Sains

Ikut Kontes Robot Internasional, Seorang Santri Sabet Gelar Juara

malik-khidir-menerima-penghargaan-dari-rektor-ugmIkut perlombaan ditingkat Internasional merupakan hal yang membanggakan. Apalagi sampai meraih juara pertama. Malik Khidir (23) sosok muda yang inspiratif berhasil memenangkan kontes robot Internasional. Bersama beberapa temannya berhasil meraih 2 emas dan 1 perak di RoboGames 2013 Olympics of Robots, di San Mateo, California, Amerika Serikat.

Santri juga bisa bersaing dengan yang lain. Setidaknya kalimat itu yang tepat ditujukkan kepadanya. Dibalik itu pria kelahiran Tegal ini adalah santri tulen. “Dari kecil saya sudah hidup di pesantren. Karena orang tua saya memasukkan saya ke pesantren sejak sekolah dasar.” tutur Khidir yang juga sedang nyatri di Pesantren Al-Barokah ketika diwawancarai bangkit media beberapa waktu lalu.

Sejak SMP hingga SMA, putra asli Tegal ini juga mengaku hanya fokus di dunia pesantren. Setelah lulus SMA, dirinya memutuskan untuk melanjutkan studi di UGM. Di sana Khidir kerap diundang untuk mengisi pengajian, terutama di KMNU.

Awal mula bersentuhan dengan dunia robot ketika mulai duduk di bangku kuliah. “Saya terapkan ilmunya, ternyata passion saya di situ. Saya kuat dua hari enggak tidur, waktu mau berangkat ke Amerika saya 7 hari nggak mandi. Dua tahun saya susun algoritmanya, ada sekitar 4.000 baris,” kata pria yang memiliki hobi membaca Alqur’an ini.

Ketertarikan dan keuletannya membawa Khidir dan timnya meraih juara 1 dalam Kontes Robot Nasional 2012 divisi Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) di Bandung padatahun 2012 lalu. Dengan kemenangan tersebut maka mereka mewakili Indonesia pada kompetisi Trinity College Firefighting Home Robot Contest (TCFFHRC) di AS.

“Awalnya, saya bersama beberapa teman mengikuti lomba robotik di ITB. Perlombaan robot kampus se-Indonesia. Kami menjadi pemenangnya. Kemudian kami ikut perlombaan di Amerika. Kami satu-satunya yang mewakili Indonesia dalam perlombaan itu,” ujar mahasiswa jurusan Elektronik Instrumentasi Fak MIPA UGM ini..

Saat ini, dia sudah membuat 8 robot dengan model yang berbeda. Sedangkan total medali yang pernah diraupnya ada 7, baik dari kontes nasional maupun internasional. Diakui Malik, untuk membuat robot berkibar di Amerika tidak mudah. “Setidaknya selama dua tahun, harus mengurangi jatah tidur untuk mengutak-atik rangkaian robot. Dua tahun kerja, Alhamdulillah ada hasilya,”kata pria kelahiran 23 November 1991 ini.

“Memang kita harus pintar-pintar membagi waktu. Setiap setelah magrib di pesantren ada pengajian sampai jam sembilan. Setelah itu baru saya mengembangkan robot yang saya buat sampai jam tiga pagi. Jadi, kalau waktu ada perkuliahan saya tidur di kelas,” lanjutnya.

Dia mengaku pernah dapat IP 1,6 karena saat kuliah sering tidur di kelas. Tapi dirinya tidak menyesal nilainya rendah setelah pulang dari Amerika. “Saya tidak menyesal. Karena saya sudah berkontribusi membawa nama Indonesia, membawa nama NU dan membawa nama santri ke kancah Internasional,” tegasnya.

Bagi Khidir  buat apa nilai tinggi tapi tidak bisa memberikan kontribusi untuk orang lain. “Prinsip saya, yang terpenting adalah kita mahir (profesional) di bidang yang kita kuasai.Dan berkontribusi untuk masyarakat dengan ilmu yang kita miliki itu,“ pesannya.

Khidir pernah mendapatkan medali 8 kali. Tahun 2012, ia pernah meraih Gold Medal Kontes Robot Cerdas Indonesia Divisi Berkaki Tingkat Nasional, Medali Perak Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional. Sedangkan tahun 2013, ia pernah mendapatkan Gold Medal Trinity College Fire Fiighting and Home Robot Contest 2013 Hartford Connecticut USA, Gold Medal Fire Fighting Robogames 2013, California USA, Gold Medal NatCar Robogames 2013, California USA, Siver Medal Balancer Robot Robogames 2013, California USA,Medali Perak Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional 2013, Mahasiswa Berprestasi Fakultas MIPA UGM 2012/ 2013. (Suhendra)

Tambah komentar

Klik untuk komentar