pada politik praktis. Bukan merendahkan politik praktis. Tetapi, harus ditempatkan pada porsinya masing-masing. Tidak diperkenankan menggunakan lambang-lambang NU untuk tujuan politik praktis.

Bagaimana dengan kelompok-kelompok yang menggunakan isu-isu agama untuk kepentingan politik?

Saya kira ulama, khususnya ulama NU, bisa berhati-hati agar agama tidak dipolitisasi. Karena sekarang ada Islam politik istilahnya. Ini berbeda dengan politik Islam. Islam politik itu mempolitisir Islam, menggunakan Islam untuk tujuan politik. Ini kan penyempitan tujuan beragama. Langkah pencapaian kemaslahatan dunia akhirat itu tidak bisa dicapai kalau Islam sekedar sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan.

Kalau politik Islam adalah politik yang di dalamnya tidak mengabaikan nilai-nilai etika keislaman dalam berpolitik. Menghormati calon lain misalnya. Menerapkan prinsip musyawarah. “wa amruhum syuura bainahum”, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Bahwa diantara mereka dalam menyelesaikan persoalan ditempuh musyawarah mufakat, dan sebagainya.

Saya kira perlu hati-hati, jangan sampai ada upaya politisasi agama. Karena ini paling rentan untuk timbulnya pecah belah. Sensitif kan? Sifat agama yang sangat sensitif. Jadi jangan ada politisasi agama.

Karena kita majemuk ya Kiai?

Iya, majemuk. Ya orang Islam silahkanlah bersaing secara sehat dengan mereka. Dengan sesama muslim boleh, dengan non muslim juga boleh. Non muslim itu juga memiliki hak politik yang orang Islam tidak boleh menghalangi mereka.

Ini berbeda dengan persoalan pilihan. Dipersilahkan orang Islam untuk memilih sesuai dengan kecenderungannya. Tentu dengan objektif. Misalnya, para calon harus adu mutu pada visi misi dan pencarian solusi atas masalah-masalah yang terjadi di daerahnya masing-masing. Itu lebih netral. Tidak karena persoalan primordial, tidak karena persoalan agama.

Yang penting mutu pemimpin itu menurut saya. Yakni bagaimana pemimpin yang memiliki visi kerakyatan, yang merakyat, memiliki perhatian kepada rakyat dan memiliki tujuan menyejahterakan rakyat. Itu yang paling penting. Siapa pun orangnya, apa pun agamanya.

Kalau melihat sisi-sisi ke-Islamannya, boleh kan Kiai?

Ya boleh dong. Orang Islam memilih orang Islam seperti orang Nasrani memilih orang Nasrani. Tidak ada masalah. Itu kan kebebasan memilih. Yang saya maksud dilarang itu adalah menghalangi hak politik warga negara Indonesia yang lain. Muslim menghalangi non muslim maju. Meskipun dengan dalil-dalil agama. Itu namanya mempolitisir agama.

Seperti menggunakan Al Maidah ayat 51, ayat ini sebetulnya tidak ada kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Turunnya ayat 51 surat al Maidah itu juga tidak ada sama sekali hubungannya dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta dan lain-lain.

Itu kerja sama antara  Yahudi dengan Yahudi, Nasrani dengan Nasrani di dalam memusuhi 3 hal. Yakni memusuhi Rasulullah sebagai utusan Allah, memusuhi ajarannya, dan memusuhi orang-orang yang mengikuti Rasulullah. Oleh karena dimusuhi mereka, orang Islam tidak diperkenankan untuk berteman setia. Tolong menolong diantara mereka. Lha wong sedang perang kok berakrab-akraban dengan musuh. Dikhawatirkan kedekatan yang sangat itu menyebabkan rahasia-rahasia orang Islam dibocorkan. Maka tidak diperkenankan berteman setia.

Jadi, konteksnya harus diperhatikan. Jangan membawa ayat-ayat perang ke dalam situasi-situasi yang damai.

Memang ayat itu grand desain-nya perang ya Kiai?

Ya iya dong. Ya karena ajaran baru kan mendapat tantangan. Dan dalam sejarah Islam jelas Rasulullah dimusuhi oleh tokoh-tokoh Yahudi maupun tokoh-tokoh Nasrani. Nah, Indonesia ini tidak berada dalam situasi perang, Indonesia ini adalah negara yang damai. Oleh karena itu, keamanan harus didahulukan atas keimanan. Karena keamanan itu adalah merupakan kepentingan umum, kemaslahatan bersama. Sedangkan keimanan itu urusan individu. Dasarnya banyak sekali dalam ayat-ayat Quran maupun hadis-hadis Nabi. (Anas)

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement