Pendidikan

Indonesia ini Bangsa yang Besar

Cungki Kusdarjito - Copy

Nilai-nilai kebangsaan merupakan sarana perekat persatuan dan kesatuan. Hari ini, nilai-nilai kebangsaan tersebut seakan pudar sehingga mulai nampak bibit-bibit disharmoni antar sesama anak bangsa. Tuduhan tidak mendasar, saling fitnah, benturan kepentingan, menjadi pemandangan yang tidak asing dalam kehidupan bernegara. Jika dibiarkan terus-menerus, tentu kebangsaan kita akan terkoyak oleh sekat perpecahan. Bagaimana upaya menjaga harmoni kebangsaan tersebut? Berikut redaksi paparkan pandangan dari Ir. Cungki Kusdarjito, MP, Ph.D, Rektor Universitas Janabadra, Yogyakarta:

Situasi kebangsaan kita akhir-akhir ini nampaknya kehilangan stabilitas, terjadi carut-marut, saling fitnah sesama anak bangsa. Apa problem yang mendasari hal tersebut?  

Saya melihat ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, masalah pendidikan.Pendidikan kita mengacu ke pola pendidikan Barat yang pendekatannya adalah benar salah, hitam putih, dan bersifat individualis. Berbeda dengan pola pendidikan timur yang lebih menekankan kepada sisi kebersamaan atau komunitas daripada sisi individu. Nah, karena memakai pola barat, maka pendidikan kita sekarang lebih mengarah ke dikotomis dan menciptakan generasi penerus yang terkesan individualis, sehingga gampang disekat-sekat.

Kedua, terkait juga dengan perkembangan teknologi yang kadang anonim, sehingga orang bebas berbicara. Sekarang ada informasi sedikit saja bisa di-share kemana-mana,  tanpa mengecek dulu kebenaran informasi tersebut, tanpa juga mengetahui bagaimana kronologisnya. Sekarang juga muncul tren membuat meme. Biasanya langsung di-forward kemana-mana, tanpa kita tahu kebenarannya. Nah, dalam perkembangan teknologi ini kita tidak cukup waktu untuk mencerna sehingga langsung bereaksi,hanya melihat fakta-fakta pendek saja, tetapi tidak melihat penyebabnya. Apalagi kalau fakta tersebut dibikin logic, rasional, pasti orang akan percaya. Ini karena pengaruh pendidikan barat tadi.

Kemudian yang satu lagi adalah social network-nya, kondisinya, sekarang sedang dikoyak. Para pendiri bangsa kita sudah menyatukan perbedaan-perbedaan. Nah, sekarang ada upaya untuk memutus persatuan tersebut, cuma kita belum tahu siapa yang punya agenda di belakangnya.

 

Bagaimana untuk menstabilkan kembali kondisi kebangsaan kita yang mulai terkoyak?

Pemahaman tentang inklusifitas harus ditumbuhkan lagi, karena kecenderungan sekarang ini masyarakat menjadi eksklusif. Inklusifitas bisa dibangun dengan beberapa cara, bisa melalui pendidikan, atau melalui isu bersama untuk menumbuhkan kesadaran komunal kebangsaan. Dulu di tahun1945 kebhinekaan bisa disatukan karena kita punya isu bersama yakni menghadapi penjajahan. Sekarang ini harus kita bangun doktrin bahwa bangsa kita harus menjadi bangsa besar, dan ini harus selalu dimunculkan. Dan memang bangsa kita ini bangsa yang besar, tapi masih belum sadar diri.

Seperti di Cina, saya pernah waktu sekolah bertemu dengan mahasiswa dari China, dia selalu mengatakan bahwa “Cina is a greatcountry,”padahal pada waktu itu di tahun  90-an Cina lebih miskin dari kita. Terlepas itu merupakan doktrinasi, tetapi mereka selalu menggunakan jargon  tersebut dan terbukti mampu membawa perubahan besar. Jadi, harus ada satu isu besar lagi untuk membangun kesadaran kebangsaan. Jika dulu kita bersama-sama melawan penjajah, sekarang kan kita melawan hegemoni negara-negara maju, ada ancaman dari negara lain, dan sebagainya. Ini yang akan mempersatukan kembali kebangsaan kita.

 

Kalau dalam konteks Yogya, bagaimana Bapak melihat keharmonisan di kota budaya tersebut hari ini?

Saya lihat di Yogya juga mulai muncul gep-gep tertentu,tapi tidak seekstrim di tempat lain. Ini karena pola pemukiman kampung masih terjaga sehingga kebhinekaan relatif kondusif, komunikasi komunal juga berjalan lebih baik daripada di rusun. Jogja juga terkenal dengan sosiopreneurship-nya, kalau tempat lain kan bener-bener mencari keuntungan ekonomis.Pola-pola ini yang nantinyabisa dipakai pemerintah membangkitkan velue lokal di kota lain. Apalagi sebenarnyaPancasila digali dari sini juga, namun itu terlupakan karena kita terlalu berfikir teknis. (Yayan/Anas)